PPGKEMENAG.ID — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi total delapan kasus hantavirus terkait klaster kapal pesiar MV Hondius, termasuk penemuan pasien baru di Swiss. Pembaruan data pada Rabu (6/5/2026) ini juga mengungkap tiga kasus kematian yang telah dilaporkan saat kapal berlayar melintasi Samudra Atlantik.
Infeksi mematikan ini diidentifikasi sebagai hantavirus galur Andes, yang berasal dari Amerika Selatan. Hasil pengujian laboratorium di Afrika Selatan dan Swiss mengonfirmasi keberadaan varian langka ini, satu-satunya galur hantavirus yang memiliki rekam jejak penularan antarmanusia secara terbatas.
“Otoritas Swiss telah mengonfirmasi kasus hantavirus yang diidentifikasi pada seorang penumpang dari kapal pesiar MV Hondius yang datang ke rumah sakit di Zurich. Pasien tersebut saat ini menerima perawatan di sebuah rumah sakit di Zurich, Swiss,” ujar Kepala Badan Kesehatan PBB Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Pasien terbaru di Zurich itu mendatangi fasilitas kesehatan setelah merespons surel pemberitahuan darurat yang dikirimkan oleh pihak operator kapal pesiar kepada seluruh penumpangnya.
Rincian Kasus dan Penanganan
Kronologi Kematian Akibat Hantavirus
Sejak MV Hondius bertolak dari Argentina sekitar sebulan yang lalu, tiga penumpang telah meninggal dunia akibat hantavirus, mengutip laporan Al Jazeera. Korban jiwa pertama adalah seorang pria yang mulai menunjukkan gejala pada tanggal 6 April dan meninggal lima hari kemudian tanpa sempat menjalani uji sampel.
Istri dari pria tersebut menjadi korban kedua setelah turun di wilayah Saint Helena. Ia mengalami gejala klinis dan meninggal pada tanggal 25 April. Korban ketiga adalah seorang perempuan asal Jerman yang merasakan gejala pada hari yang sama dengan korban kedua, namun mengembuskan napas terakhir tujuh hari berselang, tepatnya pada tanggal 2 Mei.
Jenazah penumpang perempuan tersebut dipastikan akan tetap berada di dalam kapal hingga tiba di Kepulauan Canaria, Spanyol. Keputusan ini diambil setelah otoritas setempat di Tanjung Verde menyatakan ketidaksanggupan mereka untuk melakukan proses kremasi.
Evakuasi Medis Penumpang
Selain korban jiwa, tiga orang penumpang juga telah dievakuasi. Mereka terdiri dari pria asal Inggris berusia 56 tahun, awak kapal asal Belanda berusia 41 tahun, dan warga negara Jerman berusia 65 tahun. Pihak operator kapal, Oceanwide Expeditions, mengonfirmasi bahwa dua di antaranya berhasil dipindahkan ke rumah sakit di Amsterdam dan mulai menunjukkan gejala.
Sementara itu, satu orang yang belum menunjukkan gejala, meskipun memiliki riwayat kontak erat dengan korban ketiga, masih tertahan di pesawat evakuasi yang mengalami penundaan.
Riwayat Perjalanan dan Masa Inkubasi
Dua korban jiwa pertama diketahui sempat melakukan wisata pengamatan burung liar di Cile, Argentina, dan Uruguay, sebelum menaiki kapal pesiar. Rute pelesiran tersebut mencakup kunjungan ke berbagai lokasi habitat alami tikus pembawa hantavirus.
Sebagai langkah penanganan, pemerintah Argentina menyelidiki riwayat pergerakan pasangan tersebut dan mendistribusikan 2.500 alat uji diagnostik medis ke laboratorium di lima negara. WHO turut mengeluarkan peringatan resmi kepada 12 negara yang warganya turun dari kapal pesiar di wilayah Saint Helena.
“Mengingat masa inkubasi hantavirus, yang bisa mencapai enam minggu, ada kemungkinan lebih banyak kasus akan dilaporkan,” kata Ghebreyesus.
Isolasi Mandiri dan Pelacakan Kontak
Di belahan dunia lain, dua warga negara Inggris sedang menjalani isolasi mandiri di rumah akibat potensi paparan hantavirus. Kedua orang tersebut turun di Saint Helena antara tanggal 22 dan 24 April, kemudian terbang kembali ke Inggris melalui Johannesburg.
Badan Keamanan Kesehatan Inggris menyebut, kedua penumpang itu tidak menunjukkan gejala dan berinisiatif menghubungi otoritas kesehatan setelah mengetahui kabar soal hantavirus di MV Hondius. Pelacakan kontak terhadap orang-orang yang berinteraksi dengan mereka selama perjalanan pulang sedang dilakukan, dengan tingkat risiko terhadap masyarakat luas dinilai sangat rendah.
Pemantauan di Amerika Serikat dan Afrika Selatan
Pengawasan medis yang ketat juga berlangsung di Amerika Serikat dan Afrika Selatan. Otoritas kesehatan di tiga negara bagian Amerika Serikat mulai memantau kemungkinan paparan hantavirus pada warganya, meskipun belum ada laporan infeksi secara resmi.
Di Afrika Selatan, petugas kesehatan bergerak cepat melacak puluhan orang yang berpotensi memiliki riwayat kontak erat. Pelacakan ini dipicu oleh aktivitas dua wisatawan yang sempat turun di dua pulau terpisah sebelum terbang memasuki Afrika Selatan.
Pejabat kesehatan setempat menetapkan 62 target pelacakan, yang mencakup penumpang maskapai, staf bandara, tenaga kesehatan, petugas kebersihan, hingga penjaga perbatasan. Sejauh ini, 42 orang berhasil dilacak dengan hasil tes negatif hantavirus, tetapi sebagian target tersisa dikhawatirkan telah bepergian melintasi batas negara.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
