PPGKEMENAG.ID — Wabah hantavirus yang dikaitkan dengan kasus infeksi hingga kematian di kapal pesiar MV Hondius kini menjadi sorotan global. Penyakit zoonosis yang dapat menyebabkan gangguan paru berat dan berisiko fatal ini memicu perhatian dunia.
Meski demikian, risiko hantavirus untuk berkembang menjadi pandemi global seperti Covid-19 dinilai masih sangat kecil. Epidemiolog dari Griffith University, Dr. Dicky Budiman, PhD, menyatakan bahwa secara umum penularan hantavirus sangat berbeda dan tidak semudah Covid-19.
“Tapi secara umum penularan hantavirus itu berbeda jauh dengan COVID-19. Tidak semudah COVID-19,” kata Dr. Dicky, Kamis (7/5/2026).
Berikut adalah lima fakta penting mengenai hantavirus yang perlu diketahui masyarakat:
1. Hantavirus Disebabkan oleh Virus dari Hewan Pengerat
Hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis, yang berarti dapat menular dari hewan ke manusia. Reservoir utamanya berasal dari hewan pengerat, khususnya tikus liar.
Menurut Dr. Dicky, virus ini pertama kali ditemukan di Korea Selatan pada tahun 1976 dan diberi nama sesuai dengan Sungai Hantan.
Penularan ke manusia paling sering terjadi ketika seseorang menghirup partikel udara atau aerosol yang terkontaminasi urin, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Selain itu, kontak langsung dengan permukaan yang terkontaminasi juga dapat menjadi jalur penularan, meskipun kasus akibat gigitan tikus relatif lebih jarang.
“Nah, kalau di Indonesia juga ditemukan di tikus got atau tikus rumah, yang paling rawan di wilayah pelabuhan dan area dengan sanitasi buruk,” jelas Dr. Dicky.
2. Sebagian Besar Hantavirus Tidak Menular Antarmanusia
Dr. Dicky menjelaskan bahwa hantavirus secara umum berbeda dengan Covid-19 karena tidak mudah menular dari manusia ke manusia. Mayoritas kasus hantavirus terjadi akibat paparan lingkungan yang sudah tercemar oleh tikus terinfeksi, bukan karena kontak langsung dengan pasien.
“Penularan ke manusia itu paling sering terjadi malah karena si manusia ini menghirup partikel udara (aerosol) yang berasal dari urin, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi hantavirus dan sudah bercampur dengan debu di udara,” terangnya.
Meskipun demikian, investigasi terkait kasus kapal pesiar MV Hondius masih berlangsung untuk memastikan kemungkinan keterlibatan strain Andes. Strain langka ini pernah terbukti dapat menular antarmanusia dalam kontak yang sangat dekat dan terbatas. Namun, kemampuan penularannya tetap jauh lebih rendah dibandingkan virus pernapasan lain seperti SARS-CoV-2 atau influenza.
3. Kasus Kapal Pesiar MV Hondius Jadi Sorotan Dunia
Wabah hantavirus yang dikaitkan dengan kapal pesiar MV Hondius kini menjadi fokus perhatian internasional. Para penumpang diketahui telah turun dari kapal pesiar MV Hondius sebelum kasus pertama hantavirus teridentifikasi di kapal tersebut, pada Jumat (8/6/2026).
Otoritas kesehatan di sejumlah negara saat ini berupaya melacak orang-orang yang sempat melakukan kontak dengan para penumpang setelah pelayaran berakhir.
Kematian pertama terkait wabah di MV Hondius dilaporkan terjadi pada 11 April 2026, menimpa seorang penumpang pria asal Belanda berusia 70 tahun. Kasus ini menjadi sorotan karena adanya dugaan keterlibatan strain Andes yang langka. Meskipun begitu, para ahli menilai risiko wabah ini berkembang menjadi pandemi global masih sangat kecil.
4. Gejala dan Cara Mencegah Hantavirus
Pada tahap awal, gejala hantavirus umumnya menyerupai infeksi virus biasa, meliputi demam, nyeri otot, lemas, mual, dan sakit kepala. Namun, dalam beberapa hari, kondisi pasien dapat berkembang menjadi sesak napas berat akibat paru-paru dipenuhi cairan.
Secara medis, kondisi ini menyerupai acute respiratory distress syndrome (ARDS), yaitu gangguan paru serius yang menyebabkan kadar oksigen tubuh turun drastis. Menurut Dr. Dicky, tingkat kematian pada kasus berat dapat mencapai sekitar 40 persen, terutama jika diagnosis terlambat atau fasilitas ICU terbatas.
Untuk mencegah penularan, masyarakat disarankan untuk menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus di rumah, serta menghindari kontak langsung dengan kotoran tikus. Penggunaan masker dan sarung tangan saat membersihkan area berdebu atau kotor juga dianjurkan, khususnya di wilayah rawan banjir dan sanitasi buruk.
5. Risiko Penularan di Indonesia Masih Rendah
Dr. Dicky menilai risiko hantavirus bagi masyarakat Indonesia saat ini masih tergolong rendah. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan karena Indonesia memiliki beberapa faktor risiko yang mendukung, seperti populasi tikus yang tinggi, banjir musiman, sanitasi perkotaan, serta kepadatan pelabuhan dan pergudangan.
Kelompok yang dinilai lebih rentan antara lain petugas kebersihan, pekerja gudang, pekerja pelabuhan, petani, dan masyarakat yang sering terpapar lingkungan kotor. Selain itu, hantavirus juga berpotensi sulit terdeteksi karena gejalanya mirip dengan penyakit lain seperti leptospirosis, demam berdarah dengue, atau pneumonia berat.
Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tetap waspada tanpa panik dan mengandalkan informasi dari sumber yang kredibel terkait perkembangan hantavirus.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
