PPGKEMENAG.ID — Hantavirus menjadi perhatian global setelah merebak di kapal pesiar MV Hondius pada awal April 2026, saat berlayar di perairan Afrika Barat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan tiga penumpang meninggal dunia, sementara sejumlah lainnya menunjukkan gejala sehingga memerlukan tindakan isolasi. Kondisi ini membangkitkan kekhawatiran publik akan potensi penularan virus yang cepat, serupa dengan pandemi Covid-19.
Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair), Laura Navika Yamani S.Si., M.Si., PhD, menjelaskan bahwa hantavirus umumnya tidak muncul secara tiba-tiba di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar. Ia menduga paparan awal virus ini kemungkinan terjadi sebelum perjalanan atau ketika individu berada di wilayah dengan reservoir hewan pengerat.
“Masa inkubasi hantavirus dapat berlangsung beberapa minggu. Sehingga kasus baru dapat muncul ketika individu sudah berpindah lokasi,” jelas Laura, dikutip dari situs Unair, Sabtu (9/5/2026).
Lebih lanjut, mobilitas lintas negara dalam perjalanan laut berpotensi memperluas penyebaran kasus, mempersulit penelusuran lokasi infeksi awal.
Pola Penularan
Laura menambahkan, faktor lingkungan seperti perubahan iklim dan pergeseran habitat hewan turut memengaruhi penyebaran penyakit. Aktivitas manusia di wilayah baru dan peningkatan ekowisata juga memperbesar peluang kontak dengan sumber zoonosis yang sebelumnya terbatas pada habitat tertentu.
“Aktivitas manusia di wilayah baru dan meningkatnya ekowisata memperbesar peluang kontak dengan sumber zoonosis yang sebelumnya terbatas di habitat tertentu,” ujarnya.
Hantavirus menular melalui paparan partikel yang berasal dari urin, feses, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Penularan tidak selalu melalui kontak langsung; inhalasi partikel yang terkontaminasi juga dapat menyebabkan infeksi. Oleh karena itu, aktivitas di lingkungan dengan populasi hewan pengerat tinggi berisiko meningkatkan penularan.
Sebagian besar hantavirus tidak menunjukkan proses penularan antarmanusia. Namun, beberapa strain tertentu, seperti Andes virus, memiliki kemampuan terbatas untuk menular dari satu manusia ke manusia lain. Menurut Laura, investigasi epidemiologi dan analisis genomik menjadi langkah penting untuk memastikan pola penularan virus ini.
Gejala Awal dan Penanganan Pertama
Laura menjelaskan, gejala awal hantavirus tidak spesifik, namun umumnya meliputi demam, kelelahan, dan gangguan gastrointestinal. Gejala ini dapat berkembang cepat menjadi pneumonia berat, kemudian berlanjut ke kondisi Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) hingga syok. Pasien yang sudah memasuki fase ini membutuhkan penanganan intensif di fasilitas kesehatan.
Infeksi berat hantavirus, yang dikenal sebagai Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), memiliki tingkat fatalitas yang cukup tinggi.
“Pada kasus HPS, tingkat fatalitas dapat mencapai 30–50 persen. Terutama jika penanganan tidak dilakukan secara cepat,” ujar Sekretaris Lembaga Penyakit Tropis (LPT) Unair itu.
Ia menyarankan penerapan pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Laura menekankan pentingnya penguatan sanitasi, pemantauan gejala, dan komunikasi risiko yang efektif untuk mencegah penyebaran.
Dalam era mobilitas global yang semakin tinggi, kesiapsiagaan sistem kesehatan dan deteksi dini sangat diperlukan demi mencegah kenaikan kasus serupa di masa depan. Oleh karena itu, implementasi deteksi awal dan penguatan sistem surveilans kesehatan, termasuk surveilans genomik untuk memahami pola penyebaran virus, menjadi sangat krusial.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
