— Dua warga negara Singapura yang sempat menumpangi kapal pesiar MV Hondius, lokasi merebaknya wabah Hantavirus, dilaporkan telah dinyatakan negatif dari infeksi virus tersebut.

Badan Penyakit Menular Singapura (CDA) mengonfirmasi bahwa kedua pria tersebut, masing-masing berusia 67 tahun (warga negara Singapura) dan 65 tahun (penduduk tetap Singapura), turun dari kapal sebelum wabah Hantavirus strain Andes terdeteksi. Mereka tiba di Singapura pada 2 Mei 2026 dan 6 Mei 2026.

Kedua pria itu berada di atas MV Hondius saat kapal berlayar dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026. Wabah Hantavirus strain Andes kemudian dilaporkan saat kapal melintasi perairan Samudra Atlantik.

Mereka termasuk di antara puluhan penumpang yang turun dari kapal di Pulau Saint Helena pada 24 April 2026. Sehari kemudian, pada 25 April 2026, keduanya melanjutkan perjalanan udara dari Saint Helena menuju Johannesburg, Afrika Selatan.

Dalam penerbangan yang sama, seorang perempuan dilaporkan meninggal dunia dan kemudian terkonfirmasi terinfeksi Hantavirus, menambah kekhawatiran akan penyebaran virus.

Hasil Tes Hantavirus Dua Warga Singapura

CDA mengumumkan bahwa hasil tes Hantavirus terhadap dua warga Singapura yang sempat naik MV Hondius menunjukkan negatif. Sebelumnya, setibanya di Singapura, kedua pria tersebut langsung diisolasi di Pusat Nasional untuk Penyakit Menular (NCID) sebagai langkah pencegahan.

Meskipun hasil tes awal negatif, mereka akan tetap menjalani karantina selama 30 hari, terhitung sejak tanggal paparan terakhir. Setelah masa karantina usai, pengujian infeksi akan dilakukan kembali sebelum mereka diizinkan bebas.

Selanjutnya, kedua warga akan menjalani pemantauan melalui telepon selama sisa periode pemantauan 45 hari sejak tanggal paparan terakhir. Rentang waktu ini ditetapkan sebagai masa inkubasi maksimum untuk paparan Hantavirus.

“Risiko bagi masyarakat umum di Singapura tetap rendah,” terang CDA, Jumat (8/5/2026).

CDA menegaskan akan terus memantau situasi dengan cermat. Mereka juga menyatakan kesiapan untuk memperketat langkah-langkah kesehatan masyarakat jika informasi terbaru mengindikasikan peningkatan risiko kesehatan publik di Singapura.

Gejala infeksi Hantavirus meliputi demam, nyeri badan, kelelahan, gangguan pencernaan, dan kesulitan bernapas. CDA menerangkan, penyakit ini dapat berkembang dengan cepat, berpotensi menyebabkan syok dan kematian.

Kasus Infeksi Hantavirus di Singapura

Singapura bukan negara yang asing dengan Hantavirus. Pada tahun 2024, sebuah jurnal akademik melaporkan adanya kasus infeksi Hantavirus pada tahun 2022.

Pasien saat itu adalah seorang pria Malaysia yang sering bepergian antara Singapura dan Ipoh. Ia dilaporkan memiliki kebiasaan meminum air kencing sapi sebagai bagian dari praktik keagamaan dan budayanya, yang berpotensi menyebabkan kontaminasi kotoran tikus pembawa virus.

Profesor Hsu Li Yang, Direktur Asia Centre for Health Security, menjelaskan bahwa virus Andes yang menjangkiti MV Hondius adalah spesies yang berbeda dari yang biasanya beredar di Asia. Virus Andes umumnya ditemukan di beberapa negara Amerika Selatan dan merupakan satu-satunya virus Hanta yang diketahui mampu menular antarmanusia dalam jumlah terbatas.

Hsu menambahkan bahwa virus Andes belum pernah ditemukan pada spesies hewan pengerat di Asia. Oleh karena itu, ia menilai tidak ada risiko signifikan bagi populasi yang lebih besar terkait infeksi Hantavirus tersebut.

“Kita harus menjalani hidup kita secara normal,” kata Hsu.