— Singapura telah mengisolasi dan melakukan tes terhadap dua warganya yang memiliki riwayat perjalanan di kapal pesiar MV Hondius, menyusul konfirmasi delapan kasus infeksi hantavirus oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang bersumber dari kapal tersebut. Kedua individu kini berada di National Centre for Infectious Diseases (NCID) sambil menanti hasil pemeriksaan medis.

Communicable Diseases Agency (CDA) Singapura menerima laporan terkait kedua individu ini pada Senin (4/5/2026) dan Selasa (5/5/2026). “Satu orang mengalami hidung meler tetapi secara umum sehat, dan yang lainnya tidak bergejala,” demikian pernyataan CDA, seraya menambahkan bahwa “risiko bagi masyarakat umum di Singapura saat ini rendah.”

Detail Isolasi Dua Warga Singapura

Pasien pertama, seorang pria warga negara Singapura berusia 67 tahun, tiba pada 2 Mei. Sementara itu, pasien kedua adalah penduduk tetap Singapura berusia 65 tahun yang tiba pada 6 Mei. Keduanya diketahui berada di atas kapal MV Hondius saat berlayar dari pelabuhan Ushuaia, Argentina, pada 1 April.

Setelah turun dari kapal pesiar, mereka menumpangi penerbangan yang sama dari Pulau Saint Helena menuju Johannesburg, Afrika Selatan, pada 25 April, bersama dengan seorang penumpang yang kemudian terkonfirmasi positif hantavirus. Penumpang yang terkonfirmasi positif tersebut dilaporkan tidak melanjutkan perjalanan ke Singapura dan meninggal dunia di Afrika Selatan.

Jika hasil tes menunjukkan negatif, kedua warga Singapura ini akan menjalani karantina selama 30 hari sejak paparan terakhir. Selanjutnya, mereka akan diawasi secara daring melalui aplikasi pelacakan hingga mencapai masa inkubasi maksimal 45 hari. Namun, jika hasil tes positif, perawatan intensif di rumah sakit akan diberikan.

Otoritas Singapura juga memastikan bahwa pelacakan kontak sedang dilakukan, dan individu yang memiliki kontak dekat dengan kedua warga tersebut akan segera dikarantina.

Klaster Global Hantavirus MV Hondius

Klaster kapal pesiar MV Hondius ini diketahui telah mencatat delapan kasus hantavirus galur Andes, sebuah varian langka yang memiliki kemampuan penularan antarmanusia secara terbatas. Kepala Badan Kesehatan PBB, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan:

Otoritas Swiss telah mengonfirmasi kasus hantavirus yang diidentifikasi pada seorang penumpang dari kapal pesiar MV Hondius yang datang ke rumah sakit di Zurich. Pasien tersebut saat ini menerima perawatan di sebuah rumah sakit di Zurich, Swiss.

Dari delapan kasus global tersebut, tiga di antaranya berakhir dengan kematian, yakni seorang pria yang mulai sakit sejak 6 April, istrinya, dan seorang perempuan warga negara Jerman yang meninggal pada 2 Mei. Selain itu, tiga penumpang lainnya telah dievakuasi, terdiri dari seorang pria Inggris, seorang awak kapal berkebangsaan Belanda, dan seorang warga negara Jerman.

Mengenal Hantavirus: Penularan dan Pencegahan

Penularan hantavirus umumnya terjadi ketika seseorang menghirup debu yang terkontaminasi oleh urine, kotoran, atau air liur hewan pengerat. Infeksi galur Andes, khususnya, dapat menimbulkan gejala demam, nyeri tubuh, kelelahan, masalah pencernaan, hingga kesulitan bernapas, yang berpotensi memburuk menjadi syok dan berujung pada kematian.

Profesor Ooi Eng Eong, pakar penyakit menular baru dari Duke-NUS Medical School, menjelaskan:

Hantavirus dapat ditularkan dari hewan pengerat ke manusia melalui makanan yang terkontaminasi, gigitan tikus, dan cakaran. Namun demikian, penularan dari manusia ke manusia jarang terjadi.

Ia menambahkan bahwa nama virus ini berasal dari wabah demam berdarah yang menyerang tentara di tepi Sungai Hantan selama Perang Korea. “Infeksi dapat mengakibatkan berbagai gejala dan penyakit, dari demam ringan hingga demam berdarah dan sindrom ginjal, serta sindrom paru hantavirus,” lanjut Eong.

Hingga kini, belum ada perawatan antivirus atau vaksin khusus untuk hantavirus. Bagi individu yang bepergian ke daerah rawan, disarankan untuk selalu menghindari kontak dengan tikus dan menjaga kebersihan akomodasi. Penting juga untuk menutup celah yang mungkin menjadi akses masuk tikus dan menyimpan makanan dengan aman. Untuk mencegah debu beterbangan yang berpotensi mengandung virus, penggunaan kain pel basah lebih dianjurkan daripada menyapu. Selain itu, hindari kontak dekat dan berbagi barang dengan orang yang sedang sakit. Jika mengalami gejala tidak enak badan setelah bepergian, segera lakukan pemeriksaan medis dan informasikan riwayat perjalanan kepada dokter.