PPGKEMENAG.ID — Pakar Epidemiologi dari Universitas Airlangga (Unair), Laura Navika Yamani, menegaskan bahwa kemunculan Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius bukanlah kejadian tiba-tiba. Ia menyebut, virus tersebut memiliki masa inkubasi yang dapat mencapai berminggu-minggu sebelum gejala awal muncul pada individu yang terinfeksi.
“Hantavirus tidak muncul tiba-tiba di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar. Masa inkubasi Hantavirus dapat berlangsung beberapa minggu, sehingga kasus baru bisa muncul ketika individu sudah pindah lokasi,” kata Laura pada Jumat (8/5/2026).
Menurut Laura, Hantavirus kemungkinan sudah ada sebelum perjalanan lintas negara dimulai, atau individu yang terinfeksi berada di wilayah dengan reservoir hewan pengerat. Mengingat kapal pesiar membawa penumpang dari berbagai negara untuk perjalanan jauh, hal ini berpotensi memperluas jangkauan deteksi kasus dan membantu menunjukkan lokasi infeksi awal.
Pola Penularan
Hantavirus umumnya menular melalui paparan partikel yang berasal dari kotoran hewan pengerat yang terinfeksi, seperti feses, urine, atau air liur. Penularan terjadi tidak secara langsung, melainkan melalui inhalasi partikel yang terkontaminasi.
Laura menjelaskan, sebagian besar Hantavirus tidak menunjukkan transmisi antarmanusia. “Namun, beberapa strain tertentu seperti Andes virus memiliki kemampuan terbatas untuk menular antarmanusia,” jelasnya.
Oleh karena itu, Laura menilai investigasi epidemiologi dan analisis genomik menjadi langkah penting untuk memastikan pola penularan yang terjadi. Selain itu, perubahan lingkungan, seperti perubahan iklim dan pergeseran habitat hewan, juga turut memengaruhi distribusi reservoir penyakit.
Ia mengimbau masyarakat untuk selalu waspada ketika berada di wilayah baru dengan mobilitas aktivitas manusia yang tinggi, sebab peluang penyebaran penyakit juga tidak terbatas. “Aktivitas manusia di wilayah baru dan meningkatnya ekowisata memperbesar peluang kontak dengan sumber zoonosis yang sebelumnya terbatas di habitat tertentu,” ujarnya.
Gejala Awal dan Upaya Mitigasi
Hantavirus memiliki gejala awal yang tidak spesifik, meliputi demam, kelelahan, dan gangguan gastrointestinal. Kondisi ini dapat berkembang cepat menjadi pneumonia berat.
“Kemudian berlanjut ke Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), hingga syok. Pada fase ini, pasien membutuhkan penanganan intensif di fasilitas kesehatan,” sambungnya.
Laura menambahkan, bentuk berat infeksi Hantavirus, yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), memiliki tingkat fatalitas yang cukup tinggi. “Pada kasus HPS, tingkat fatalitas dapat mencapai 30 – 50 persen. Terutama jika penanganan tidak dilakukan secara cepat,” jelasnya.
Untuk mencegah eskalasi kasus, Laura menegaskan pentingnya deteksi awal dan penguatan sistem surveilans kesehatan, termasuk surveilans genomik, untuk memahami pola penyebaran virus. Ia juga mendorong penerapan pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Sekretaris Lembaga Penyakit Tropis (LPT) Unair tersebut juga menekankan bahwa penguatan sanitasi, pemantauan gejala, serta komunikasi risiko yang efektif menjadi kunci dalam mencegah penyebaran. “Dalam era mobilitas global yang semakin tinggi, kesiapsiagaan sistem kesehatan dan deteksi dini sangat diperlukan untuk mencegah eskalasi kasus serupa di masa depan,” tutupnya.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
