PPGKEMENAG.ID — Pagi hari, Aji Prasetyo menjalankan tugasnya sebagai kepala desa dengan penampilan rapi, melayani masyarakat di kantornya. Namun, saat senja mulai menjelang, pemandangan berubah drastis. Ia berganti pakaian sederhana, menunggang motor menuju sawah, dan memanggul rumput untuk pakan sapi-sapi ternaknya.
Rutinitas kontras ini telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Kepala Desa Ketosari, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, tersebut. Di tengah padatnya jadwal memimpin desa, Aji tetap tekun mengelola kandang sapi Bali miliknya, Alam Indah Farm, yang kini justru ramai didatangi pembeli menjelang Hari Raya Idul Adha 2026.
Menariknya, banyak pembeli kini memilih untuk membeli hewan kurban jauh-jauh hari dan “menitipkannya” di kandang milik Aji hingga waktu penyembelihan tiba. Fenomena “titip sapi” ini menjadi solusi praktis bagi banyak pihak.
Usaha Ternak Sapi Bali Laris Manis
Sejak dua bulan sebelum Idul Adha, kandang Alam Indah Farm milik Aji mulai dipadati calon pembeli. Tak hanya dari Purworejo, pelanggan bahkan datang dari luar daerah seperti Magelang dan Kebumen, hingga menjangkau luar provinsi.
Aji menjelaskan bahwa minat tinggi ini didorong oleh kekhawatiran masyarakat akan ketersediaan stok dan lonjakan harga mendekati hari H. “Sekarang banyak yang beli lebih awal karena takut kehabisan stok dan harga naik mendekati hari H,” ujar Aji saat ditemui di kandangnya, Jumat (8/5/2026).
Di kandang sederhana yang terletak di kawasan pedesaan itu, deretan sapi Bali tampak berdiri tenang, asyik mengunyah rumput. Beberapa sapi sudah ditandai sebagai milik pembeli, namun tetap dirawat intensif di kandang hingga waktu pengiriman.
“Kalau beli sekarang bisa langsung dititipkan di sini sampai hari H. Gratis perawatan juga,” imbuhnya.
Bagi sebagian masyarakat, sistem penitipan ini merupakan solusi praktis. Tidak semua pembeli memiliki kandang sendiri atau cukup waktu untuk merawat hewan kurban sebelum Idul Adha. Pembeli cukup memilih sapi sesuai ukuran dan anggaran, lalu hewan akan tetap dipelihara oleh peternak sampai waktu pengantaran.
“Sudah termasuk pemeliharaan dan ongkir sampai tujuan. Jadi pembeli tinggal terima bersih,” kata Aji.
Seiring meningkatnya permintaan, kesibukan di kandang pun bertambah. Setiap pagi, sebelum beraktivitas sebagai kepala desa, Aji menyempatkan diri mengecek kondisi ternak. Tak jarang, saat hari libur, ia bahkan sudah pergi mencari rumput sejak pagi hari.
Sore harinya, ia kembali turun ke sawah untuk mencari rumput dan pakan. Jerami, daun ketela, dedaunan pohon, hingga rumput sawah menjadi menu utama sapi-sapi Bali yang didatangkan langsung dari Pulau Dewata tersebut.
“Kalau di desa enaknya banyak petani, jadi jerami mudah dicari. Paling hanya tenaga untuk mengambil,” ujarnya sambil tersenyum.
Menurut Aji, sapi Bali kini semakin diminati masyarakat karena dikenal lebih tahan penyakit. Selain itu, sapi Bali memiliki daging yang padat dengan tulang relatif kecil, sehingga dinilai cocok untuk kebutuhan kurban. Permintaan tahun ini bahkan disebut meningkat dibanding tahun sebelumnya.
Harga sapi yang ditawarkan bervariasi, mulai Rp 21 juta hingga Rp 27 juta per ekor, tergantung ukuran dan bobot. Untuk sapi dengan harga sekitar Rp 23 juta, bobotnya bisa mencapai sekitar 300 kilogram.
Meskipun harga mengalami kenaikan sekitar Rp 2 juta dibanding tahun lalu, minat masyarakat tetap tinggi. Banyak pembeli memilih mengamankan sapi lebih awal agar tidak kehabisan stok menjelang Idul Adha. “Biasanya kalau sudah dekat hari H stok cepat habis,” katanya.
Usaha Ternak Dirintis Sejak 2010
Usaha ternak sapi Bali ini sendiri telah dirintis Aji sejak tahun 2010. Awalnya hanya sebagai usaha sampingan untuk menambah penghasilan keluarga. Namun, seiring waktu, kandangnya semakin dikenal hingga pembeli berdatangan dari berbagai daerah.
Selama belasan tahun menjalankan usaha ternak dan penggemukan sapi, ia mengaku pernah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pandemi Covid-19 hingga wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Namun, kondisi tahun ini dinilai jauh lebih baik. “Alhamdulillah sekarang sudah aman, tidak ada PMK lagi,” ucapnya.
Bagi Aji, beternak bukan hanya soal mencari keuntungan. Di sela tanggung jawabnya sebagai kepala desa, ia justru merasa senang karena dapat membantu masyarakat mendapatkan hewan kurban yang sehat tanpa harus repot memelihara sendiri. “Yang penting pembeli tenang. Sapinya dirawat sampai hari H, jadi masyarakat tidak perlu bingung cari kandang atau pakan,” katanya.
Kini, di sela kesibukannya mengurus pemerintahan desa, Aji tetap menjalani rutinitas lamanya sebagai peternak. Pagi melayani warga di balai desa, sore mencari rumput untuk sapi-sapinya. Rutinitas sederhana itu justru menjadi bagian dari kesehariannya yang tidak pernah ia tinggalkan hingga sekarang.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
