— Seorang ibu di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, meninggal dunia setelah nekat menerobos kobaran api demi menyelamatkan anaknya. Dahlia Agus Safitri (33) dilaporkan kembali masuk ke dalam rumahnya yang terbakar di Simpang Pogang, Nagari IV Koto Pulau Punjung, Kecamatan Pulau Punjung, pada Rabu (6/5/2026). Peristiwa tragis ini terjadi meskipun sang anak sebenarnya telah berhasil dievakuasi warga.

Anak Sempat Terjebak di Dalam Rumah

Wali Nagari IV Koto Pulau Punjung, David Iskan, menjelaskan bahwa sebelum kebakaran terjadi, Dahlia sehari-hari berjualan jajanan di depan SMP Negeri 1 Pulau Punjung. Saat api mulai melalap rumah, anak korban bernama Razel (9), yang merupakan anak berkebutuhan khusus, sedang berada di dalam.

“Anaknya ini memang sekolah di SLB. Waktu kejadian dia terjebak di dalam rumah dan menangis,” kata David, Jumat (8/5/2026). Warga yang melihat kejadian itu segera bertindak menyelamatkan Razel, meski tangannya sempat mengalami luka bakar akibat kobaran api.

Mendengar kondisi anaknya, Dahlia bergegas pulang. Tanpa ragu, ia nekat menerobos kobaran api, mengabaikan peringatan warga sekitar yang mencoba menahannya. “Sebetulnya korban bisa saja selamat andai tidak masuk lagi ke dalam rumah. Namun karena naluri seorang ibu ingin menyelamatkan anaknya, beliau nekat masuk ke kobaran api,” terang David. Ironisnya, saat Dahlia masuk, sang anak sebenarnya sudah berhasil dievakuasi oleh warga dan petugas.

Korban Tertimpa Balok Terbakar

Nahas, ketika berada di dalam rumah yang dilalap api, Dahlia tertimpa balok kayu yang terbakar. Ia mengalami luka serius di sebagian besar tubuhnya. “Warga yang melihat langsung menyiram tubuh korban dengan air lalu mengevakuasinya,” ujar David.

Dahlia kemudian dilarikan ke IGD RSUD Sungai Dareh pada Rabu sekitar pukul 10.10 WIB. Berdasarkan diagnosis medis, korban mengalami luka bakar derajat dua dengan persentase mencapai 63 persen, meliputi wajah, dada, punggung, dan kedua kakinya.

Kepala RSUD Sungai Dareh, dr Fitra Neza, memastikan bahwa tim medis telah memberikan penanganan maksimal sejak korban tiba di rumah sakit. “Kami sudah memberikan pelayanan terbaik kepada pasien sejak awal masuk rumah sakit hingga dilakukan tindakan operasi dan perawatan intensif,” ujarnya.

Dahlia sempat menjalani operasi pada Kamis pagi, mulai pukul 09.30 WIB hingga 12.00 WIB, dan kondisinya sempat stabil setelah tindakan medis. Namun, setelah dipindahkan ke ruang rawat inap, kondisi Dahlia mendadak memburuk. Sekitar pukul 13.25 WIB, ia mengalami sesak napas disertai penurunan kesadaran. Tim medis segera memberikan Bantuan Hidup Dasar (BHD) sebanyak lima siklus. Namun, meski berbagai upaya penyelamatan telah dilakukan, nyawa Dahlia tidak tertolong. Ia dinyatakan meninggal dunia pada Kamis (7/5/2026).

Dahlia meninggalkan seorang suami, Maidil Risko (40), dan dua orang anak. Salah seorang anaknya, yang juga menjadi korban kebakaran, saat ini masih menjalani perawatan intensif di RSUD Sungai Dareh.

Diduga Akibat Korsleting Listrik

David Iskan menduga kebakaran tersebut dipicu oleh korsleting listrik. Selain rumah Dahlia, sedikitnya empat rumah lain turut terdampak akibat peristiwa itu. “Sebetulnya Damkar datang cukup cepat, sekitar 10 sampai 15 menit dari saat kejadian. Itu dibuktikan bahwa rumah tersebut tidak hangus secara keseluruhan,” katanya.

Pasca kejadian, Pemerintah Kabupaten Dharmasraya bersama Baznas Dharmasraya segera menyalurkan bantuan darurat kepada warga terdampak. Kepala Dinas Sosial P3APPKB Dharmasraya, Martin Effendi, mengatakan pihaknya bersama Dinas Kesehatan langsung turun membesuk korban dan memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi.

“Keesokan harinya kami bersama Baznas, camat, dan wali nagari turun ke lokasi kebakaran membawa bantuan darurat bagi keluarga terdampak,” ujar Martin. Selain bantuan logistik untuk tiga kepala keluarga terdampak, Baznas Dharmasraya juga menyerahkan santunan sebesar Rp 5 juta kepada keluarga korban.