— Wabah hantavirus terungkap di kapal pesiar MV Hondius berbendera Belanda pada awal Mei 2026, menyita perhatian internasional setelah menyebabkan sejumlah kematian dan kasus kritis di antara penumpang serta awak kapal.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menerima laporan mengenai wabah ini pada 2 Mei 2026, berdasarkan informasi dari Koordinator Peraturan Kesehatan Internasional Nasional Kerajaan Inggris Raya dan Irlandia Utara. Laporan awal tersebut mencakup dua kematian dan satu penumpang yang berada dalam kondisi kritis.

Pada tanggal yang sama, pengujian laboratorium yang dilakukan di Afrika Selatan mengonfirmasi infeksi hantavirus pada satu pasien yang sakit kritis dan dirawat di unit perawatan intensif. Sehari kemudian, 3 Mei 2026, satu kematian tambahan dilaporkan, sementara tiga kasus dugaan infeksi hantavirus lainnya masih berada di atas kapal.

Hingga 4 Mei 2026, total tujuh kasus—terdiri dari dua kasus terkonfirmasi dan lima kasus suspek—telah dilaporkan, termasuk tiga kematian. WHO kemudian mengonfirmasi bahwa seorang pria yang kembali ke Swiss setelah turun dari kapal dinyatakan positif terkena hantavirus dan kini dirawat di Zurich.

Berdasarkan data yang masuk pada 6 Mei 2026, WHO melaporkan terdapat delapan kasus di MV Hondius, dengan tiga di antaranya telah dikonfirmasi sebagai hantavirus.

MV Hondius sendiri memulai pelayarannya dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026, dan mengikuti rute melintasi Atlantik Selatan. Kapal pesiar tersebut singgah di beberapa wilayah terpencil, termasuk daratan Antartika, Georgia Selatan, Pulau Nightingale, Tristan da Cunha, Saint Helena, dan Pulau Ascension. Sejauh mana penumpang berinteraksi dengan satwa liar setempat selama perjalanan, atau sebelum naik kapal di Ushuaia, masih belum diketahui.

Kapal tersebut membawa total 147 orang, yang terdiri dari 88 penumpang dan 59 awak kapal, mewakili 23 kewarganegaraan berbeda. Pada 4 Mei 2026, MV Hondius berlabuh di lepas pantai Cabo Verde. Setelah berlabuh selama tiga hari, MV Hondius kini berlayar menuju Kepulauan Canary, Spanyol. Tiga pasien yang berada di kapal telah dievakuasi ke Belanda melalui jalur udara pada Kamis (7/5/2026), demikian diberitakan BBC.

Tentang Hantavirus

Hantavirus merupakan virus yang dibawa oleh hewan pengerat dan dapat menyebabkan penyakit parah pada manusia, demikian dikutip dari laman resmi WHO. Infeksi terjadi melalui kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi atau urin, kotoran, dan air liurnya. Infeksi hantavirus dapat menyebabkan berbagai penyakit serius dan berujung pada kematian.

Di Amerika, hantavirus dapat menyebabkan sindrom kardiopulmoner hantavirus (HCPS), sebuah penyakit pernapasan parah dengan tingkat kematian mencapai 50 persen. Sementara itu, di Eropa dan Asia, hantavirus menyebabkan demam berdarah dengan sindrom ginjal (HFRS).

Virus yang menyebar di MV Hondius telah dikonfirmasi sebagai hantavirus Andes oleh Institut Nasional untuk Penyakit Menular, Afrika Selatan, dan Rumah Sakit Universitas Jenewa, Swiss. Virus Andes, yang ditemukan di Amerika Selatan, adalah hantavirus yang diketahui dapat menular dari manusia ke manusia.

Penularan dan Gejala

Sampai saat ini, penularan hantavirus dari manusia ke manusia hanya ditemukan pada hantavirus Andes. Penularan semacam ini diduga akibat kontak dekat dan berkepanjangan. Potensi penularan dapat terjadi antara anggota keluarga atau pasangan intim, dan tampaknya paling mungkin terjadi selama fase awal penyakit, ketika virus lebih mudah menular.

Pada manusia, gejala infeksi biasanya mulai muncul antara satu hingga delapan minggu setelah terpapar, tergantung pada jenis virusnya. Gejala infeksi hantavirus meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, dan gejala gastrointestinal seperti sakit perut, mual, atau muntah.

Diagnosis dini infeksi hantavirus bisa jadi sulit karena gejala awalnya mirip dengan penyakit demam atau pernapasan lainnya, seperti influenza, Covid-19, pneumonia virus, leptospirosis, demam berdarah, atau sepsis.

Belum ada pengobatan antivirus spesifik atau vaksin khusus untuk infeksi hantavirus. Perawatan yang diberikan bersifat suportif dan berfokus pada pemantauan klinis yang ketat serta penanganan komplikasi pernapasan, jantung, dan ginjal. Akses dini ke perawatan intensif, bila diindikasikan secara klinis, dapat meningkatkan kesembuhan, terutama untuk pasien dengan sindrom kardiopulmoner hantavirus.