— Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengonfirmasi keberadaan Hantavirus di Indonesia, meski kasus yang ditemukan tidak berkaitan dengan wabah di kapal pesiar MV Hondius yang kini menjadi sorotan internasional. Wabah Hantavirus di MV Hondius, yang berlayar di perairan Samudra Atlantik, telah menarik perhatian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

WHO melaporkan tiga penumpang MV Hondius meninggal dunia dan lima kasus terkonfirmasi positif. Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa meskipun ada kemungkinan kasus lain, risiko terhadap kesehatan masyarakat secara keseluruhan tetap rendah.

Meskipun ini merupakan insiden yang serius, WHO menilai risiko kesehatan masyarakatnya rendah,

kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (7/6/2026). Hantavirus yang menginfeksi penumpang MV Hondius adalah strain Andes, yang umumnya ditemukan di Amerika Selatan.

Penjelasan Kemenkes

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menegaskan bahwa Hantavirus memang ada di Indonesia. Namun, ia memastikan kasus-kasus di Tanah Air tidak memiliki kaitan dengan insiden di MV Hondius.

Untuk kasus yang di kapal tersebut, dari 23 negara, tidak ada WNI di sana,

ujar Aji kepada awak media pada Jumat (8/5/2026).

Dalam tiga tahun terakhir, dari 2024 hingga 2026, tercatat ada 23 kasus Hantavirus terkonfirmasi di sembilan provinsi. Provinsi-provinsi tersebut meliputi DI Yogyakarta, Jawa Barat, Jakarta, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat.

Rincian kasus menunjukkan satu kasus pada tahun 2024, 17 kasus pada 2025, dan lima kasus pada 2026. Dari total kasus tersebut, tiga di antaranya berakhir dengan kematian, sementara sisanya dinyatakan sembuh.

Ada 23 kasus positif, dengan tiga kematian dan sisanya sembuh,

terang Aji. Ia menambahkan bahwa saat ini ada dua kasus suspek di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta yang sedang dalam proses pemeriksaan untuk konfirmasi lebih lanjut.

Berdasarkan data Kemenkes, ketiga pasien yang meninggal akibat Hantavirus juga memiliki masalah kesehatan lain, seperti infeksi leptospirosis, kanker hati, dan kegagalan multiorgan. Beberapa faktor risiko infeksi Hantavirus mencakup pekerjaan yang berkaitan langsung dengan tikus, aktivitas di area berisiko, serta tinggal di wilayah dengan populasi tikus tinggi.

Semua kasus konfirmasi mengarah ke hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS). Strain Seoul Virus,

ucap Aji. Selain strain Seoul Virus, Hantavirus juga memiliki strain lain seperti Sin Nombre, Hantaan, Andes, Puumala, Dobrava, dan Saarema.

Gejala awal HFRS meliputi demam, sakit kepala, nyeri badan, malaise (lemas), serta ikterik atau jaundice. Aji menjelaskan bahwa infeksi Hantavirus bersifat zoonotik, menular dari hewan ke manusia, khususnya dari tikus.

Infeksi saat ini zoonotik, dari hewan ke manusia. Dari tikus,

ujar Aji. Proses penularan dapat terjadi melalui gigitan, saliva (air liur), urine, dan feses tikus atau celurut. Selain itu, penularan juga bisa melalui inhalasi aerosol atau terhirup debu yang terkontaminasi.

Selain HFRS, infeksi Hantavirus juga dapat menyebabkan penyakit lain yang dikenal sebagai Hanta pulmonary syndrome (HPS).

Imbauan Kemenkes

Untuk mencegah infeksi Hantavirus, Aji Muhawarman membagikan beberapa imbauan yang perlu dilakukan masyarakat Indonesia:

  • Cuci tangan pakai sabun atau hand sanitizer, serta terapkan etika batuk dan bersin.
  • Menghindari kontak langsung dengan tikus atau celurut, termasuk kotorannya.
  • Membiasakan rutin membersihkan rumah dengan metode wet cleaning.
  • Menyimpan makanan atau minuman dengan aman, menggunakan tudung saji atau wadah tertutup.
  • Menutup semua lubang di dalam maupun luar rumah untuk mencegah tikus atau celurut masuk ke dalam rumah.
  • Menghindari kontak dengan sumber infeksi, termasuk saat berwisata.
  • Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala penyakit Hantavirus.
  • Patuhi imbauan kesehatan di negara tujuan saat melakukan perjalanan.