PPGKEMENAG.ID — Seorang traveler asal Boston, Amerika Serikat, Jake Rosmarin, membagikan pengalaman pahitnya terjebak di kapal pesiar MV Hondius yang dilanda wabah Hantavirus. Kapal yang membawa 150 penumpang dari 23 negara ini mencatat tiga kematian akibat virus mematikan tersebut, meninggalkan Rosmarin dan penumpang lainnya dalam ketidakpastian nasib.
Melalui akun TikTok miliknya @jakerosmarin, pada 5 Mei 2026, Rosmarin mengunggah video curahan hati yang telah ditonton sekitar 3,7 juta kali. Dengan suara bergetar dan air mata, ia menceritakan beratnya situasi yang dihadapi para penumpang.
“Kami bukan sekadar cerita. Kami bukan hanya judul berita, kami adalah manusia, orang-orang dengan keluarga, dengan kehidupan, dengan orang-orang yang menunggu kami di rumah,” kata Rosmarin.
“Ada banyak sekali ketidakpastian dan itu menjadi bagian yang paling berat,” imbuhnya.
Rosmarin menekankan bahwa para penumpang hanya membutuhkan kepastian, rasa aman, dan harapan untuk segera kembali ke rumah. Di akhir video berdurasi sekitar satu menit tersebut, ia menyerukan perhatian bersama untuk nasib mereka.
Kapal MV Hondius, yang dioperasikan oleh perusahaan pelayaran Oceanwide Expeditions, kini tengah berlayar menuju Kepulauan Canary, Spanyol. Sebelumnya, kapal ini sempat terisolasi di Cape Verde pada 3 Mei 2026.
Wabah Hantavirus di Kapal MV Hondius
Pelayaran MV Hondius dari Ushuaia, Argentina, menuju Cape Verde, Afrika, yang dimulai 1 April 2026, berubah menjadi mimpi buruk setelah delapan penumpangnya terdampak Hantavirus, dengan tiga di antaranya meninggal dunia.
Kasus pertama teridentifikasi pada 6 April, ketika seorang pria Belanda berusia 70 tahun jatuh sakit dengan gejala demam, sakit kepala, sakit perut, diare, dan gangguan pernapasan. Ia meninggal dunia pada 11 April, namun penyebab kematiannya belum dapat dipastikan saat itu, dan jasadnya terpaksa tetap berada di kapal selama dua minggu.
Pada 24 April, kapal berlabuh di Saint Helena. Jasad pria tersebut akhirnya diturunkan untuk dipulangkan ke Belanda bersama istrinya yang berusia 69 tahun. Namun, kesehatan sang istri justru memburuk selama penerbangan kembali pada 25 April. Ia pingsan di Bandara Tambo, Johannesburg, dan meninggal dunia pada 26 April 2026 setelah dibawa ke pusat medis.
Di waktu yang hampir bersamaan, seorang pria dewasa berkewarganegaraan Inggris di atas MV Hondius juga membutuhkan perawatan dokter karena mengeluh demam dan sulit bernapas. Kondisinya memburuk pada 26 April saat kapal berada di Pulau Ascension, sehingga ia diterbangkan ke Afrika Selatan pada 27 April untuk perawatan rumah sakit.
Tragedi berlanjut pada 28 April, ketika seorang wanita dewasa asal Jerman melaporkan kondisi tidak sehat, disertai kesulitan bernapas. Ia kemudian meninggal dunia pada 2 Mei.
Pada hari yang sama, hasil laboratorium pria Inggris yang dirawat di Afrika Selatan mengonfirmasi bahwa ia terinfeksi Hantavirus. Sehari kemudian, 3 Mei, saat MV Hondius mendekati Cape Verde, tiga penumpang lain, termasuk dokter kapal, dilaporkan mengalami demam tinggi. Otoritas setempat melarang kapal berlabuh dan menolak evakuasi penumpang yang sakit.
Pada 4 Mei, penyebab kematian wanita Belanda yang meninggal 26 April akhirnya terkonfirmasi: ia juga terpapar Hantavirus. Setelah itu, kapal diizinkan berlabuh di Praia, pelabuhan utama Cape Verde, sambil menunggu solusi. Otoritas kesehatan setempat bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memulai penyelidikan mendalam mengenai sumber awal infeksi.
WHO menjelaskan bahwa Hantavirus adalah virus langka yang umumnya ditularkan melalui kontak dengan tikus atau cairan tubuhnya seperti urine dan kotoran. Dalam kasus tertentu, penularan bisa terjadi melalui gigitan atau cakaran hewan pengerat.
Pada 6 Mei, beberapa penumpang yang diduga terinfeksi dievakuasi dari kapal oleh tim medis berbalut baju hazmat. Menurut WHO, pasien-pasien ini kemudian diterbangkan ke Belanda untuk perawatan lebih lanjut.
Perjalanan Menuju Kepulauan Canary
MV Hondius kini melanjutkan perjalanan menuju Kepulauan Canary, menyusul negosiasi antara WHO dan pemerintah Spanyol pada 5 Mei. Kapal tersebut diperkirakan akan berlabuh di pelabuhan Tenerife.
Menteri Kesehatan Spanyol, Monica Garcia, dalam konferensi pers di Madrid, menyatakan bahwa setibanya di Tenerife, seluruh penumpang non-warga negara Spanyol yang dalam kondisi sehat akan dipulangkan ke negara asal masing-masing.
Sementara itu, 14 penumpang berkewarganegaraan Spanyol akan menjalani karantina ketat di rumah sakit militer di Madrid. Rencana pemerintah pusat Spanyol ini tidak sepenuhnya disambut baik. Presiden Wilayah Kepulauan Canary, Fernando Clavijo, menegaskan penolakannya terhadap keputusan tersebut, dengan alasan tidak didasari pertimbangan teknis yang memadai.
Kondisi Terkini Para Penumpang
Di tengah ketidakpastian nasib, kondisi di dalam kapal dilaporkan relatif stabil. Salah seorang penumpang, Kasem Hato, mengungkapkan bahwa awak kapal terus memberikan pembaruan informasi, dan penumpang diminta untuk menjaga jarak serta rutin menggunakan pembersih tangan.
“Orang-orang menanggapi situasi ini dengan serius tetapi tanpa kepanikan, mencoba menjaga jarak dan memakai masker demi keselamatan,” ujarnya.
“Sehari-hari kami hampir normal, hanya menunggu pihak berwenang menemukan solusi. Namun moral di kapal tetap tinggi dan kami tetap sibuk membaca, menonton film, minum minuman hangat, dan hal-hal seperti itu,” tambahnya.
Senada dengan Hato, Jake Rosmarin, yang sebelumnya diliputi kepanikan, kini tampak lebih tenang. Ia kembali mengunggah video TikTok pada 7 Mei 2026, melaporkan kondisi terkini para penumpang MV Hondius.
Dalam video tersebut, Rosmarin mengonfirmasi bahwa penumpang yang diduga terinfeksi Hantavirus telah berhasil dievakuasi dari kapal. Ia juga menceritakan bahwa kapal akan bergerak menuju Kepulauan Canary untuk mendapatkan perawatan kesehatan.
Rosmarin menambahkan, kondisi para penumpang lain di kapal tetap baik dan bersemangat.
“Selain dua penumpang (terdampak) yang telah diumumkan dan sekarang telah dievakuasi. Semua orang lain di dalam kapal dalam keadaan baik dan tetap bersemangat,” ungkapnya.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
