PPGKEMENAG.ID — Upaya pengembangan vaksin hantavirus terus digencarkan oleh tim ilmuwan internasional, menyusul insiden tiga kematian di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar mengarungi Samudra Atlantik pada April 2026. Penyakit yang disebabkan oleh hantavirus ini menjadi sorotan setelah delapan kasus teridentifikasi di kapal tersebut, dengan tiga di antaranya terkonfirmasi dan lima lainnya berstatus suspek.
Profesor Kimia dari Universitas Bath, Asel Sartbaeva, merupakan salah satu tokoh kunci dalam riset ini, bekerja sama dengan para ahli dari Amerika Serikat dan Afrika Selatan. Ia menekankan pentingnya pengembangan vaksin untuk mengatasi ancaman penyakit ini.
“Jelas, mengembangkan vaksin akan sangat luar biasa karena dengan begitu kita dapat mencegah terjadinya penyakit ini atau setidaknya mengurangi dampak buruk dari infeksi tersebut,” kata Sartbaeva, dilansir dari BBC, Kamis (7/5/2026).
Hingga berita ini dirilis, asal mula wabah serta keberadaan korban lain yang terinfeksi dari luar kapal masih belum terungkap.
Inovasi Metode Pengangkutan Vaksin
Profesor Sartbaeva dan timnya sebenarnya telah memulai pengembangan vaksin hantavirus jauh sebelum wabah di MV Hondius terjadi. Fokus utama mereka adalah merevolusi metode pengangkutan vaksin yang selama ini mengharuskan penyimpanan pada suhu beku, menjadi teknologi yang disebut insilication.
“Ini adalah teknologi baru yang telah saya kembangkan di dalam kelompok saya selama lebih dari 15 tahun. Insilication adalah metode inovatif baru untuk melapisi vaksin dengan lapisan material anorganik yang sangat tipis agar vaksin tersebut stabil secara termal,” jelas Sartbaeva.
Melalui metode ini, timnya di Bath berkolaborasi dengan tim di Texas yang mengembangkan antigen hantavirus, serta perusahaan Afrigen di Afrika Selatan. Tujuan utama dari insilication adalah membuat vaksin tahan terhadap perubahan suhu.
“Kami telah menambahkan stabilisasi termal di atasnya untuk membuat vaksin tersebut tahan terhadap perubahan suhu sehingga kami dapat melakukan, misalnya, pengiriman menggunakan drone,” tambah Sartbaeva.
Pengembangan Vaksin Hantavirus Jangka Panjang
Di sisi lain, ahli virologi Jay Hooper dari Institut Penelitian Medis Penyakit Menular Angkatan Darat AS di Frederick, Maryland, juga telah lama berupaya mengembangkan vaksin untuk beberapa strain hantavirus, termasuk virus Andes. Hooper dan timnya telah mengerjakan vaksin hantavirus sejak sekitar tahun 1980-an, terutama setelah munculnya hantavirus baru seperti virus Sin Nombre di wilayah Four Corners, Amerika Serikat, dan virus Andes di Amerika Selatan, yang menyebabkan sindrom paru hantavirus (HPS).
Kepentingan militer terhadap vaksin ini cukup besar.
“Karena virus-virus ini ditularkan oleh hewan pengerat dan menimbulkan risiko bagi pasukan di lapangan, militer telah lama menginginkan vaksin,” ungkap Hooper, dilansir dari Nature, Kamis (7/5/2026).
Laboratorium Hooper kemudian mulai mengembangkan vaksin untuk strain-strain tersebut. Sebuah kemajuan signifikan yang dicapai timnya adalah pengembangan model hamster untuk penyakit mematikan yang sangat mirip dengan HPS manusia. Model ini sangat penting untuk menguji vaksin dan terapi secara realistis.
“Kemajuan penting tim kami adalah mengembangkan model hamster untuk penyakit mematikan yang sangat mirip dengan HPS manusia. Hal ini memberikan model hewan yang realistis untuk menguji vaksin dan terapi,” kata Hooper.
Hooper dan timnya telah melakukan uji klinis fase 1 untuk vaksin virus Andes serta dua strain lainnya, Hantaan dan Puumala. Hasil uji pada manusia menunjukkan bahwa vaksin DNA Andes menginduksi antibodi penetralisir, yang merupakan indikator penting untuk perlindungan, sehingga vaksin ini terlihat menjanjikan.
Meski demikian, terdapat kendala dalam melanjutkan uji efikasi fase 3 klasik. Kasus virus Andes pada manusia yang jarang dan tersebar secara geografis menyulitkan penentuan wilayah uji yang jelas. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih kreatif untuk memenuhi persyaratan perizinan vaksin. Selain itu, pendanaan untuk pengembangan tingkat lanjut menjadi hambatan utama lainnya bagi vaksin hantavirus.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
