PPGKEMENAG.ID — Kirab Budaya Mahkota Binokasih, rangkaian peringatan Hari Jadi Tatar Sunda, telah tiba di Kabupaten Bogor pada Jumat (8/5/2026). Perjalanan mahkota peninggalan Kerajaan Pajajaran ini dihelat sebagai pengingat akan sejarah panjang dan nilai budaya yang masih lestari hingga kini.
Kirab yang dijadwalkan berlangsung selama sembilan hari ini dimulai dari Keraton Sumedang Larang, Kabupaten Sumedang, pada Sabtu (2/5/2026). Rute kirab melintasi berbagai wilayah seperti Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Cianjur, Depok, Karawang, Cirebon, hingga puncaknya di Kota Bandung. Di setiap persinggahan, masyarakat disuguhkan dengan beragam penampilan kesenian dan kebudayaan khas daerah setempat.
Peninggalan Kerajaan Pajajaran
Budayawan Sunda, Aki Jatnika, menjelaskan bahwa Mahkota Binokasih atau yang juga dikenal sebagai Sanghyang Pake, merupakan peninggalan berharga dari Kerajaan Pajajaran yang diperkirakan dibuat pada abad ke-14. “Sanghyang Pake atau Mahkota Binokasih dibuat sekitar tahun 1357 sampai 1371 oleh Prabu Bunisora,” katanya saat dihubungi, Jumat (8/5/2026).
Mahkota tersebut pertama kali dikenakan oleh Prabu Niskala Wastu Kancana, kemudian diwariskan secara turun-temurun kepada raja-raja Pajajaran berikutnya. Pada akhirnya, Mahkota Binokasih berada di tangan Prabu Nusiya Mulya atau Prabu Ragamulya, raja terakhir Kerajaan Pajajaran.
Penyerahan mahkota berlapis emas ini kemudian dilakukan pada 22 April 1578 kepada Prabu Geusan Ulun dari Kerajaan Sumedang Larang. Langkah tersebut diambil menyusul melemahnya pengaruh Kerajaan Pajajaran akibat serangan dari Kerajaan Banten, sehingga mahkota perlu diselamatkan ke tempat yang lebih aman.
Aki Jatnika menambahkan, penyerahan Mahkota Binokasih kala itu dikawal oleh empat pengawal kerajaan yang dikenal sebagai Kandaga Lante.
“Empat Kandaga Lante yang mengawal penyerahan Mahkota Binokasih ke Sumedang Larang yaitu Jaya Perkasa, Nangganan, Kondang Hapa, dan Terong Peot,” terang Aki Jatnika.
Bukan Hanya Simbol
Menurut Aki Jatnika, Mahkota Binokasih lebih dari sekadar simbol kekuasaan kerajaan. Mahkota ini juga menjadi penanda sejarah dan budaya Sunda yang terus dijaga kelestariannya hingga kini.
“Mahkota Binokasih itu dibuat selama 10 tahun. Binokasih artinya itu kanyaah atau kasih sayang. Selain itu artinya juga silih asah, silih asih, silih asuh,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar, Iendra Sofyan, merinci spesifikasi fisik Mahkota Binokasih. Mahkota ini memiliki panjang 35 sentimeter, lebar 25 sentimeter, dan diameter 20 sentimeter.
“Berat mahkota sekitar 900 gram, dengan kandungan emas 78 persen dan kadar emas 18,8 karat,” katanya.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
