PPGKEMENAG.ID — Krisis iklim diproyeksikan akan memicu pergeseran jangkauan tumbuhan secara luas dan drastis pada akhir abad ini. Sebuah studi terbaru dari Universitas California, Davis, mengungkapkan bahwa sekitar 7 hingga 16 persen spesies tumbuhan berisiko tinggi mengalami kepunahan global, setelah diprediksi kehilangan lebih dari 90 persen wilayah jelajahnya.
Temuan ini didapatkan dengan menggabungkan kecepatan pergeseran jangkauan spesifik spesies ke dalam model proyeksi distribusi 67.664 jenis tumbuhan. Jumlah tersebut merepresentasikan 18 persen dari total flora global untuk periode 2081 hingga 2100.
Peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK) diyakini akan mempercepat jumlah spesies yang menghadapi risiko kepunahan tinggi. Oleh karena itu, studi ini menggarisbawahi urgensi mitigasi krisis iklim demi mengurangi angka kepunahan spesies tumbuhan.
Para peneliti menjelaskan bahwa penyebab utama hilangnya spesies ini adalah hilangnya habitat akibat perubahan iklim, bukan keterbatasan kemampuan tumbuhan untuk menyebar atau berpindah lokasi. Hal ini ditegaskan dalam keterangan studi yang diterbitkan di jurnal Science.
“Kehilangan ini terutama disebabkan oleh hilangnya habitat akibat perubahan iklim, bukan keterbatasan penyebaran. Dengan demikian, memfasilitasi pergeseran jangkauan dapat mempertahankan kekayaan lokal, tetapi tidak mengurangi kepunahan global,”
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa strategi konservasi yang hanya berfokus pada “migrasi terbantu”—di mana manusia memfasilitasi pergeseran wilayah jelajah spesies—mungkin tidak efektif secara tunggal dalam mengurangi kepunahan tumbuhan global akibat krisis iklim. Namun, menggabungkan upaya tersebut dengan restorasi dan perlindungan habitat dari dampak krisis iklim dinilai bisa lebih efektif.
“Pada akhir abad ini, sebagian besar habitat yang sesuai akan hilang. Jika prioritas kita adalah mengurangi tingkat kepunahan spesies tumbuhan, maka pengurangan emisi secara agresif akan jauh lebih penting daripada tindakan lainnya,” ujar Xiaoli Dong, penulis senior studi sekaligus profesor madya di Departemen Ilmu dan Kebijakan Lingkungan UC Davis, seperti dilansir dari Phys.
Ancaman Kepunahan dan Perombakan Habitat
Tingkat kepunahan yang tinggi diproyeksikan terjadi di beberapa wilayah, termasuk Eropa selatan, Amerika Serikat bagian barat, dan Australia selatan. Kondisi ini menimbulkan risiko serius bagi spesies yang vital secara ekonomi dan tumbuhan purba.
Sebagai contoh, spikemoss (Selaginella) di California, salah satu garis keturunan tumbuhan berpembuluh tertua yang masih ada, dengan usia lebih dari 400 juta tahun, terancam. Begitu pula dengan eucalyptus di Australia, genus yang mencakup tiga perempat hutan asli benua tersebut dan sangat penting bagi keanekaragaman hayati, budaya masyarakat adat, serta industri kayu.
Amerika Serikat bagian barat, sebagian besar Eropa, dan Australia diperkirakan akan kehilangan keanekaragaman hayati akibat menyusutnya wilayah jelajah banyak spesies. Namun, pergeseran jangkauan ini juga dapat meningkatkan kekayaan spesies lokal—yakni jumlah spesies di suatu tempat tertentu—pada sekitar 28 persen permukaan Bumi.
“Daerah yang kemungkinan besar akan mengalami peningkatan kekayaan spesies sebagian besar berada di wilayah basah atau wilayah yang diproyeksikan akan menjadi lebih basah, seperti Amerika Serikat bagian timur, India, Asia Tenggara, dan Amerika Selatan bagian selatan,” tutur Junna Wang, penulis utama studi.
Perombakan besar-besaran habitat tanaman di seluruh dunia ini menuntut cara berpikir baru dalam konservasi dan redefinisi tentang apa yang seharusnya berada di tempatnya.
“Segalanya akan berubah, dan kita harus beradaptasi. Beberapa spesies ini akan bertemu bersama untuk pertama kalinya. Kita akan melihat interaksi baru. Hasilnya sulit diprediksi. Segalanya akan berbeda dari apa yang kita ingat 40 hingga 50 tahun yang lalu,” ucap Dong.
Temuan dari studi ini menyoroti peran krusial bank benih, taman botani, dan tempat-tempat yang berfungsi sebagai tempat perlindungan iklim bagi tanaman. Kehilangan nilai genetik, obat-obatan, dan budaya dari tanaman-tanaman ini dapat dicegah melalui upaya tersebut. Sementara itu, pengelolaan ekosistem yang adaptif akan membantu menyediakan tempat bagi spesies yang bermigrasi untuk menemukan rumah baru.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
