PPGKEMENAG.ID — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tengah menginvestigasi dugaan kasus hantavirus setelah tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius meninggal dunia. Kapal tersebut berlayar dari Ushuaia, Argentina, menuju Tanjung Verde, Afrika. Hingga 4 Mei 2026, WHO telah mengidentifikasi tujuh kasus yang diduga hantavirus, dengan dua di antaranya telah dikonfirmasi melalui hasil laboratorium.
Kasus penularan dari manusia ke manusia memang jarang terjadi, namun pola transmisi terbatas pernah dilaporkan dalam wabah virus Andes, jenis hantavirus tertentu. Meski demikian, WHO menilai risiko terhadap populasi global saat ini masih rendah.
“Saat ini, WHO menilai risiko terhadap populasi global dari peristiwa ini sebagai rendah dan akan terus memantau situasi epidemiologi serta memperbarui penilaian risiko,” demikian keterangan WHO.
Menyebar di Lingkungan Terkontaminasi
Epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa WHO memang sedang meneliti kemungkinan keterlibatan strain virus Andes. Strain langka ini sebelumnya terbukti dapat menular antarmanusia melalui kontak sangat dekat.
Namun, Dicky menegaskan bahwa hantavirus umumnya ditularkan oleh hewan pengerat yang terkontaminasi, bukan menyebar dari manusia ke manusia. “Yang perlu dipahami, hantavirus bukan menyebar dari manusia ke manusia, tetapi dari lingkungan terkontaminasi tikus yang terinfeksi hantavirus. Secara umum, penularan hantavirus itu berbeda jauh dengan Covid-19. Tidak semudah Covid-19 itu ya,” ujar Dicky kepada media, Jumat (8/5/2026).
Berdasarkan data ilmiah, potensi hantavirus untuk menjadi pandemi global seperti Covid-19 sangat kecil. Hal ini karena reservoir utama hantavirus adalah tikus, bukan manusia, berbeda dengan SARS-CoV-2. Penularan hantavirus antarmanusia sangat terbatas dan efisiensi transmisinya tidak setinggi virus pernapasan seperti SARS-CoV-2 atau influenza.
Meskipun demikian, Dicky mengingatkan pentingnya kewaspadaan dalam perspektif epidemiologi modern. Interaksi antara manusia dengan hewan liar yang terus meningkat, ditambah krisis iklim, urbanisasi, dan kerusakan ekosistem, memperburuk risiko munculnya zoonosis baru.
“Jadi, ancaman hantavirus lebih pada outbreak sporadis dengan fatalitas tinggi jadi bukan pandemi global atau yang cepat menyebar,” tutur Dicky.
Trauma Pandemi Covid-19
Setiap kali muncul isu potensi wabah baru, termasuk risiko hantavirus, masyarakat seringkali menanggapi dengan skeptis. Fenomena ketidakpercayaan global ini menguat pasca-pandemi Covid-19.
Menurut Dicky, ada beberapa faktor utama yang berkontribusi pada trauma sosial ini. Pertama, masyarakat mengalami ketakutan, pembatasan sosial, dan tekanan ekonomi selama pandemi. “Akibatnya ya muncul kelelahan psikologis terhadap isu wabah baru,” ucapnya.
Kedua, infodemi dan disinformasi yang masif di media sosial. Informasi valid sering bercampur dengan opini, teori konspirasi, atau hoaks. “Hoaks ini berseliweran tanpa filter yang jelas,” ujar Dicky.
Faktor ketiga adalah inkonsistensi komunikasi risiko. “Jadi, di banyak negara termasuk global masyarakat itu melihat perubahan kebijakan cepat, perbedaan pendapat ahli dan politisasi kesehatan. Ini yang menurunkan trust terhadap institusi,” terang Dicky.
Keempat, polarisasi sosial pasca-pandemi Covid-19. Kesehatan publik seringkali tidak lagi diposisikan sebagai wacana ilmiah, melainkan isu politik, ekonomi, atau dipersepsikan mengandung agenda kepentingan tertentu.
Padahal, dalam epidemiologi, ketidakpastian ilmiah adalah hal yang normal, terutama pada fase awal outbreak atau peningkatan insidensi kasus penyakit.
“Banyak juga netizen yang mengaitkan isu wabah dan kepentingan bisnis vaksin atau obat. Nah kita harus melihatnya objektif dan proporsional ya. Benar bahwa industri farmasi adalah industri besar dia juga mencari keuntungan, iya saya tidak pungkiri itu,” ucap Dicky.
“Ada kepentingan ekonomi dalam sistem kesehatan global, iya. Tapi tidak berarti setiap outbreak adalah rekayasa bisnis karena dalam kasus hantavirus misalnya, bahkan belum ada vaksin global yang digunakan luas. Terapi spesifik juga sangat terbatas, penanganan utama juga masih suportif care ICU. Jadi, narasi wabah dibuat untuk jual vaksin ya tidak sesuai dengan kasus hantavirus saat ini.”
Ikuti PPGKEMENAG.ID
