PPGKEMENAG.ID — Kisah inspiratif Iqbal Rasyid Achmad Faqih, putra seorang buruh harian asal Kota Bengkulu, menjadi sorotan setelah berhasil menembus Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) untuk angkatan 2025. Momen haru saat Wakil Dekan FK UI, Prof. Dwiana Ocviyanti, menjemput langsung Iqbal di kediaman sederhananya di Jalan Murai, Bengkulu, sempat viral di media sosial dan menyentuh banyak pihak.
Sang ibu, Suhaima (41), mengungkapkan bahwa kecerdasan putra bungsunya itu telah terlihat sejak usia sangat dini. Meski tumbuh dalam keterbatasan ekonomi, Iqbal menunjukkan rasa ingin tahu yang luar biasa terhadap dunia dan ilmu pengetahuan.
“Sedari kecil ia memang menyukai ilmu pengetahuan. Salah satu yang paling ia gemari adalah membaca peta dunia milik kakaknya. Dia hafal nama negara, kota, hingga luas wilayahnya,” kenang Suhaima.
Cerdas Sejak Usia Dini
Kecerdasan Iqbal bukan sekadar cerita belaka. Bahkan sebelum menginjak bangku Taman Kanak-kanak (TK), Iqbal sudah fasih membaca dan mampu menghafal ayat-ayat pendek Al-Quran. Kemampuan itu ia peroleh hanya dengan mendengarkan ibunya mengajar mengaji. Prestasinya kian menonjol ketika ia berhasil menyabet gelar Juara Umum lomba hafalan tingkat SD, padahal usianya masih setingkat TK.
Hobi membacanya pun sangat kuat. Setiap kali diajak ke pasar, Iqbal kecil akan membaca semua papan merek dan pamflet iklan yang ditemuinya. Melihat minat besar sang anak, Suhaima berupaya menyisihkan uang untuk membelikan buku bacaan, termasuk kamus bahasa Inggris, demi menunjang rasa ingin tahu Iqbal.
“Dari permainan seperti monopoli, matematikanya terasah. Pengetahuannya tentang keajaiban dunia juga didapat dari sana. Saat remaja, waktu liburnya di MAN Insan Cendikia habis untuk membaca di Perpustakaan Daerah (Perpusda),” tambah Suhaima.
Perjuangan Menuju FK UI
Perjalanan Iqbal menuju kursi FK UI ternyata tidaklah mulus. Awalnya, ia mencoba peruntungan melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) dengan memilih jurusan Pertambangan di IPB. Namun, nasib berkata lain, Iqbal dinyatakan gagal dalam seleksi tersebut.
Meski demikian, kegagalan tidak menyurutkan semangatnya. Iqbal justru memilih untuk mengambil tantangan lebih besar di jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), dengan pilihan tunggal yang sangat ambisius: Fakultas Kedokteran UI. Keputusan ini sempat membuat orang tuanya khawatir, terutama terkait biaya kuliah kedokteran yang dikenal mahal.
Namun, tekad baja sang anak berhasil meyakinkan mereka. Berkat kerja kerasnya, Iqbal berhasil lolos dan kini menorehkan prestasi gemilang dengan nilai IPK 3,91. Kesuksesan ini juga didukung oleh beasiswa yang ia terima, sebuah anugerah bagi keluarganya yang hidup dalam keterbatasan.
“Alhamdulillah, dia dapat beasiswa. Nilai IPK-nya sekarang 3,91. Kami keluarga pas-pasan, rumah masih menumpang, saya mengajar ngaji sukarela dan ayahnya buruh harian. Tanpa beasiswa, kami tidak akan mampu,” ujar Suhaima.
Kerinduan dan Kebanggaan Orang Tua
Meski telah menjalani dua semester perkuliahan di Jakarta, Suhaima mengaku belum pernah sekalipun mengunjungi putranya. Kendala biaya transportasi menjadi penghalang utama bagi Suhaima untuk menuntaskan kerinduan pada sang anak.
Namun, bagi Suhaima, keberhasilan Iqbal untuk bertahan dan berprestasi di UI sudah lebih dari cukup. Ia merasa sangat bersyukur dan bangga atas pencapaian putranya.
“Mahal ke Jakarta. Yang penting Iqbal bisa belajar, saya sudah bersyukur. Doa saya selalu mengalir untuknya,” tutup Suhaima dengan mata berkaca-kaca, menunjukkan ketulusan dan kebanggaan seorang ibu.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
