PPGKEMENAG.ID — Pernyataan Koarmada I yang menyebut keluarga hadir dalam proses visum jenazah anggota TNI AL Kelasi Dua (KLD) Ghofirul Kasyfi (22) dibantah keras oleh pihak keluarga. Koarmada I sebelumnya menyatakan Ghofirul meninggal dunia akibat bunuh diri dan proses visum telah dilakukan.
Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Koarmada I Kolonel Laut (P) Ary Mahayasa, dalam keterangan resminya pada Senin, 4 Mei 2026, menjelaskan bahwa hasil Visum et Repertum resmi dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Laut (RSPAL) dr. Mintohardjo Jakarta tertanggal 26 April 2026 tidak menemukan lebam akibat kekerasan benda tumpul pada tubuh almarhum. Selain itu, pendarahan pada area selangkangan, sebagaimana informasi yang beredar, juga tidak ditemukan.
“Pemeriksaan visum tersebut, juga dihadiri oleh pihak keluarga almarhum,” kata Ary Mahayasa.
Bantahan Tegas dari Keluarga
Namun, pernyataan tersebut dibantah tegas oleh kuasa hukum keluarga Ghofirul, Muhammad Sholeh. Sholeh menyatakan bahwa pihak keluarga sama sekali tidak pernah hadir dalam proses visum yang dilakukan TNI AL terhadap jenazah Ghofirul, yang akrab disapa Ovy.
“Itu tidak benar,” tegas Sholeh, Jumat (8/5/2026).
Senada dengan Sholeh, salah satu perwakilan keluarga Ghofirul, yang hanya disebut dengan inisial IS, mengatakan bahwa sejak kabar kematian Ovy diterima, pihak keluarga hanya berkomunikasi melalui telepon dengan TNI AL. IS bahkan menyimpan rekaman percakapan dengan dokter forensik dari TNI AL.
“Saya masih nyimpen rekaman dokter forensik dari TNI AL waktu telepon dan menyatakan bahwa jasad Ovy itu bersih, enggak ada luka, enggak ada lebam hanya luka jerat (leher),” ujarnya.
Akan tetapi, kondisi jenazah yang diterima keluarga di rumah duka berbeda. “Tapi setelah jenazah kami terima dan peti dibuka. Omongannya itu enggak sama (dengan kondisi jenazah),” tambah IS.
IS juga menegaskan bahwa keluarga tidak pernah datang ke RSPAL dr. Mintohardjo Jakarta untuk proses visum. Keluarga baru melihat tubuh Ovy secara langsung saat tiba di rumah duka pada 27 April 2026.
“Keluarga hanya menyaksikan pemeriksaan luar yang dilakukan oleh dokter yang ditunjuk oleh pihak keluarga itupun dilakukan saat peti di buka di rumah duka,” ungkapnya.
Pihak keluarga juga mengeluhkan kurangnya transparansi informasi dari TNI AL. Mereka menyebut tidak ada data kronologi maupun bukti foto kematian Ovy yang diberikan kepada keluarga.
Riwayat Dugaan Penganiayaan dan Penemuan Lebam
Sebelum kematiannya, pihak keluarga kerap menerima pesan dan telepon dari Ovy yang menyatakan sering mendapat penganiayaan dari puluhan orang yang diduga seniornya di KRI dr Radjiman Wedyodiningrat. Tak lama kemudian, dua orang yang mengaku komandan Ovy mendatangi keluarga dan menyatakan bahwa Ovy kabur.
Namun, sehari setelah itu, tepatnya pada 26 April 2026, keluarga justru mendapat kabar bahwa Ovy tewas bunuh diri di kamarnya. Jenazah Ovy kemudian diserahkan kepada keluarga pada 27 April 2026 sekitar pukul 01.30 WIB. Saat peti jenazah dibuka, pihak keluarga menemukan banyak lebam di tubuh almarhum.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
