PPGKEMENAG.ID — Pemerintah Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, telah menyiapkan sedikitnya 250 tangki air bersih sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan selama musim kemarau. Kesiapan ini dilakukan menyusul prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang memprediksi musim kemarau di Cilacap akan dimulai pada dasarian kedua bulan Mei ini.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Taryo, mengungkapkan bahwa krisis air bersih merupakan persoalan utama yang kerap dihadapi warga pada musim kemarau. Oleh karena itu, persiapan pasokan air bersih menjadi prioritas.
“Salah satu yang paling utama terkait ketersediaan air bersih, kami sudah siapkan saat ini ada 250 tangki air bersih,” kata Taryo kepada wartawan pada Jumat (8/5/2026).
Untuk memastikan kebutuhan air bersih terpenuhi, BPBD Cilacap juga akan menggandeng berbagai pihak. Bantuan akan datang dari Palang Merah Indonesia (PMI), Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), serta dukungan program Corporate Social Responsibility (CSR) dari sejumlah perusahaan swasta.
“Kalau kekurangan, kami minta support mereka,” ujar Taryo, menegaskan pentingnya kolaborasi tersebut.
Meski demikian, hingga saat ini BPBD Cilacap belum menerima permohonan bantuan air bersih dari masyarakat di wilayah mana pun.
Puncak Kemarau Diprediksi Agustus
Bantuan air bersih kemungkinan baru akan mulai didistribusikan pada akhir Mei atau Juni mendatang, seiring dengan mulai terasa dampaknya. Taryo menjelaskan bahwa berdasarkan paparan dari BMKG, musim kemarau akan diawali pada dasarian kedua bulan Mei di wilayah Cilacap bagian timur.
“Sampai saat ini belum ada permohonan bantuan air bersih. Paparan dari BMKG, musim kemarau akan dimulai dasarian kedua bulan Mei di wilayah Cilacap bagian timur,” jelas Taryo.
Adapun puncak musim kemarau di Cilacap diperkirakan akan terjadi pada bulan Agustus. Secara keseluruhan, musim kemarau diproyeksikan akan berlangsung selama lima hingga enam bulan, atau sampai dengan bulan Oktober.
“Musim kemarau di Cilacap diperkirakan akan berlangsung selama lima hingga enam bulan atau sampai Oktober. Sedangkan puncak musim kemarau akan terjadi di bulan Agustus,” tambah Taryo.
Dalam hal logistik, Taryo memaparkan bahwa pihaknya telah menyiapkan tiga unit truk tangki untuk pengiriman bantuan air bersih. Dua unit berasal dari Posko Induk, sementara satu unit lainnya disiagakan di Posko Majenang.
BPBD Cilacap juga tidak menutup kemungkinan untuk menambah armada. “Kami juga sudah mengajukan permohonan kepada Pemerintah Provinsi untuk menambah satu armada truk,” kata Taryo, menunjukkan upaya proaktif dalam menghadapi tantangan kekeringan.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
