— Warga di bantaran Waduk Saguling, tepatnya di Kampung Bonceret, Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, kini dihantui serangan nyamuk dalam jumlah luar biasa selama lima bulan terakhir. Ledakan populasi serangga ini disinyalir kuat dipicu oleh rapatnya tanaman eceng gondok yang menutupi permukaan air di perairan waduk.

Gerombolan nyamuk dilaporkan menyerang hampir sepanjang hari, mulai dari siang hingga malam, membuat aktivitas harian warga terganggu. Mereka memenuhi permukiman dan mengerubuti siapa pun yang berada di luar maupun di dalam rumah.

“Jadi, siang hari juga banyak bergerombol. Bukan hanya di rumah, di luar rumah juga banyak. Apalagi kalau pakai baju warna gelap, pasti dikerubuti. Kalau malam makin banyak lagi,” kata Anung Sudrajat (55), warga RW 10 Kampung Bonceret, pada Jumat (8/5/2026).

Identifikasi Nyamuk dan Dampaknya

Menurut Anung, nyamuk yang menyerang memiliki ciri fisik yang berbeda dari nyamuk rumah pada umumnya. Ukurannya disebut lebih besar, dengan corak belang dan warna kuning kecoklatan.

“Kami belum tahu ini jelas nyamuk apa, berbahaya atau tidak. Yang jelas mereka datang dari perairan waduk yang tertutup eceng gondok,” ujar Anung.

Keluhan Kesehatan Warga

Akibat gigitan nyamuk tersebut, sejumlah warga mengalami keluhan yang bervariasi. Mulai dari rasa gatal biasa, munculnya bentol beruntus, hingga luka pada kulit akibat garukan intens.

Warga berharap pemerintah atau pihak terkait segera melakukan penelitian untuk mengidentifikasi jenis nyamuk ini dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. “Kami enggak tahu apakah ini berdampak terhadap kesehatan atau tidak. Mudah-mudahan ada titik terang,” tutur Anung.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh Uus (60), warga lainnya. Ia mengaitkan peningkatan populasi nyamuk dengan meluasnya eceng gondok di Waduk Saguling, terutama saat debit air meningkat.

“Setiap hari kami merasa terganggu oleh nyamuk ini, pemicunya eceng gondok, apalagi kondisi air ketika naik,” ucap Uus.

Menurutnya, pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali diduga mengganggu ekosistem waduk dan menjadi pemicu utama berkembang biaknya nyamuk secara cepat di kawasan tersebut.

“Kalau eceng gondok banyak, jadi ikan pada di bawah, akhirnya nyamuk berkembang biak dengan cepat. Mudah-mudahan eceng gondok ini cepat diangkut,” tuturnya.

Ancaman Eceng Gondok di Waduk Saguling

Sebelumnya, dilaporkan bahwa sekitar 94 hektare area Waduk Saguling kini diselimuti eceng gondok yang tumbuh masif dan menyebar di permukaan perairan. Kondisi ini bukan hanya menjadi gangguan bagi warga, tetapi juga ancaman baru bagi ekosistem waduk sekaligus fungsi vitalnya sebagai sumber energi listrik Jawa-Bali.

Doni Bakar, Senior Manager PLN Indonesia Power (IP) UBP Saguling, menjelaskan bahwa pertumbuhan eceng gondok di waduk tidak terlepas dari tingginya beban pencemaran, termasuk sampah yang masuk melalui Sungai Citarum. Kondisi ini kemudian memicu proses ekologis berantai.

“Sampah yang menumpuk akan memicu pertumbuhan eceng gondok. Jika eceng gondok semakin banyak, sedimentasi waduk akan meningkat sehingga daya tampung air berkurang,” ujar Doni saat ditemui di Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, Kamis (7/5/2026).

Dampak pada Operasional PLTA

Doni menambahkan, penyebaran eceng gondok yang tidak terkendali dapat mengganggu kualitas air dan mempercepat pendangkalan waduk. Situasi ini secara langsung berdampak pada kapasitas tampungan air yang merupakan penopang utama operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Saguling.

“Ketika kapasitas air menurun, operasional PLTA juga akan terdampak karena pasokan air menjadi berkurang,” ucap Doni.

Saat ini, IP Saguling terus berupaya melakukan penanganan bertahap dengan pembersihan di sejumlah titik. Area terdampak dibersihkan secara bergiliran mengingat luasnya sebaran eceng gondok di permukaan waduk yang tidak memungkinkan penanganan instan.

“Saat ini di Waduk Saguling terpetakan sekitar 94 hektare area yang dipenuhi eceng gondok. Kami melakukan pembersihan secara bertahap dari satu area ke area lainnya,” kata Doni.