— Ancaman Hantavirus kembali menjadi sorotan setelah insiden di kapal pesiar MV Hondius menewaskan tiga orang. Virus zoonosis ini dikenal memiliki tingkat kematian yang mengkhawatirkan, bahkan bisa mencapai 50 persen dari total kasus yang terinfeksi.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, sebanyak 251 orang di Indonesia masuk kategori suspek Hantavirus sepanjang periode 2024 hingga 2026. Dari jumlah itu, 23 kasus positif telah terkonfirmasi dan tersebar di sembilan provinsi, dengan DKI Jakarta dan DI Yogyakarta mencatat temuan terbanyak.

Pakar epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (Unair), Laura Navika Yamani, menjelaskan bahwa kemunculan kasus di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar tidak serta-merta mengindikasikan penularan terjadi di lokasi tersebut. Ia menyoroti masa inkubasi virus yang panjang.

“Virus ini memiliki masa inkubasi yang bisa berlangsung hingga beberapa minggu. Jadi sangat mungkin seseorang sudah terpapar sebelum naik kapal, namun gejalanya baru muncul ketika sudah berpindah tempat,”

ujar Laura, Jumat (8/5/2026).

Penularan dari Partikel Kotoran Tikus

Laura menguraikan, Hantavirus menular ke manusia melalui partikel mikroskopis yang berasal dari urin, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi. Penularan dapat terjadi hanya dengan menghirup udara yang terkontaminasi partikel tersebut, tanpa perlu kontak langsung dengan hewan pembawa.

Menurutnya, area dengan populasi tikus yang tinggi memiliki risiko penularan yang lebih besar.

“Perubahan iklim dan pergeseran habitat hewan juga bisa memengaruhi penyebaran reservoir. Aktivitas manusia di wilayah baru, meningkatnya ekowisata, turut memperbesar risiko paparan penyakit zoonosis,”

tambah Laura.

Laura juga menambahkan bahwa mayoritas strain Hantavirus tidak menular antarmanusia. Namun, ia mencatat adanya strain tertentu, seperti Andes virus, yang memiliki kemampuan penularan terbatas dari manusia ke manusia. Oleh karena itu, investigasi epidemiologis tetap krusial.

Bisa Sebabkan Pneumonia Berat

Gejala awal infeksi Hantavirus sering kali mirip dengan penyakit umum, meliputi demam, lemas, dan gangguan pencernaan. Namun, kondisi pasien dapat memburuk dengan cepat, memicu pneumonia berat, Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), hingga syok yang mengancam nyawa.

“Bentuk paling berbahaya dari infeksi ini adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS. Angka kematiannya berkisar antara 30 hingga 50 persen, dan angka itu bisa jauh lebih tinggi bila penanganan medis terlambat diberikan,”

tegas Laura. Sebagai Sekretaris Lembaga Penyakit Tropis Unair, ia menggarisbawahi pentingnya menjaga sanitasi lingkungan, meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala awal, serta memperkuat edukasi publik mengenai risiko Hantavirus.