PPGKEMENAG.ID — Luas lahan penanaman kedelai di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, menyusut drastis dari sekitar 30.000 hektar pada tahun 2017 menjadi hanya 351 hektar saat ini. Penurunan signifikan ini terjadi karena petani setempat beralih menanam komoditas lain seperti padi dan jagung yang dinilai lebih menguntungkan.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo, Tri Budi Widodo, mengungkapkan bahwa lahan kedelai yang tersisa kini hanya tersebar di empat kecamatan. Ia menjelaskan perubahan pola tanam ini menjadi penyebab utama terus menurunnya produksi kedelai lokal dalam beberapa tahun terakhir.
Modernisasi Irigasi Dorong Pergeseran Pola Tanam
Tri Budi Widodo menjelaskan, perbaikan infrastruktur pengairan menjadi faktor krusial di balik keputusan petani. Dahulu, kedelai menjadi pilihan karena tanaman ini membutuhkan air yang relatif sedikit.
Namun, dengan kondisi irigasi yang semakin baik, petani kini lebih memilih menanam padi dan jagung. “Petani beralih ke tanaman yang lebih menguntungkan. Padi dan jagung lebih menjanjikan. Apalagi sekarang pengairan sudah bagus, terutama setelah ada Waduk Bendo,” ujar Tri Budi.
Wilayah seperti Siman, Mlarak, Jetis, dan Sawoo kini bahkan mampu melakukan tanam padi hingga tiga kali setahun, berkat ketersediaan air yang melimpah. Sementara itu, satu kali panen kedelai di Ponorogo hanya menghasilkan sekitar 1,4 ton dengan usia tanam 70 hingga 80 hari.
“Dulu petani memilih kedelai karena minim air. Sekarang air sudah lancar, jadi mereka lebih memilih padi dan jagung karena hasil dan pemasarannya lebih cepat,” kata Tri Budi menegaskan.
Bantuan Stimulan Tak Mampu Dongkrak Minat Petani
Pemerintah pusat sebenarnya telah berupaya memberikan bantuan stimulan untuk mendukung petani kedelai. Namun, program ini tidak berjalan efektif lantaran rendahnya minat petani.
“Dari pemerintah pusat sebenarnya ada bantuan stimulan. Syaratnya minimal satu kelompok memiliki lahan lima hektar. Tapi sejak 2018 petani sudah banyak yang menolak menanam kedelai,” terang Tri Budi.
Dampak dari anjloknya produksi kedelai lokal ini turut dirasakan langsung oleh industri pengolahan tahu dan tempe di Ponorogo. Para perajin kini sangat bergantung pada pasokan kedelai impor untuk memenuhi kebutuhan produksi mereka.
“Kedelai lokal sekarang sangat terbatas, jadi ya terpaksa menggunakan impor,” pungkasnya.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
