PPGKEMENAG.ID — Ratusan warga di bantaran Waduk Saguling, Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, menuntut pembersihan eceng gondok yang menumpuk di area waduk. Tuntutan ini muncul setelah warga “diteror” serangan nyamuk masif yang diyakini berasal dari gulma tersebut selama berbulan-bulan terakhir.
Kepala Desa Rancapanggung, Asep Sukma Jaya, mengungkapkan bahwa tumpukan eceng gondok di perairan Waduk Saguling menjadi pemicu utama berkembangbiaknya nyamuk. Nyamuk-nyamuk ini kemudian menyebar ke daratan dan menyerang permukiman warga hampir sepanjang hari.
“Ke depannya, kami mohon untuk ada pengangkutan. Bagaimana caranya eceng gondok itu bisa dimusnahkan. Karena untuk pemberantasan bukan di wewenang kami. Itu otoritas di IP Saguling,” kata Asep saat ditemui di bantaran Waduk Saguling, Jumat (7/5/2026).
Fenomena ledakan nyamuk ini sudah terjadi sejak dua hingga tiga bulan terakhir. Asep menyatakan keheranannya atas populasi nyamuk yang berkelompok dan kini telah meluas ke berbagai wilayah permukiman.
“Untuk di wilayah kami ini kejadiannya sudah sejak dua atau tiga bulan ke belakang. Saya juga heran nyamuk ini berkelompok dan sekarang sudah menyebar ke daratan,” ujarnya.
Serangan nyamuk tersebut telah menimbulkan keluhan kesehatan pada warga, terutama gangguan pada kulit akibat gigitan. Asep menjelaskan bahwa gigitan nyamuk sering menyebabkan koreng, bercak merah, dan kemudian menghitam.
“Kalau bekas gigitannya digaruk suka menyebabkan koreng. Ada bercak merah lalu menjadi hitam. Tapi sementara ini belum berdampak ke penyakit dalam,” tambahnya.
Pemerintah desa telah berupaya menekan serangan nyamuk dengan bekerja sama dengan Puskesmas Mukapayung. Tim dari puskesmas telah turun ke desa untuk memeriksa kesehatan warga dan melakukan fogging.
“Kita sudah bekerja sama dengan Puskesmas Mukapayung, mereka juga sudah turun ke desa kami untuk memeriksa kesehatan dan melakukan fogging,” kata Asep.
Wilayah Terdampak Meluas
Berdasarkan asesmen yang dilakukan, wilayah yang terdampak serangan nyamuk meliputi RW 5, RW 8, RW 9, dan RW 10 di Desa Rancapanggung. Selain itu, Asep juga menerima laporan bahwa serangan nyamuk meluas hingga ke beberapa desa tetangga di bantaran Waduk Saguling.
“Yang saya dengar warga di desa Mukapayung, desa Bongas, dan beberapa wilayah yang berada di bantaran waduk Saguling,” tuturnya.
Anung Sudrajat (55), warga RW 10 Kampung Bonceret, turut mengeluhkan serangan nyamuk yang masif di wilayahnya. Ia menggambarkan nyamuk-nyamuk tersebut bergerombol bahkan pada siang hari, baik di dalam maupun di luar rumah.
“Jadi siang hari juga banyak bergerombol. Bukan hanya di rumah, di luar rumah juga banyak. Apalagi kalau pakai baju warna gelap pasti dikerubuti. Kalau malam makin banyak lagi,” ujar Anung.
Menurut Anung, nyamuk yang menyerang memiliki ciri berbeda dari nyamuk rumah pada umumnya. Ukurannya disebut lebih besar dengan corak belang dan warna kuning kecoklatan. Meski demikian, jenis nyamuk dan potensi bahayanya masih belum diketahui secara pasti.
“Kita belum tahu ini jelas nyamuk apa, berbahaya atau tidak. Yang jelas mereka datang dari perairan waduk yang tertutup eceng gondok,” pungkas Anung.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
