PPGKEMENAG.ID — Ketika masyarakat global berjibaku menghadapi lonjakan biaya hidup imbas perang Iran, sejumlah korporasi raksasa justru meraup laba berlimpah. Konflik yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada 28 Februari tersebut, berujung pada penutupan Selat Hormuz oleh Teheran, jalur vital bagi 20 persen pasokan minyak dunia.
Penutupan jalur krusial ini sontak memicu lonjakan harga energi dan komoditas turunannya, menciptakan efek domino pada pengeluaran rumah tangga, perusahaan, hingga anggaran pemerintah di berbagai negara. Ironisnya, di tengah krisis yang membelit, beberapa sektor bisnis justru mencetak rekor pendapatan, berkat karakteristik usahanya yang diuntungkan oleh kondisi perang dan volatilitas harga energi.
Perusahaan Minyak dan Gas
Dampak ekonomi paling signifikan dari perang ini adalah meroketnya harga energi. Terhentinya pengiriman minyak dan gas melalui Selat Hormuz sejak akhir Februari lalu, yang merupakan rute bagi seperlima pasokan energi dunia, menjadi pemicu utamanya.
Situasi ini membawa keuntungan besar bagi raksasa minyak asal Eropa yang memiliki unit perdagangan yang kuat. BP, misalnya, melaporkan laba kuartal pertama tahun ini naik lebih dari dua kali lipat, mencapai 3,2 miliar dollar AS. Pihak perusahaan menggarisbawahi capaian ini sebagai performa “luar biasa” dari divisi perdagangan mereka.
Senada dengan BP, Shell juga melampaui ekspektasi analis dengan mencatatkan laba kuartal pertama sebesar 6,92 miliar dollar AS. Sementara itu, raksasa minyak Perancis, TotalEnergies, berhasil membukukan kenaikan laba hampir sepertiga menjadi 5,4 miliar dollar AS pada periode yang sama.
Di sisi lain, raksasa AS seperti ExxonMobil dan Chevron memang mengalami penurunan pendapatan dibandingkan tahun sebelumnya akibat gangguan pasokan. Kendati demikian, keduanya tetap melampaui prediksi analis dan optimistis bahwa laba akan terus bertumbuh seiring dengan harga minyak yang diproyeksikan tetap tinggi.
Sektor Perbankan dan Investasi
Gejolak pasar finansial ternyata juga membawa berkah tersendiri bagi bank-bank besar. Lini perdagangan JP Morgan mencatatkan rekor pendapatan sebesar 11,6 miliar dollar AS dalam tiga bulan pertama tahun 2026.
Secara keseluruhan, kelompok “Big Six” perbankan AS, yang meliputi Bank of America, Morgan Stanley, Citigroup, Goldman Sachs, dan Wells Fargo, berhasil meraup total laba 47,7 miliar dollar AS.
“Volume perdagangan yang besar telah menguntungkan bank investasi, khususnya Morgan Stanley dan Goldman Sachs,” ujar Susannah Streeter, kepala strategi investasi di Wealth Club.
Menurut Streeter, banyak investor berbondong-bondong melepas aset berisiko dan beralih ke aset aman, atau justru mencoba memanfaatkan volatilitas pasar. “Volatilitas yang dipicu oleh perang telah menyebabkan lonjakan perdagangan, karena beberapa investor menjual saham karena takut akan eskalasi, sementara yang lain membeli saat harga turun,” tambahnya.
Sektor Pertahanan
Sektor pertahanan secara langsung menjadi penerima manfaat paling besar dalam setiap konflik. Emily Sawicz, analis senior di RSM UK, menjelaskan bahwa perang ini telah mendorong percepatan investasi militer secara signifikan.
“Konflik ini telah memperkuat adanya celah dalam kemampuan pertahanan udara, sehingga mempercepat investasi dalam pertahanan rudal, sistem kontra-drone, dan perangkat keras militer di seluruh Eropa dan AS,” kata Sawicz kepada BBC.
BAE Systems, produsen komponen jet tempur F35, memproyeksikan pertumbuhan penjualan yang kuat tahun ini seiring dengan meningkatnya pengeluaran pertahanan pemerintah global. Tiga kontraktor pertahanan terbesar dunia, yakni Lockheed Martin, Boeing, dan Northrop Grumman, juga melaporkan rekor pesanan pada akhir kuartal pertama 2026.
Sektor Energi Terbarukan
Menariknya, konflik ini juga turut mempercepat peralihan menuju energi terbarukan sebagai upaya melepaskan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Susannah Streeter menyoroti bahwa perang telah menjadikan investasi energi bersih dianggap krusial bagi stabilitas dan ketahanan suatu negara.
NextEra Energy yang berbasis di Florida mencatat kenaikan saham sebesar 17 persen tahun ini. Tren positif serupa juga dirasakan oleh perusahaan turbin angin asal Denmark, Vestas dan Orsted.
Di Inggris, Octopus Energy melaporkan lonjakan penjualan panel surya hingga 50 persen sejak akhir Februari. Selain itu, kenaikan harga bensin turut mendorong permintaan kendaraan listrik, sebuah peluang yang dimanfaatkan secara maksimal oleh produsen otomotif, terutama dari China.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
