PPGKEMENAG.ID — Laporan intelijen terbaru dari Badan Intelijen Pusat (CIA) Amerika Serikat (AS) mengungkapkan bahwa Iran diperkirakan mampu bertahan dari blokade angkatan laut AS selama setidaknya empat bulan ke depan. Analisis ini mengindikasikan tekanan ekonomi yang diakibatkan blokade tersebut belum cukup parah untuk menggoyahkan Teheran dalam jangka waktu tersebut.
Seorang pejabat AS yang mengetahui asesmen ini menyebut, posisi tawar Washington terhadap Teheran masih terbatas dalam upaya mengakhiri perang. Namun, klaim tersebut segera dibantah oleh seorang pejabat senior intelijen AS yang menyebut informasi itu keliru dan menekankan dampak signifikan dari blokade tersebut.
Blokade ini memberikan dampak kerusakan nyata yang berlipat ganda—memutus perdagangan, menghancurkan pendapatan, dan mempercepat keruntuhan ekonomi sistemik.
Pernyataan tersebut muncul di tengah eskalasi konflik di Selat Hormuz dan tersendatnya upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan damai antara kedua negara.
Eskalasi di Selat Hormuz Memanas
Kondisi di lapangan menunjukkan eskalasi signifikan, dengan pertempuran di dalam dan sekitar Selat Hormuz mencapai titik tertinggi sejak gencatan senjata dimulai sebulan lalu. Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan kembali menjadi sasaran serangan pada Jumat (8/5/2026).
Militer AS menyatakan telah menyerang dua kapal terkait Iran yang mencoba memasuki pelabuhan Iran. Sebuah jet tempur AS dilaporkan menembak cerobong asap kapal tersebut dan memaksa mereka berputar balik.
Di sisi lain, kantor berita semi-pemerintah Iran, Fars, melaporkan adanya bentrokan sporadis antara pasukan Iran dan kapal-kapal AS di Selat Hormuz. Kantor berita Tasnim, yang mengutip sumber militer Iran, menyebutkan bahwa meskipun situasi sempat mereda, bentrokan susulan masih sangat mungkin terjadi.
Akibat ketegangan ini, harga minyak dunia melonjak, dengan minyak mentah Brent berada di atas 101 dollar AS per barrel.
Diplomasi Tersendat di Tengah Tuduhan Pelanggaran Gencatan Senjata
Di meja diplomasi, Washington masih menunggu tanggapan Teheran terkait proposal AS untuk mengakhiri perang secara formal, sebelum berlanjut ke isu-isu yang lebih rumit termasuk program nuklir Iran. “Kita seharusnya mengetahui sesuatu hari ini,” ujar Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio kepada wartawan di Roma, Italia. “Kami menunggu tanggapan dari mereka,” lanjutnya.
Namun, juru bicara kementerian luar negeri Iran menyatakan bahwa Teheran masih mempertimbangkan tanggapan tersebut. Hingga Jumat sore waktu Washington, belum ada laporan mengenai jawaban resmi dari pihak Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi justru menuduh AS telah melanggar gencatan senjata yang telah berlangsung sejak 7 April lalu. Ia mengkritik tindakan militer AS.
Setiap kali solusi diplomatik ada di atas meja, AS justru memilih petualangan militer yang gegabah.
Laporan dari kantor berita Iran, Mehr, menyebutkan serangan Angkatan Laut AS terhadap kapal komersial Iran pada Kamis (7/5/2026) malam telah menewaskan satu awak kapal, melukai 10 orang, dan menyebabkan empat lainnya hilang.
Konfrontasi ini terus meluas hingga ke luar Selat Hormuz. UEA menyatakan pertahanan udaranya berhasil mencegat dua rudal balistik dan tiga drone dari Iran pada Jumat, yang menyebabkan tiga orang mengalami luka ringan. Walau terjadi berbagai insiden, Presiden AS Donald Trump menyatakan pada Kamis bahwa kesepakatan gencatan senjata secara umum masih bertahan.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
