PPGKEMENAG.ID — Nadya Rizki Amatullah Nizar menunjukkan kelincahan di bawah sorotan lampu dan kamera. Tangannya cekatan memperlihatkan koleksi pakaian produksi terbarunya, sembari menjelaskan detail bahan, pola desain, warna, dan berbagai aspek lainnya dalam siaran langsung di Shopee Live.
Setelah sekitar satu menit memaparkan produknya, senyum lebar mengembang di wajahnya. Sambil menunjuk ke arah kamera, ia berseru kepada rekannya, “check out,” diikuti ucapan terima kasih kepada konsumen.
Perempuan asal Jakarta ini tidak pernah menyangka bahwa bisnis yang dirintisnya dapat berkembang sebesar sekarang. Kecintaannya terhadap dunia desain telah tumbuh sejak masa sekolah.
___KFGB0PH___
Ia kemudian memutuskan untuk menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran (Unpad) di Jatinangor, Sumedang, sembari mengambil sekolah desain selama satu tahun.
Jejak di Dunia Distro
Pengalaman di sekolah desain membawa Nadya masuk ke dunia distro yang kala itu sedang menjamur di Bandung. Ia sempat bekerja sebagai desainer di salah satu distro.
Dua tahun berselang, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya karena kesulitan membagi waktu dengan pengerjaan skripsi. Setelah lulus, Nadya memberanikan diri membangun merek distro bernama Oblea.
Dengan modal pinjaman Rp 10 juta dari orang tua, sebagian dana tersebut digunakan untuk menyewa tempat, menjadi langkah awal Nadya meniti karier sebagai wirausahawan.
Kelahiran Nadjani dan Busana Modest
Pada tahun 2010, Nadya memutuskan untuk mengenakan hijab. Kala itu, ia merasa kesulitan menemukan merek busana muslim yang sesuai dengan seleranya.
Bersamaan dengan keputusannya berhijab, ia mendapat tawaran dari Hijabers Community untuk menggelar beberapa pameran pakaian muslim. Perlahan namun pasti, Nadya semakin serius membangun merek pakaian modest-nya sendiri.
___KFGB1PH___
Napas Baru Penuh Warna
Berbeda dengan busana muslim pada masa itu yang cenderung monoton, Nadjani hadir dengan napas baru yang menyegarkan. Nadya berani menghadirkan warna-warni ceria dan motif cetak orisinal untuk koleksi-koleksinya.
Rupanya, motif dan desain yang dilempar Nadya ke pasar mendapat sambutan positif dari konsumen. Untuk memastikan produknya tidak serupa dengan yang ada di pasaran, ia mengambil inisiatif membuat sendiri motif-motif tersebut.
___KFGB2PH___
Langkah ini diambil Nadya sebagai upaya mencegah peniruan produk yang marak terjadi. Untuk itu, ia merekrut sejumlah desainer muda agar desain yang dihasilkan selalu relevan dengan tren dan selera generasi masa kini.
Ketika ditanya mengenai jumlah desain yang dibuat, Nadya tersenyum. Ia mengungkapkan bahwa setiap bulan selalu ada produk baru.
___KFGB3PH___
Pencapaian tersebut diraihnya tanpa melibatkan pinjaman bank maupun dana dari investor. Nadya juga tetap mempertahankan toko luringnya di Jakarta, Bandung, dan Surabaya, meskipun secara pendapatan, kontribusi dari e-commerce jauh lebih besar. Ini dilakukan untuk mendekatkan diri dengan konsumen.
Kontribusi Industri Fashion di Indonesia
Nadjani menjadi salah satu dari sekian banyak UMKM di bidang fesyen yang turut mewarnai geliat perekonomian Indonesia. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Reni Yanita, menjelaskan bahwa industri fesyen memiliki kontribusi signifikan terhadap perputaran ekonomi masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Kementerian Perindustrian mencatat, jumlah sektor IKM pakaian jadi mencapai sekitar 590 ribu unit usaha, yang mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 1,2 juta orang.
___KFGB4PH___
Ikuti PPGKEMENAG.ID
