PPGKEMENAG.ID — Operasi pencarian tiga pendaki yang hilang di Gunung Dukono, Halmahera Utara, Maluku Utara, memasuki hari kedua pada Sabtu (9/5/2026). Tim SAR gabungan mengerahkan 103 personel dan teknologi udara untuk memperluas area penyisiran demi melacak keberadaan korban di tengah erupsi gunung berapi tersebut.
Tiga pendaki yang masih dalam pencarian adalah dua warga negara Singapura, Heng Wen Qiang Timothy dan Shahin Muhrez bin Abdul Hamid, serta satu warga negara Indonesia atas nama Enjel.
Sebelum bergerak menuju titik pencarian, tim gabungan terlebih dahulu mengadakan rapat koordinasi dan apel bersama. Langkah ini dilakukan untuk memetakan zona bahaya dan membagi tugas di lapangan secara efektif.
Strategi Pencarian: Empat Regu dan Pemantauan Udara
Kepala Kantor SAR Ternate, Iwan Ramdani, menjelaskan bahwa tim SAR gabungan dibagi menjadi empat search and rescue unit (SRU) atau regu. Setiap regu memiliki fokus area pencarian yang berbeda.
“SRU satu, dua, dan tiga akan mencari di sekitar area seluas 700 meter persegi di lokasi-lokasi yang diduga menjadi titik terakhir para korban terlihat,” ujar Iwan pada Sabtu (9/5/2026).
Regu keempat mengemban tugas pemantauan udara dengan memanfaatkan pesawat drone milik Basarnas dan Brimob. Penggunaan teknologi ini diharapkan dapat menjangkau titik-titik curam atau area kawah yang sulit diakses oleh tim darat. Total 103 personel dikerahkan untuk menyisir jalur pendakian hingga ke puncak Gunung Dukono.
Tantangan Erupsi Susulan dan Prioritas Keselamatan
Iwan Ramdani mengakui, tantangan terbesar dalam operasi ini adalah aktivitas vulkanik Gunung Dukono yang masih fluktuatif, ditambah kondisi cuaca yang tidak menentu. Untuk memitigasi risiko, pihaknya menyiagakan petugas khusus keselamatan atau safety officer.
“Kita sudah menyiapkan safety officer yang akan berkoordinasi secara intensif dengan pos pengamatan Gunung Dukono dari PVMBG. Jika terjadi erupsi susulan, tim akan segera diperintahkan kembali ke titik aman,” terang Iwan.
Operasi SAR ini digambarkan sebagai upaya berkejaran dengan waktu dan kondisi alam. “Ini yang menjadi kendala. Kita berlomba-lomba; jika situasi terpantau aman, kita mendekat ke sekitaran kawah. Namun, jika terjadi erupsi, keselamatan personel tetap menjadi prioritas utama,” imbuhnya.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
