PPGKEMENAG.ID — Muhammad Goffi Abdullah Irawan, bayi berusia 11 bulan di Subang, Jawa Barat, harus menunda jadwal kontrol rutin ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Goffi yang mengidap hidrosefalus sejak lahir, membutuhkan perawatan pascaoperasi, namun orang tuanya kesulitan membiayai transportasi dan akomodasi.
Kondisi Goffi kian memprihatinkan lantaran kedua orang tuanya, Yudi Irawan dan Tia Haryanti, hanya bekerja sebagai buruh serabutan. Keluarga yang tinggal di Kampung Rawabadak RT 103 B RW 32, Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Subang, Kabupaten Subang, ini berharap uluran tangan para dermawan.
Meski biaya pengobatan medis telah ditanggung BPJS, Tia Haryanti mengungkapkan bahwa mereka terkendala ongkos perjalanan dan biaya hidup selama di Bandung. “Setiap kali berangkat berobat ke RSHS Bandung membutuhkan biaya sekitar Rp 700.000 untuk sewa mobil dan biaya hidup selama di rumah sakit,” ujar Tia saat ditemui di rumahnya pada Jumat (8/5/2026).
Akibat kendala ini, jadwal kontrol Goffi yang seharusnya dilaksanakan pada Kamis pekan lalu, terpaksa dibatalkan. Padahal, kontrol rutin sangat vital untuk memastikan pemulihan Goffi pascaoperasi.
Menurut Tia, kondisi kepala Goffi menunjukkan perbaikan signifikan setelah operasi. Diameter kepalanya yang semula mencapai 75 sentimeter kini mengecil menjadi sekitar 60 sentimeter. “Kata dokter Goffi beruntung keburu dibawa ke RSHS, kalau telat terancam pecah kepalanya,” tutur Tia.
Ia menambahkan, pascaoperasi, Goffi telah dipasangi selang dari kepala ke perut untuk membantu membuang cairan di kepalanya.
Perjalanan Penyakit dan Kondisi Keluarga
Tia mengisahkan, sebelum hamil Goffi, ia sempat divonis menderita kista ovarium oleh dokter kandungan di salah satu rumah sakit di Subang. Saat itu, ia disarankan untuk menjalani operasi.
Namun, Tia memilih pengobatan non-operasi karena masih berharap memiliki anak. Beberapa bulan kemudian, ia mengalami mual dan muntah terus-menerus. Setelah diperiksa, Tia ternyata sedang hamil dua bulan.
Selama masa kehamilan, Tia menjalani enam kali pemeriksaan USG. Hasilnya, kista yang sebelumnya didiagnosis telah hilang, namun dokter menemukan kelainan pada janin Goffi. “Goffi menderita hidrosefalus atau kelainan di kepala, bagian otaknya terendam cairan dan baru satu bulan lalu menjalani operasi,” jelasnya.
Selain kondisi kesehatan Goffi, keluarga ini juga menghadapi tantangan lain terkait tempat tinggal. Rumah semi permanen yang mereka tempati bersama keluarga besar terlihat sempit dan dipenuhi barang-barang rumah tangga.
Bahkan, kondisi toilet rumah disebut sangat tidak layak. Rumah keluarga Goffi sudah dua kali diajukan untuk program rehabilitasi rumah tidak layak huni (rutilahu), namun hingga kini belum terealisasi.
Bantuan Mulai Berdatangan
Kisah pilu Goffi dan keluarganya mulai menyentuh hati sejumlah dermawan. Dokter Maxi menjadi salah satu yang datang langsung ke rumah keluarga Goffi.
Ia memberikan bantuan berupa sembako dan uang tunai untuk biaya kontrol ke RSHS. “Saat ini bayi tersebut sudah menjalani operasi namun belum bisa berobat jalan karena terkendala himpitan ekonomi keluarga,” kata Maxi.
Selain itu, bantuan juga datang dari Anggota DPR RI Fraksi Golkar, Elita Budiarti, yang memberikan dana sebesar Rp 10 juta untuk pengobatan Goffi.
Dengan berbagai bantuan yang mulai mengalir, Tia berharap kondisi anaknya dapat terus membaik dan bisa hidup normal seperti anak-anak lainnya. “Saya ingin Goffi sembuh dan hidup normal. Semoga pasca operasi ini kepala cepat mengecil dan cairannya cepat keluar,” harapnya penuh asa.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
