PPGKEMENAG.ID — Enam sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di Kecamatan Tadu Raya, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh, masih lumpuh total akibat banjir yang melanda wilayah tersebut sejak Kamis (7/5/2026). Hingga Jumat (8/5/2026) siang, aktivitas belajar mengajar belum dapat dilaksanakan lantaran kondisi sekolah yang masih terendam genangan air dan dipenuhi lumpur.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nagan Raya, Zulkifli, menyatakan bahwa pihaknya terpaksa menghentikan sementara kegiatan belajar demi keselamatan para siswa. Keputusan ini diambil sebagai langkah antisipasi menyusul dampak bencana alam tersebut.
Untuk sementara enam sekolah yang berada di lokasi bencana alam banjir belum bisa melanjutkan aktivitas belajar, karena masih dilakukan pembersihan yang dilakukan oleh guru dan pegawai.
Dampak Genangan Air dan Lumpur di Sekolah
Zulkifli menjelaskan bahwa sebagian besar sekolah yang terdampak terendam air dengan ketinggian bervariasi antara 30 hingga 80 sentimeter. Kondisi ini menyebabkan ruang kelas dipenuhi air dan menyisakan endapan lumpur yang cukup tebal, membuat lingkungan sekolah tidak aman untuk kegiatan belajar.
Oleh karena itu, Dinas Pendidikan memutuskan untuk meliburkan siswa hingga kondisi dinyatakan benar-benar aman dan bersih. Saat ini, proses pembersihan ruang kelas masih terus dilakukan oleh guru dan tenaga kependidikan di masing-masing sekolah.
Adapun enam sekolah yang terdampak banjir meliputi:
- SMP Negeri 7 Kuala, Kecamatan Tadu Raya
- SD Negeri Alue Bata, Kecamatan Tadu Raya
- SD Negeri Tarong Ijo, Kecamatan Tadu Raya
- SD Negeri Tadu Ateuh, Kecamatan Tadu Raya
- SD Negeri Gunong Geulugo, Kecamatan Tadu Raya
- SD Negeri Pante Cermen, Kecamatan Seunagan
Fasilitas Pendidikan Rusak dan Imbauan Kewaspadaan
Banjir tidak hanya merendam ruang kelas, tetapi juga merusak berbagai fasilitas penunjang pendidikan. Lumpur yang tertinggal di dalam ruangan menghambat proses belajar untuk segera dimulai. Selain itu, peralatan belajar mengajar seperti meja, kursi, dan perlengkapan lainnya berpotensi mengalami kerusakan serius akibat terendam air.
Zulkifli menegaskan bahwa pemantauan dan koordinasi intensif terus dilakukan dengan kepala sekolah untuk menentukan waktu yang tepat dimulainya kembali kegiatan belajar mengajar.
Kami mengimbau para orang tua untuk tetap waspada dan mengawasi anak-anak, mengingat kondisi cuaca yang belum menentu. Jika kondisi sekolah dinyatakan aman serta bersih dari lumpur sisa banjir, barulah aktivitas belajar akan kembali normal.
Penyebab Banjir dan Dampak pada Infrastruktur
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nagan Raya menjelaskan, banjir terjadi akibat tingginya intensitas hujan yang disertai angin kencang selama dua hari terakhir. Kepala BPBD Nagan Raya, Irfanda Rinaldi, menyebut kondisi tersebut menyebabkan debit air di sejumlah sungai meningkat drastis hingga meluap ke permukiman warga.
Akibat hujan deras dan angin kencang sejak dua hari terakhir, debit air di beberapa sungai meluap hingga menggenangi permukiman masyarakat. Saat ini akses jalan lintas Meulaboh – Tapak Tuan terputus dan tidak bisa dilalui kendaraan.
Luapan air tersebut berasal dari beberapa sungai utama, di antaranya Krueng Kulu di Kecamatan Seunagan Timur dan Krueng Tadu di Kecamatan Tadu Raya.
Gangguan Transportasi dan Permukiman Warga
Banjir di Nagan Raya tidak hanya berdampak pada sektor pendidikan, tetapi juga mengganggu aktivitas masyarakat secara luas. Akses jalan lintas provinsi yang menghubungkan Meulaboh dengan Tapak Tuan terendam air setinggi 30 hingga 50 sentimeter. Akibatnya, jalur transportasi utama di wilayah pantai barat selatan Aceh terputus dan tidak dapat dilalui kendaraan secara normal.
Untuk saat ini akses transportasi utama di jalan lintas provinsi masih terendam air. Akses jalan lintas belum bisa dilintasi secara normal.
Selain itu, air juga mulai masuk ke rumah-rumah warga yang berada di bantaran sungai, khususnya di Kecamatan Seunagan Timur dan Tadu Raya, menambah daftar panjang dampak bencana ini terhadap kehidupan masyarakat.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
