PPGKEMENAG.ID — Meski anak telah mengonsumsi makanan pendamping ASI (MPASI), banyak orang tua yang kerap menganggap peran Air Susu Ibu (ASI) tidak lagi sepenting sebelumnya. Padahal, secara medis, pemberian ASI tetap direkomendasikan hingga anak berusia dua tahun atau bahkan lebih, mengingat segudang manfaatnya bagi kesehatan dan tumbuh kembang optimal.
Dokter Spesialis Anak, dr. Kurniawan Satria Denta, yang berpraktik di Mayapada Hospital dan Klinik Utama KiDi, menjelaskan bahwa fungsi ASI tidak hanya sebatas sumber nutrisi. ASI juga kaya akan berbagai komponen esensial yang tetap dibutuhkan anak, sekalipun mereka sudah mulai menyantap makanan keluarga.
“Secara medis, ASI memang dianjurkan hingga usia dua tahun atau lebih karena selain nutrisi, ASI juga mengandung antibodi, sel imun, hormon, dan faktor pertumbuhan yang masih sangat bermanfaat untuk anak,” ujar dr. Denta.
Menurut dr. Denta, MPASI dan ASI seharusnya dipandang sebagai dua elemen yang saling melengkapi, bukan saling menggantikan. Anak tetap membutuhkan asupan ASI di tengah fase tumbuh kembangnya yang semakin aktif.
ASI Tetap Perkuat Daya Tahan Tubuh Anak
Memasuki usia satu tahun, anak cenderung lebih sering beraktivitas di luar rumah, mulai bergabung dengan daycare, atau berinteraksi dengan lebih banyak orang. Kondisi ini secara otomatis meningkatkan risiko paparan infeksi.
Dalam situasi demikian, ASI memegang peranan krusial dalam membantu menjaga daya tahan tubuh anak.
“ASI berperan besar dalam daya tahan tubuh karena mengandung antibodi dan faktor imun aktif,” kata dr. Denta.
Ia menambahkan, anak-anak yang masih mendapatkan ASI cenderung memiliki perlindungan ekstra terhadap infeksi saluran pernapasan dan diare. Selain itu, ASI juga efektif mempercepat proses pemulihan saat anak sedang sakit.
“Pada anak yang mulai sekolah atau daycare dan sering terpapar infeksi, ASI membantu menurunkan risiko sakit dan mempercepat pemulihan,” ujarnya.
Lebih dari Sekadar Nutrisi
Selain mendukung sistem imun, ASI di tahun kedua kehidupan anak juga bermanfaat untuk perkembangan otak dan menjaga hidrasi. Manfaat ini terutama terasa saat anak sedang susah makan atau mengalami gerakan tutup mulut (GTM).
Dr. Denta juga menyoroti peran emosional ASI yang penting, yakni sebagai jembatan untuk membangun kedekatan antara ibu dan anak.
“ASI juga menjadi emotional bonding antara ibu dan anak,” katanya.
Oleh karena itu, menyusui anak di atas usia satu tahun tidak bisa hanya dipandang sebagai sebuah kebiasaan semata.
Mitos Kualitas ASI Menurun Terbantahkan
Di tengah masyarakat, masih beredar anggapan bahwa kualitas ASI akan menurun seiring bertambahnya usia anak. Namun, dr. Kurniawan Satria Denta dengan tegas menyatakan bahwa hal tersebut adalah miskonsepsi.
“ASI tidak berubah jadi air putih,” ujarnya.
Beberapa penelitian justru menunjukkan bahwa kandungan lemak dan antibodi dalam ASI pada tahun kedua kehidupan anak tetap tinggi dan sangat bermanfaat. Dengan demikian, para ibu tidak perlu ragu atau khawatir untuk melanjutkan proses menyusui hingga usia dua tahun atau lebih.
Ibu Tidak Perlu Merasa Terbebani
Meski demikian, dr. Denta memahami bahwa perjalanan menyusui tidak selalu berjalan mulus, terutama bagi ibu bekerja atau yang menghadapi kendala produksi ASI.
Ia menekankan pentingnya dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar agar ibu dapat menjalani proses menyusui dengan lebih nyaman.
“Memberikan ASI pada dasarnya tidak hanya tanggung jawab ibu semata, tapi seluruh anggota keluarga dan masyarakat harus siap jadi support system ibu,” kata dia.
Dr. Denta juga mengingatkan para ibu untuk tidak merasa gagal apabila perjalanan menyusui mereka tidak berjalan sempurna sesuai harapan.
“Yang penting adalah mencari pola yang realistis dan tidak terlalu membebani diri sendiri,” ujar dr. Denta.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
