— Meski risiko penularan Hantavirus di Indonesia tergolong rendah, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat sejumlah faktor yang mendukung tingginya paparan terhadap hewan pengerat, terutama tikus. Epidemiolog dari Griffith University, Dr. Dicky Budiman, PhD, menyebut beberapa kelompok masyarakat memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap virus ini.

Dr. Dicky menjelaskan, Hantavirus sangat erat kaitannya dengan keberadaan rodensia atau tikus sebagai reservoir utama virus. Penularan paling sering terjadi saat seseorang menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang membawa virus. Oleh karena itu, individu yang sering berada di lingkungan dengan infestasi tikus berisiko lebih besar dibandingkan masyarakat umum.

Kelompok yang Lebih Rentan Terpapar

Menurut Dr. Dicky, ada beberapa kelompok yang perlu lebih waspada karena aktivitas sehari-hari mereka sering bersentuhan dengan lingkungan berisiko. Kelompok tersebut meliputi:

  • Petugas kebersihan
  • Pekerja gudang
  • Pekerja pelabuhan
  • Petani
  • Petugas pengangkut sampah

Selain itu, masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di lingkungan dengan sanitasi buruk dan banyak tikus juga perlu meningkatkan kewaspadaan. “Area pergudangan, pelabuhan, maupun tempat penyimpanan yang lembap dan kurang bersih memang lebih berpotensi menjadi lokasi paparan,” ujar Dr. Dicky.

Ia menambahkan, risiko paparan juga dapat meningkat saat musim hujan dan banjir. Kondisi ini membuat tikus lebih mudah masuk ke permukiman warga, sehingga meningkatkan kemungkinan manusia terpapar lingkungan yang tercemar.

Gejala Serupa Penyakit Lain Menjadi Tantangan

Salah satu tantangan utama dalam mendeteksi Hantavirus adalah gejalanya yang kerap menyerupai penyakit lain. Pada tahap awal, pasien umumnya mengalami demam, nyeri otot, tubuh lemas, mual, hingga sakit kepala. Dalam beberapa kasus, kondisi dapat berkembang cepat menjadi sesak napas berat akibat paru-paru terisi cairan.

Di Indonesia, Hantavirus berpotensi mengalami underdiagnosed atau tidak terdeteksi karena gejalanya mirip dengan leptospirosis, demam berdarah, maupun pneumonia berat. Oleh karena itu, seseorang yang mengalami gejala tersebut setelah terpapar lingkungan dengan banyak tikus disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Penularan Antarmanusia Terbatas

Meskipun sering menimbulkan kekhawatiran, Dr. Dicky menegaskan bahwa Hantavirus tidak menyebar semudah Covid-19. Penularan antarmanusia sangat terbatas, dan sebagian besar kasus terjadi akibat paparan lingkungan yang terkontaminasi tikus. “Hantavirus lebih merupakan penyakit zoonosis dari lingkungan, bukan virus yang menyebar cepat antar manusia,” jelasnya.

Meski demikian, masyarakat tetap diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, serta menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang kotor atau berpotensi terkontaminasi. Dr. Dicky menekankan, langkah sederhana ini penting untuk menurunkan risiko penularan sekaligus menjaga kesehatan lingkungan secara umum.