— Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), Vance, mengadakan pertemuan penting dengan Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed Bin Abdul Rahman al-Thani di Washington pada Jumat (8/5/2026). Pembahasan utama pertemuan tersebut adalah upaya mediasi krusial antara AS dan Iran, sebuah peran yang telah lama diemban Qatar di balik layar. Al-Thani sendiri melakukan perjalanan singkat ke Washington dan langsung meninggalkan AS segera setelah pertemuan tersebut.

Meskipun Pakistan secara resmi menjadi mediator utama antara Washington dan Teheran, Qatar dikenal sangat aktif berperan di balik layar. Gedung Putih bahkan memandang Doha sangat efektif dalam negosiasi dengan Iran, demikian dilaporkan media AS Axios mengutip sejumlah pejabat AS.

Bahas Upaya Mediasi AS dan Iran

Kementerian Luar Negeri Qatar mengonfirmasi bahwa pertemuan antara Vance dan al-Thani memang membahas upaya mediasi antara AS dan Iran. Dalam pernyataan resminya, Qatar menekankan pentingnya respons positif dari semua pihak.

“Selama pertemuan tersebut, Perdana Menteri menekankan perlunya semua pihak untuk menanggapi secara positif upaya mediasi yang sedang berlangsung,” demikian bunyi pernyataan Qatar.

“Dengan cara yang akan membuka jalan untuk mengatasi akar penyebab krisis melalui cara damai dan dialog, dan mengarah pada tercapainya kesepakatan komprehensif yang mewujudkan perdamaian abadi di kawasan tersebut,” lanjut pernyataan itu.

Beberapa minggu terakhir, Qatar kembali mengintensifkan upaya mediasi rahasia mereka. Doha disebut menjadi salah satu dari tiga jalur komunikasi rahasia antara AS dan Iran. Menurut dua sumber yang mengetahui situasi ini, Qatar memanfaatkan koneksi mereka dengan para jenderal senior Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang terlibat dalam pengambilan keputusan di Teheran dalam negosiasi dengan AS.

Upaya mediasi Qatar juga dikoordinasikan dengan mediator Pakistan. Al-Thani diketahui telah berbicara dengan Perdana Menteri Pakistan pada Kamis (7/5/2026) sebelum bertolak ke Washington.

Peran Qatar dalam Negosiasi AS dan Iran

Qatar memiliki rekam jejak panjang dalam mediasi negosiasi antara AS dan Iran, termasuk sebelum perang pada Juni 2025 dan sebelum konflik yang sedang berlangsung saat ini. Para pejabat senior Doha kerap menghadiri sebagian besar pertemuan dan mendukung pembicaraan di balik layar, termasuk pertemuan terakhir antara kedua pihak di Jenewa dua hari sebelum pecahnya perang.

Qatar juga terlibat dalam upaya diplomatik untuk mengakhiri perang pada Juni 2025 setelah negara itu diserang oleh Iran. Dalam perang terbaru, Teheran kembali menyerang Qatar dengan rudal dan drone, yang dibalas dengan penembakan jatuh jet tempur Iran oleh Doha.

Menurut sebuah sumber regional, ada periode di mana Qatar sempat memberi tahu Washington bahwa mereka tidak akan melanjutkan peran sebagai mediator antara AS dan Iran. Namun, Amerika Serikat kemudian mendesak Qatar untuk kembali melanjutkan upaya mediasi mereka.

Bahkan, Presiden Trump secara pribadi membahas hal ini dengan Emir Sheikh Tamim al-Thani. Saat ini, Gedung Putih masih menanti tanggapan Iran terhadap nota kesepahaman (MOU) yang diajukan untuk mengakhiri perang dan menetapkan kerangka kerja negosiasi nuklir yang lebih rinci. Menteri Luar Negeri AS Rubio menyatakan kepada wartawan pada Jumat (8/5/2026) bahwa ia memperkirakan Iran akan mengirimkan tanggapannya pada hari itu juga.