— Washington dan Teheran saat ini tengah mempertimbangkan kesepakatan baru terkait program nuklir Iran. Namun, sejumlah ahli memperingatkan bahwa Amerika Serikat (AS) mungkin tidak akan memperoleh keuntungan signifikan, bahkan dibandingkan kesepakatan era Presiden Barack Obama.

Pada 8 Mei 2026, genap delapan tahun sejak Presiden AS saat itu, Donald Trump, mengecam dan menarik AS dari Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA). Perjanjian yang diadopsi pada 2015 itu membatasi program pengayaan nuklir Iran sebagai imbalan atas pencabutan sanksi. Trump kala itu menyebut JCPOA sebagai salah satu transaksi “terburuk” bagi AS.

JCPOA mencakup pembatasan kemurnian pengayaan uranium Iran serta pengurangan stok uranium yang diperkaya. Kini, meskipun kesepakatan baru juga menargetkan program nuklir Iran, kondisinya jauh berbeda dengan satu dekade lalu.

Kesepakatan Baru Hadapi Isu Mendesak

Kesepakatan potensial kali ini mencakup isu-isu mendesak yang harus segera ditangani. Di antaranya adalah mengakhiri apa yang disebut sebagai perang AS-Israel melawan Iran, menstabilkan pasar minyak global, dan membuka kembali Selat Hormuz.

Rajneesh Narula, seorang profesor regulasi bisnis internasional di Henley Business School di Inggris, menyatakan keraguannya kepada Newsweek mengenai sifat perdamaian yang akan dicapai.

“Kesepakatan damai AS-Iran kemungkinan besar tidak akan terlihat seperti perdamaian sama sekali. Paling banter, itu hanya jadi gencatan senjata yang diselimuti ambiguitas, dirancang agar kedua belah pihak dapat mengklaim kemenangan sambil menyerahkan sesedikit mungkin,” ujarnya.

Donald Trump sendiri sempat menyatakan bahwa “ekspedisi” yang sedang berlangsung di Iran jauh lebih singkat dibandingkan konflik AS sebelumnya, seperti Perang Vietnam. Namun, masih menjadi pertanyaan apakah ketentuan kesepakatan yang diajukan dapat menempatkan AS pada posisi yang lebih menguntungkan dibandingkan sebelum konflik.

Narula menambahkan, Iran telah mencapai sesuatu yang tak berwujud namun sangat berarti. “Seperti yang pernah diamati Henry Kissinger tentang Vietnam, terkadang tidak kalah sudah merupakan kemenangan yang cukup. Iran telah memenangkan sesuatu yang tak berwujud tetapi sangat berarti: Mereka telah selamat dari konfrontasi dengan AS tanpa perubahan rezim,” katanya.

Batas Waktu Negosiasi yang Singkat

Tamsin Hunt, analis senior di S-RM, lembaga intelijen dan keamanan siber global, menjelaskan bahwa kesepakatan baru ini dapat memberikan manfaat ekonomi bagi Iran. “Meskipun Iran akan memperoleh manfaat ekonomi nyata dari kesepakatan ini, seperti pelonggaran sanksi, pencairan dana, dan dimulainya kembali perdagangan minyak, manfaat bagi AS lebih bersifat perbaikan,” ungkapnya kepada Newsweek.

Menurut laporan media AS Axios, kesepakatan apa pun akan memicu negosiasi selama 30 hari di Islamabad atau Jenewa. Ini dengan catatan adanya komitmen dari Teheran untuk moratorium pengayaan nuklir dan persetujuan AS untuk mencabut sanksi serta melepaskan dana Iran yang dibekukan.

Namun, jika perundingan ini gagal, hal itu juga akan memicu kelanjutan blokade AS dan tindakan militer lebih lanjut. Hunt menyoroti singkatnya waktu negosiasi yang diusulkan.

“Batas waktu 30 hari adalah jangka waktu yang singkat untuk negosiasi yang kompleks jika dibandingkan dengan pembicaraan untuk kesepakatan nuklir tahun 2015 yang memakan waktu hampir dua tahun,” jelas Hunt.

Ia memprediksi batas waktu ini kemungkinan akan diperpanjang. Namun, tanpa resolusi segera pada area-area utama perselisihan, kecil kemungkinan akan ada akhir yang pasti untuk permusuhan dalam jangka pendek. Potensi bentrokan sporadis selama periode negosiasi pun masih tetap ada.

Moratorium pengayaan uranium, peningkatan inspeksi, dan penghapusan uranium yang sangat diperkaya akan sejalan dengan tujuan Trump. Akan tetapi, kesepakatan yang memberikan keringanan sanksi besar, sementara kewajiban Iran tetap bersifat sementara, berpotensi menempatkan AS dalam posisi yang lebih buruk.

Biaya Ekonomi bagi Warga AS Meningkat

Pasar global menunjukkan reaksi minggu ini di tengah harapan de-eskalasi besar dalam konflik Iran. Harga minyak mentah Brent sempat turun, namun kembali naik pada Kamis (7/5/2026) karena hambatan menuju resolusi jangka panjang masih tetap ada.

American Automobile Association (AAA) memprediksi, sekalipun kesepakatan tercapai, harga minyak tetap sekitar 40 persen lebih tinggi daripada sebelum konflik. Akibatnya, warga Amerika akan merasakan dampak ekonomi yang ditimbulkannya, dengan harga rata-rata bensin nasional melampaui 4,50 dollar AS (sekitar Rp 78.000) per galon untuk pertama kalinya sejak Juli 2022.

Wayne Winegarden, peneliti ekonomi senior di Pacific Research Institute, menggarisbawahi dampak finansial yang dirasakan warga AS.

“Perang Iran telah meningkatkan biaya bagi keluarga di AS hingga ratusan dolar, dan itu sudah menjadi bagian dari permasalahan. Meskipun permusuhan berakhir secara permanen, biaya ekonomi akan tetap ada karena dibutuhkan waktu agar produksi dan transportasi kembali normal,” katanya.

Sementara itu, Iran kini diyakini merasa memiliki kendali penuh karena menyandera dunia dengan ancaman penutupan Selat Hormuz. Nick Berg, mantan anggota pasukan operasi khusus AS, menilai strategi Iran.

“Iran selalu memainkan strategi jangka panjang, dan menunggu pemilihan paruh waktu di AS, berharap AS berubah pikiran dan ingin menyelesaikan masalah secepat mungkin, sehingga bersedia melonggarkan garis merahnya,” pungkas Berg.