PPGKEMENAG.ID — Otoritas kesehatan dunia, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menegaskan bahwa kasus hantavirus yang terdeteksi saat ini berbeda dengan pandemi COVID-19 dan bukan merupakan awal dari pandemi baru, yang mereka sebut sebagai “COVID 2.0”. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers pada Kamis (7/5/2026).
Direktur Operasi Kewaspadaan dan Respons Darurat Kesehatan WHO, Abdirahman Mahamud, menyatakan bahwa penularan hantavirus dapat diatasi jika ditangani dengan baik. Ia menekankan pentingnya pembelajaran dari pengalaman sebelumnya.
Jika kita mengikuti langkah-langkah kesehatan masyarakat dan pelajaran yang dipetik dari lonjakan hantavirus sebelumnya di Argentina pada 2018, kita dapat memutus rantai penularan ini,
kata Mahamud, seperti dikutip dari Axios, Kamis (7/5/2026). Senada dengan Mahamud, pejabat WHO lainnya juga menilai bahwa saat ini tidak ada risiko penyebaran yang serupa dengan COVID-19.
Perbedaan mendasar antara kedua virus ini terletak pada proses penyebarannya. Maria Van Kerkhove, pelaksana tugas direktur WHO untuk manajemen epidemi dan pandemi, menjelaskan hal ini dalam konferensi pers yang sama.
Ini bukan COVID, ini bukan influenza. Penyebarannya sangat, sangat berbeda,
ujar Van Kerkhove. Para ahli kesehatan yang hadir dalam konferensi tersebut menambahkan bahwa penularan hantavirus dikaitkan dengan kontak yang dekat dan berkepanjangan.
Contohnya adalah kontak antara anggota keluarga, pasangan intim, dan orang-orang yang memberikan perawatan medis. Kondisi ini sangat kontras dengan COVID-19 yang dapat menular melalui droplet saat batuk, bersin, berbicara, bahkan melalui udara di ruang tertutup.
WHO Dorong Kerja Sama Lintas Batas
Meskipun sejumlah pakar kesehatan masyarakat tidak memprediksi hantavirus akan menjadi pandemi global berikutnya seperti COVID-19, mereka tetap menekankan pentingnya menanggapi masalah ini dengan serius. Para ahli memperingatkan bahwa dengan masa inkubasi virus yang berlangsung berminggu-minggu, kemungkinan akan ada lebih banyak kasus.
Oleh karena itu, pejabat WHO mendesak adanya kerja sama lintas batas untuk melacak dan menahan penyebaran virus. Carlos del Rio, seorang profesor dari Fakultas Kedokteran Universitas Emory, menyatakan bahwa wabah ini menjadi kesempatan untuk mempelajari lebih lanjut tentang virus langka tersebut.
Penelitian untuk membantu kita mengembangkan vaksin dan pengobatan sangat dibutuhkan,
kata Del Rio dalam konferensi pers terpisah bersama Infectious Disease Society of America, pada Kamis (7/5/2026).
Wabah Hantavirus Terdeteksi di Kapal Pesiar
Sebelumnya, wabah hantavirus terdeteksi di atas kapal pesiar mewah MV Hondius, yang dioperasikan oleh Oceanwide Expeditions. Insiden ini menyebabkan para pelancong harus mengisolasi diri di kamar mereka dan memicu upaya pelacakan kontak yang intensif.
Otoritas kesehatan telah mengidentifikasi strain virus Andes sebagai penyebab wabah di kapal pesiar tersebut. Strain Andes adalah satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui mampu menular antarmanusia.
Dilaporkan, tiga penumpang meninggal dunia dan beberapa lainnya jatuh sakit setelah wabah terjadi di kapal yang berangkat dari Argentina awal bulan lalu. Sejauh ini, WHO menyatakan delapan kasus yang diduga atau dikonfirmasi terkait dengan kapal tersebut telah dilaporkan.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
