— Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas menyusul insiden penembakan yang dilakukan pasukan Amerika Serikat terhadap dua kapal tanker berbendera Iran. Kedua kapal tersebut diduga kuat berupaya menerobos blokade menuju pelabuhan Iran.

Insiden ini terjadi di tengah upaya diplomatik yang masih berlangsung untuk meredakan konflik, serangkaian serangan Hizbullah ke Israel, serta meningkatnya kekhawatiran global terhadap keamanan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.

Pihak militer AS mengonfirmasi bahwa dua kapal tanker itu dilumpuhkan oleh jet tempur F/A-18 Super Hornet Angkatan Laut AS. Komando Pusat AS merinci, jet tempur tersebut menembakkan amunisi presisi ke cerobong asap kapal, sebuah tindakan yang bertujuan mencegah kedua kapal memasuki wilayah Iran. Rekaman serangan itu turut diunggah oleh Komando Pusat AS di platform X.

Insiden terbaru ini menandai keempat kalinya pasukan AS secara paksa menghentikan kapal yang diduga melanggar blokade sejak 13 April.

Upaya Diplomasi dan Serangan Hizbullah

Di tengah eskalasi militer, upaya diplomatik untuk meredakan konflik di Timur Tengah juga terus berlanjut. Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani dilaporkan bertemu dengan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance di Washington pada Jumat (8/5/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Sheikh Mohammed mendesak pembaharuan diplomasi untuk mencapai kesepakatan dengan Iran. Mereka juga membahas upaya mediasi yang dipimpin Pakistan demi perdamaian permanen di tengah gencatan senjata yang masih rapuh.

Sementara itu, kelompok Hizbullah mengklaim telah melancarkan serangan rudal dan drone ke pangkalan militer Israel. Serangan tersebut diklaim sebagai balasan atas serangan terbaru di Beirut dan operasi militer Israel yang masih berlangsung di wilayah selatan. Otoritas Lebanon melaporkan 11 korban tewas pada Jumat akibat serangan yang terjadi di wilayah tersebut.

Ancaman di Selat Hormuz dan Reaksi Internasional

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mendesak negara-negara Eropa untuk turut serta dalam upaya pengamanan Selat Hormuz. Desakan itu disampaikan Rubio usai pertemuannya dengan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni.

Rubio, sebagaimana dikutip dari AFP pada Sabtu (9/5/2026), menyatakan:

Dunia harus mulai bertanya pada diri sendiri, apa yang bersedia dilakukannya jika Iran mencoba menormalisasi kendali atas jalur air internasional? Saya pikir itu tidak dapat diterima.

Ia juga menyoroti peran NATO dan kapasitas AS dalam menempatkan pasukan di Eropa untuk menghadapi potensi keadaan darurat lainnya. Rubio menilai, kondisi ini perlu dievaluasi jika sebagian anggota NATO tidak lagi mendukung proyeksi kekuatan AS dalam situasi tertentu.

Dari pihak Iran, Mohammad Mokhber, penasihat pemimpin tertinggi negara itu, menegaskan bahwa Selat Hormuz memiliki nilai strategis yang sangat besar. Mokhber berujar:

Selat Hormuz mewakili peluang yang sama berharganya dengan bom atom.

Menurutnya, kemampuan untuk memengaruhi ekonomi global melalui satu keputusan merupakan peluang besar bagi Iran.

Sikap Arab Saudi dan Dampak Ekonomi

Di tengah meningkatnya ketegangan, Arab Saudi dilaporkan melarang Amerika Serikat menggunakan wilayah udara dan pangkalan militernya untuk operasi singkat yang bertujuan membuka kembali Selat Hormuz. Dua sumber dari Saudi yang berbicara kepada AFP mengonfirmasi bahwa larangan tersebut berlaku spesifik untuk operasi itu. Namun, kedua sumber anonim itu menambahkan bahwa akses Washington ke wilayah udara dan pangkalan Saudi tetap berlanjut untuk penggunaan lain.

Dampak konflik juga mulai merambah sektor penerbangan, dengan Uni Eropa mengeluarkan pernyataan bahwa maskapai penerbangan tidak diperbolehkan membebankan biaya tambahan bahan bakar kepada pelanggan setelah tiket dibeli. Pernyataan ini muncul setelah harga bahan bakar penerbangan melonjak tajam akibat kekhawatiran kekurangan pasokan, imbas dari perang di Timur Tengah.

Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA) juga telah membuka jalan bagi penggunaan Jet A, bahan bakar penerbangan produksi AS yang sebelumnya hanya diizinkan di Eropa untuk penerbangan pulang pergi dari Amerika Serikat.

Sementara itu, Uni Emirat Arab melaporkan adanya serangan baru Iran di wilayahnya. Pemerintah UEA menyebut serangan rudal dan drone Iran itu mengakibatkan tiga orang mengalami luka ringan hingga sedang.