PPGKEMENAG.ID — Suasana duka menyelimuti sebuah rumah sederhana di Desa Dermasandi, RT 13/RW 03, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Sejak Kamis (7/5/2026) malam, kediaman keluarga Bakhrul Ulum tak henti didatangi pelayat, diiringi aroma kemenyan dan lantunan doa tahlil yang terus mengalun. Ibu dan adik kandung Bakhrul masih bergelut dengan rasa waswas sekaligus duka mendalam, menanti kepastian kapan jenazah pemuda berusia 28 tahun itu dapat dipulangkan.
Bakhrul Ulum menjadi salah satu dari 16 korban tewas dalam insiden tragis kecelakaan maut bus ALS yang bertabrakan dengan truk tangki BBM. Peristiwa nahas itu terjadi di Simpang Danau, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Muratara, Sumatera Selatan, pada Rabu (6/6/2026) siang.
Kabar Pilu dari Seberang Pulau
Keluarga pertama kali merasakan firasat buruk pada Rabu sore, sekitar pukul 17.00 WIB. Kabar tersebut datang dari rekan adik korban yang berada di daerah tujuan merantau. Awalnya, informasi yang diterima masih simpang siur, hanya menyebutkan bus yang ditumpangi Bakhrul mengalami kecelakaan.
“Kami dapat kabar Rabu sore. Awalnya kami belum tahu bagaimana kondisinya. Kemudian cari informasi dari pemberitaan media dan TV, katanya ada 16 orang meninggal dunia. Kami tahu dari situ,” ujar Misbah Sanjani, kakak kandung korban, Jumat (8/5/2026).
Kegelisahan keluarga semakin memuncak saat menyadari bahwa Bakhrul berangkat bersama warga satu desanya, Muhammad Fahrul Hubaidi. Jika Bakhrul dinyatakan meninggal dunia, Fahrul dilaporkan mengalami luka berat dan kini tengah menjalani perawatan medis.
Perjalanan Terakhir Sang Perantau
Bagi Bakhrul, merantau ke Padang, Sumatera Barat, bukanlah hal baru. Ini adalah kali ketiganya ia memutuskan mengadu nasib di sebuah warung ikan bakar di sana. Pemuda kelahiran 1998 ini dikenal sebagai sosok pejuang ekonomi bagi keluarganya.
Sebelum memutuskan kembali ke Padang, anak kedua dari tiga bersaudara ini sebenarnya memiliki mimpi besar untuk bekerja di kapal luar negeri. Ia sempat mengikuti seleksi tujuan Rusia dan Korea Selatan. Namun, garis tangan berkata lain; ia gagal dalam tes kesehatan.
Setelah sempat menganggur, Bakhrul membulatkan tekad untuk berangkat kembali ke Padang pada Senin (4/5/2026) malam, sekitar pukul 22.00 WIB.
“Pas dia berangkat saya juga kaget. Saya hanya bisa menasihati supaya istirahat dulu dan memulihkan kesehatan. Tapi ternyata kejadiannya seperti ini. Kami keluarga tidak menyangka,” kenang Misbah dengan nada lirih.
Menanti Identifikasi dan Doa Keluarga
Meskipun nama Bakhrul Ulum telah masuk dalam daftar korban meninggal dunia kecelakaan Muratara, pihak otoritas terkait masih memerlukan prosedur medis yang ketat untuk identifikasi final. Hingga saat ini, keluarga diminta menunggu hasil pencocokan sampel DNA.
“Informasi terbaru, kami pihak keluarga diminta menyerahkan sampel DNA untuk mencocokkan identitas. Nantinya ada perwakilan yang datang ke sini mengambil sampel tersebut,” jelas Misbah.
Di mata masyarakat Desa Dermasandi, Bakhrul dikenal sebagai pemuda yang santun, pendiam, dan memiliki hobi bermain sepak bola. Kini, lapangan desa kehilangan salah satu pemainnya, dan sebuah keluarga di Tegal kehilangan tulang punggung yang gigih.
Kecelakaan maut di Simpang Danau Muratara ini menjadi pengingat kelam akan risiko di jalur lintas. Total korban mencapai 18 jiwa meninggal dunia, 3 luka berat, dan satu luka ringan. Bagi keluarga Bakhrul Ulum, doa adalah satu-satunya penyambung rasa sembari berharap jenazah sang putra segera tiba untuk dikebumikan dengan layak.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
