PPGKEMENAG.ID — Sopir taksi Green SM berinisial RRP mengakui dirinya keluar dari mobil melalui jendela sesaat sebelum kendaraannya ditabrak kereta api. Insiden ini kemudian memicu kecelakaan beruntun di Bekasi Timur, Jawa Barat, yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menjelaskan bahwa taksi yang dikemudikan RRP mulanya berhenti di perlintasan sebidang jalur kereta api setelah mesinnya mati. RRP sempat kesulitan keluar dari mobilnya.
“Pada saat sopir ingin keluar membuka pintu, tetapi tidak bisa. Transmisi berpindah ke parkir. Pada saat yang bersangkutan mencoba untuk mematikan kendaraan, membuka, baru bisa menurunkan kaca mobil dari taksi online,” tutur Budi ditemui di Mapolda Metro Jaya, Jumat (8/5/2026).
Setelah berhasil menurunkan kaca mobil, RRP dibantu oleh warga setempat untuk keluar melalui jendela.
Dalam pemeriksaan terpisah, pihak manajemen Green SM mengungkapkan bahwa mobil yang dikemudikan RRP seharusnya sudah kembali ke depo untuk pemeriksaan rutin. Namun, kendaraan tersebut belum dikembalikan meski batas jarak tempuh yang ditentukan telah terlampaui.
“Taksi tersebut harusnya per 15.000 KM itu sudah harus masuk ke depot untuk melaksanakan maintenance ataupun perawatan. Tapi sampai dengan 24.000 itu belum dilakukan maintenance,” jelas Budi.
Polisi akan mendalami keterkaitan antara fakta mengenai jadwal perawatan yang terlewat dengan insiden matinya mesin mobil di tengah rel. Sejauh ini, total 39 orang telah diperiksa terkait kasus ini.
Dari pihak Green SM, lima orang telah dimintai keterangan, termasuk RRP. Empat orang lainnya adalah Manajer Rekrutmen Sopir RS, Saksi dari bagian pelatihan MI, Manajer Kontrol Perbaikan dan Maintenance BM, serta Saksi dari Departemen Manager Operasional Bekasi SF.
Penyidikan Kasus Kecelakaan Beruntun
Kasus kecelakaan yang melibatkan KRL, KA Argo Bromo Anggrek, dan taksi Green SM ini telah ditingkatkan ke tahap penyidikan. Langkah ini diambil setelah serangkaian pemeriksaan dan pengumpulan bukti.
“Ini sudah naik tingkat tahap penyidikan. Sudah dilakukan cek TKP, pemeriksaan saksi, pengumpulan barang bukti, serta pendalaman CCTV,” ujar Budi di Silang Timur Monumen Nasional, Kamis (30/4/2026).
Meskipun demikian, sopir taksi RRP masih berstatus sebagai saksi dan belum dilakukan penahanan. Polisi masih terus mendalami penyebab pasti berhentinya taksi listrik tersebut di pelintasan sebidang Ampera.
Penetapan tersangka belum dilakukan karena Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri masih meneliti penyebab pasti kejadian. Budi juga menegaskan status RRP sebagai saksi.
“Kalau namanya saksi itu belum dilakukan penahanan, kami luruskan. Jadi kalau namanya saksi, kami masih membutuhkan yang bersangkutan untuk beberapa keterangan,” kata Budi.
Dari pemeriksaan awal, RRP mengaku pintu mobil tidak bisa dibuka karena mesin mati. Ia kemudian berhasil keluar melalui jendela setelah kendaraan berhasil dinyalakan kembali.
Sebelumnya, polisi telah memeriksa 24 saksi. Tujuh saksi tambahan lainnya diperiksa pada Jumat, meliputi kepala pusat pengendalian stasiun, pengatur perjalanan kereta api (PPKA), petugas sinyal, masinis KRL, masinis KA Argo Bromo Anggrek, asisten masinis, dan petugas pengendali.
Kronologi Kecelakaan Maut di Bekasi Timur
Kecelakaan maut ini terjadi pada Senin (27/4/2026) sekitar pukul 20.52 WIB di emplasemen Stasiun Bekasi Timur, tepatnya pada KM 28+920. Peristiwa ini melibatkan KRL jurusan Cikarang dengan nomor PLB 5568A dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi.
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, menduga tabrakan beruntun tersebut dipicu oleh insiden awal di pelintasan sebidang yang berjarak sekitar 200 meter dari stasiun. Insiden ini melibatkan taksi Green SM.
“Kejadian ini dimulai dengan adanya temperan taksi hijau di JPL 85. Sehingga ini yang kami curigai itu membuat sistem perkeretaapian di daerah stasiun emplasemen Bekasi Timur ini agak terganggu,” ujar Bobby saat ditemui di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/4/2026).
Bobby menambahkan, KRL yang ditabrak oleh KA Argo Bromo Anggrek merupakan KRL yang berbeda jalur dengan KRL yang sebelumnya terlibat kecelakaan dengan taksi Green SM.
Para korban kecelakaan telah dievakuasi ke sejumlah rumah sakit di Bekasi, termasuk RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, RS Mitra Plumbon Cibitung, RS Bhakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, RS Hermina, serta RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dan Barat.
Data menunjukkan, 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan selamat dari insiden ini. Namun, kecelakaan tersebut mengakibatkan 16 penumpang KRL Cikarang Line meninggal dunia dan 90 penumpang lainnya mengalami luka-luka.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
