— Menteri Agama Republik Indonesia (Menag RI) Nasaruddin Umar mengungkap perjuangan berat di balik terwujudnya Terowongan Silaturahmi yang kini menghubungkan Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal di Jakarta Pusat. Menurut Nasaruddin, gagasan besar ini awalnya minim dukungan, terutama karena tantangan biaya yang sangat besar.

Nasaruddin mengenang momen ketika ia pertama kali menyampaikan idenya kepada Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo pada peringatan Sumpah Pemuda beberapa tahun silam. Saat itu, ia mengutarakan keinginan untuk menyatukan dua rumah ibadah besar tersebut.

Seandainya saya punya kewenangan, saya akan memohon izin supaya pagar-pagar yang ada di antara Istiqlal dan Katedral ini kita robohkan saja, agar ini menjadi satu halaman bersama antara Istiqlal dengan Katedra,

ujar Nasaruddin saat menghadiri Perayaan ke-219 Keuskupan Agung Jakarta di Gereja Katedral, Sabtu (9/5/2026) pagi.

Ketika kemudian menjabat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin melangkah lebih jauh dengan mengusulkan kepada Presiden RI saat itu, Joko Widodo, untuk membangun sebuah terowongan yang menghubungkan kedua bangunan tersebut. Ia meyakini, terowongan itu akan menjadi simbol toleransi yang kuat.

Presiden Jokowi menyambut baik usulan tersebut dan segera meneruskannya kepada Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Namun, respons dari PUPR tidak seoptimistis yang diharapkan. Pembangunan terowongan dinilai sangat mahal karena di bawah tanah antara masjid dan gereja terdapat pipa raksasa peninggalan Belanda. Pipa tersebut berfungsi vital menyuplai air minum ke kawasan Menteng, Jakarta Pusat, sehingga memerlukan penggalian yang sangat dalam.

Kondisi ini sempat membuat proyek terhambat. “Awalnya tidak ada yang mendukung karena anggarannya lumayan besar. Saya lapor kembali kepada Bapak Presiden ‘Pak, katanya mahal biayanya,” sambung Nasaruddin, menceritakan kembali tantangan yang dihadapi.

Meski demikian, Nasaruddin tak menyerah. Ia berupaya keras meyakinkan Presiden Jokowi bahwa terowongan yang akan dibangun bukan sekadar infrastruktur biasa, melainkan representasi nyata dari semangat toleransi. Mendengar penekanan tersebut, Jokowi akhirnya setuju, dan proyek terowongan pun segera dimulai.

Kini, Terowongan Silaturahmi telah berdiri kokoh dan menjadi kebanggaan. “Artinya, satu-satunya terowongan toleransi di dunia adalah ini. Setiap tamu negara, kunjungan pertamanya setelah dari Istana adalah ingin melihat terowongan ini, termasuk Yang Mulia Paus Fransiskus yang baru saja berkunjung,” ungkap Nasaruddin dengan bangga.

Terowongan yang menjadi lambang kerukunan antarumat beragama ini telah diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada tahun 2024.