PPGKEMENAG.ID — Tujuh Warga Negara Asing (WNA) yang menjadi pendaki Gunung Dukono, Halmahera Utara, Maluku Utara, akhirnya berhasil dievakuasi ke pos pengamatan pada Jumat (8/5/2026). Mereka dilaporkan mengalami luka-luka akibat hantaman material vulkanik saat erupsi hebat melanda gunung tersebut. Insiden tragis ini juga menyebabkan tiga pendaki lainnya—dua WNA dan satu warga Ternate—dinyatakan meninggal dunia.
Para pendaki tersebut harus melewati momen mencekam ketika kolom abu setinggi 10.000 meter menyembur di atas kepala mereka, sementara material batu menghujani jalur pendakian. Meskipun sebagian berhasil turun dari puncak, sejumlah korban mengalami luka.
Bertahan di Tengah Hujan Material
Kapolres Halmahera Utara, AKBP Erlichson Pasaribu, menjelaskan bahwa total 20 orang berada di puncak gunung saat erupsi terjadi. Dari jumlah tersebut, tujuh WNA telah berhasil mencapai titik aman di bawah dan kini mendapatkan perawatan medis di Pos Pengamatan.
Beberapa di antara mereka menderita luka-luka akibat terkena hantaman material vulkanik saat berupaya menyelamatkan diri.
Beberapa pendaki mengalami luka ringan akibat terkena material batu. Saat ini mereka sedang mendapatkan perawatan sementara di Pos Pengamatan.
AKBP Erlichson Pasaribu
Nekat Mendaki demi Konten Media Sosial
Berdasarkan keterangan pihak kepolisian, para pendaki yang selamat mengakui bahwa mereka sebenarnya mengetahui adanya larangan pendakian. Status Gunung Dukono saat itu berada di Level 2 (Waspada), yang berarti aktivitas pendakian dilarang. Namun, dorongan untuk mengabadikan momen demi konten media sosial membuat mereka mengabaikan peringatan tersebut.
Keputusan nekat tersebut berujung tragis. Sementara sebagian berhasil menyelamatkan diri, tiga rekan mereka—dua WNA dan satu warga Ternate—tidak sempat menghindar dan dinyatakan meninggal dunia.
Sebenarnya, para pendaki ini sudah mengetahui adanya larangan pendakian. Namun, mereka tetap nekat melakukan pendakian demi kebutuhan konten media sosial.
AKBP Erlichson Pasaribu
Evakuasi Manual di Medan Ekstrem
Proses penyelamatan korban selamat lainnya masih terus diupayakan di tengah ancaman erupsi susulan. Tim SAR gabungan harus berpacu dengan waktu mengingat medan Gunung Dukono yang hanya bisa diakses dengan berjalan kaki.
Bagi korban selamat yang mengalami luka dan kesulitan berjalan, tim evakuasi harus melakukan mobilisasi secara manual menggunakan tandu. Kondisi medan yang tertutup abu tebal semakin menambah tantangan dalam proses evakuasi.
Medan pendakian sangat sulit dan hanya bisa dilalui dengan jalan kaki. Evakuasi harus dilakukan secara manual menggunakan tandu, yang menjadi tantangan besar dalam mobilisasi.
Kapolres Halmahera Utara, AKBP Erlichson Pasaribu
Imbauan Tegas: Nyawa Lebih Berharga dari Konten
Pihak kepolisian kembali mengingatkan para wisatawan agar tidak mengulangi kecerobohan serupa. Sosialisasi mengenai larangan pendakian melalui spanduk dan media sosial sebenarnya sudah dilakukan secara masif, namun seringkali diabaikan oleh pendaki dari luar daerah.
Warga lokal sudah memahami situasi dan tidak melakukan aktivitas di area rawan. Mayoritas yang melanggar adalah wisatawan luar yang nekat mendaki demi konten.
AKBP Erlichson Pasaribu
Saat ini, seluruh jalur pendakian Gunung Dukono telah ditutup total. Para korban selamat masih dalam pemantauan tim medis, sementara evakuasi jenazah korban meninggal dunia masih menunggu situasi vulkanik mereda demi keamanan tim penyelamat.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
