— Pernyataan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, terkait kemitraan dengan sejumlah “homeless media” menuai polemik. Klaim ini menimbulkan pertanyaan mengenai transparansi dan keabsahan data, terutama setelah beberapa entitas media yang namanya disebut justru membantah menjalin kerja sama.

“Homeless media” sendiri merujuk pada entitas media yang beroperasi tanpa situs web resmi, melainkan mengandalkan sepenuhnya platform media sosial untuk penyebaran konten.

Dalam sebuah jumpa pers di kantornya pada Rabu (6/5/2026), Qodari menjelaskan bahwa kerja sama dengan “homeless media” yang tergabung dalam Indonesia New Media Forum (INMF) bertujuan untuk memperluas jangkauan komunikasi Bakom kepada publik. Ia menekankan pentingnya merangkul entitas media baru ini demi meningkatkan kualitas produk mereka, layaknya media konvensional.

“Tidak hanya melalui media konvensional, tapi juga melalui kanal-kanal digital yang pada hari ini telah menjadi realitas media atau realitas komunikasi kita, sebagai bentuk dari perkembangan teknologi dan sosial kemasyarakatan,” ujar Qodari, yang baru dilantik sebagai Kepala Bakom pada 27 April 2026.

Adapun sejumlah “homeless media” yang diklaim digandeng Bakom antara lain Folkative, Indozone, Dagelan, Indomusicgram, Infipop, Narasi, Muslimvlog, USS Feed, Bapak-Bapak ID, Menjadi Manusia, GNFI, Creativox, Kok Bisa?, Taubaters, Pandemic Talks, TaubaTers, dan Kawan Hawa.

Selain itu, disebut juga Folix, Ngomongin Uang, Big Alpha, Good States, Hai Dulu, Proud Project, Vebis, Unframe, Kumpul Leaders, CXO Media, Volix Media, How To Do Nothing, dan Everless Media.

Daftar tersebut juga mencakup Geometry Media, Folks Diary, Dream, Melodi Alam, NKTSHI, Modestalk, Lead Media, Nalar TV, Mahasiswa dan Jakarta, North West, serta Mature Indonesia.

Beberapa Media Membantah Keterlibatan

Tak lama setelah pernyataan Qodari, beberapa media yang namanya disebut Bakom justru membantah adanya kerja sama. Mereka juga mengaku tidak hadir dalam acara jumpa pers yang digelar pada Rabu (6/5/2026) tersebut.

Founder media Bapak2ID, James Jan Markus, misalnya, dengan tegas menyatakan pihaknya tidak menjalin kerja sama maupun pernah menghadiri acara Bakom. “Beritanya tidak benar, dan kami tidak pernah menghadiri acara yang disebutkan,” ujar James Jan Markus, Kamis (7/5/2026).

Hal serupa disampaikan oleh Narasi. Melalui unggahan di akun Instagram resminya, Narasi menjelaskan bahwa mereka tidak tergabung dalam Indonesia New Media Forum (INMF). Selain itu, Narasi juga tidak pernah terlibat dan menghadiri pertemuan atau jumpa pers Bakom pada tanggal tersebut. Narasi menegaskan bahwa mereka adalah media resmi yang terdaftar dan terverifikasi oleh Dewan Pers.

Akun Instagram @ngomonginuang juga turut membantah pernyataan Qodari. Dalam unggahan di Instagram-nya, mereka menyatakan tidak pernah menerima undangan, menghadiri pertemuan, maupun melakukan komunikasi, baik secara digital maupun tatap muka, dengan Bakom RI.

Bakom: Data Berasal dari INMF

Menyusul adanya bantahan dari beberapa media, Bakom kemudian memberikan klarifikasi. Mereka menyebut daftar “homeless media” yang disebutkan dalam konferensi pers pada Rabu (6/5/2026) berasal dari dokumen yang diserahkan oleh INMF.

Konferensi pers tersebut dilakukan setelah Bakom menerima permohonan audiensi dari INMF pada Selasa (5/5/2026). Pelaksana Tugas Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Bakom RI, Kurnia Ramadhana, menjelaskan bahwa dalam pertemuan itu INMF memperkenalkan diri dan organisasinya.

Di awal pertemuan tersebut, Bakom dan anggota INMF saling berkenalan. INMF menjelaskan tentang new media dan organisasi INMF. INMF menjelaskan bahwa mereka berkumpul untuk meningkatkan kualitas dan ruang berkembang.

Demikian ditulis Kurnia Ramadhana dalam keterangannya, Kamis (7/5/2026). Menurut Kurnia, INMF juga menyampaikan bahwa “new media” harus memiliki perusahaan, alamat, dan penanggung jawab.

Dalam pertemuan tersebut, INMF kemudian menyerahkan dokumen berjudul New Media Forum 2026 yang di dalamnya tercantum nama-nama “new media players.”

“Penyebutan nama-nama new media dalam konferensi pers tersebut didasarkan pada dokumen yang diberikan oleh INMF kepada Bakom dalam pertemuan 5 Mei 2026 tersebut di atas,” kata Kurnia.

Kurnia menambahkan, Bakom memandang “new media” sebagai mitra komunikasi, sama halnya dengan media konvensional. “Mitra dalam pengertian media membutuhkan berita dan pemerintah perlu menyampaikan informasi ke masyarakat,” ungkap Kurnia.