PPGKEMENAG.ID — Sebuah video yang menampilkan Iqbal Rasyid Achmad Faqih, putra seorang buruh harian dari Kota Bengkulu, diterima di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) untuk angkatan 2025, kembali viral di media sosial. Momen penjemputan Iqbal oleh Wakil Dekan FK UI, Prof. Dwiana Ocviyanti, di kediamannya di Jalan Murai, Kelurahan Kebun Geran, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu, menjadi sorotan banyak pihak.
Kisah inspiratif Iqbal ini tak lepas dari peran sang ibu, Suhaima (41), yang gigih mendidik putra bungsunya itu hingga berhasil meraih pendidikan terbaik.
Di kediamannya yang sederhana, Suhaima terlihat sibuk menyuapi nenek Iqbal sambil menyiapkan masakan di dapur. Suaminya, Agus Hermanto, sudah berangkat ke sawah untuk menggarap lahan milik orang lain. “Ayah Iqbal sudah berangkat ke sawah kerja menggarap sawah orang. Kegiatan saya pagi, menyuapi nenek Iqbal, masak, kemudian siang biasanya mengajar mengaji beberapa orang anak di lingkungan rumah,” tutur Suhaima saat ditemui pada Jumat (8/5/2026).
Meskipun Iqbal telah menempuh dua semester di UI, Suhaima mengaku belum sekalipun menjenguk putra bungsunya itu. “Mahal ke Jakarta, yang penting Iqbal bisa belajar saya sudah bersyukur doa saya selalu mengalir untuknya,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca menahan rindu.
Suhaima mengenang masa kecil Iqbal yang penuh keistimewaan. “Semasa kecil usia dua tahun kecerdasan Iqbal sudah terlihat,” ungkapnya. Ia menambahkan, “Belum masuk Taman Kanak-kanak (TK) dia sudah hapal ayat-ayat pendek, dia cepat menyerap ilmu, dan rasa ingin tahunya tinggi.”
Kecerdasannya terbukti ketika, di usia TK, Iqbal bersikeras mengikuti lomba hafalan ayat pendek Al-Qur’an tingkat SD yang diselenggarakan kelurahan. Setelah diuji panitia, Iqbal diizinkan bertanding dan berhasil meraih juara umum. Ayat-ayat pendek tersebut rupanya ia dengar dari sang ibu saat Suhaima mengajar mengaji anak-anak di sekitar rumah.
Sejak dini, Iqbal juga menunjukkan minat pada permainan edukatif seperti monopoli, ular tangga, dan scrabble. Suhaima kerap “diganggu” oleh ajakan Iqbal untuk bermain di tengah kesibukannya memasak. “Dari monopoli matematikanya terasah, pengetahuannya tentang negara, keajaiban dunia, didapat,” jelas Suhaima.
Rasa ingin tahunya juga mendorong Iqbal untuk mempelajari peta dunia. Ia sering mengambil peta milik kakaknya, Ayu Septika, dan mempelajarinya hingga hafal nama negara, ibu kota, bahkan luas wilayah. Hobinya membaca juga terlihat saat kecil; setiap kali ke pasar, ia akan membaca semua tulisan di papan toko, merek, hingga pamflet iklan. “Iqbal sebelum masuk TK sudah pandai membaca, jadi saya sering belikan buku bacaan,” imbuh ibunya.
Suhaima juga mendukung minat tersebut dengan selalu membelikan buku-buku ilmu pengetahuan, termasuk buku berbahasa Inggris. “Ia pintar berbahasa Inggris saat kecil memang sudah kami ajari, dia suka membaca kamus,” tambahnya.
Masa remaja Iqbal dihabiskan di asrama MAN Insan Cendekia di Kabupaten Bengkulu Tengah. Bahkan saat liburan sekolah, ia tak pernah jauh dari buku. “Kalau dia libur sekolah tiap hari main, membaca buku di Perpusda bersama temannya,” ungkap Suhaima. Sesekali, Iqbal mengajak teman-temannya menginap di rumah. Aktivitas mereka tak jauh dari belajar, baik dengan membaca buku maupun memanfaatkan aplikasi belajar yang mereka beli di internet. “Mereka kadang beli aplikasi belajar di internet, lalu belajar di rumah malam hari,” kenangnya.
Jalan Menuju FK UI
Prestasi akademik Iqbal yang selalu menjadi juara satu sejak SD berlanjut hingga ia menentukan pilihan studi. Awalnya, Iqbal mencoba peruntungan melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) dengan memilih jurusan Pertambangan di Institut Pertanian Bogor (IPB), namun ia tidak berhasil.
Tak patah semangat, Iqbal kemudian mengikuti jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) dengan pilihan Fakultas Kedokteran UI dan berhasil diterima. “Ia tidak menyerah ikut seleksi jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Test (SNBT) dengan pilihan FK UI lalu diterima,” jelas ibunya.
Ketika Iqbal memilih FK UI, kekhawatiran sempat menyelimuti orangtuanya terkait biaya pendidikan kedokteran yang tinggi. Namun, Iqbal berhasil meyakinkan mereka bahwa ia akan berupaya mencari beasiswa. “Alhamdulillah beasiswa ia dapat nilainya juga bagus IP nya 3,91 saya dikabari dari dia,” tutur Suhaima penuh syukur.
Suhaima merasa sangat beruntung atas kesempatan Iqbal kuliah di FK UI tanpa harus menanggung biaya yang besar. Ia menyadari sepenuhnya bahwa dengan kondisi finansial mandiri, keluarga mereka tidak akan mampu membiayai pendidikan tersebut. “Kami keluarga pas-pasan, bahkan rumah saja masih menunggu rumah kakak sembari mengurus ibu, saya mengajar ngaji dengan gaji sukarela sementara ayah Iqbal buruh harian,” pungkas Suhaima, menggambarkan kondisi ekonomi keluarganya.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
