PPGKEMENAG.ID — Sungai Batang Tumayo di Jorong Kubu, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kembali meluap ke permukiman warga pada Jumat (8/5/2026) pagi, sekitar pukul 07.00 WIB. Peristiwa ini dipicu oleh intensitas hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut, menyebabkan tanggul darurat yang dibangun pascabanjir bandang November 2025 jebol diterjang derasnya arus sungai.
Wali Nagari Sungai Batang, Ahsin Datuak Bandaro Kayo, menjelaskan bahwa tanggul tersebut sebelumnya cukup kuat menahan aliran air. “Karena debit hujan tinggi dalam minggu ini, biasanya air yang mengalir di sungai tidak merusak tanggul yang kami buat. Tapi hujan dalam dua hari ini sangat lebat, tanggul dari batu, kerikil, dan pasir itu jebol lalu air masuk ke permukiman warga,” ujar Ahsin kepada awak media, Jumat.
Tanggul Darurat Tak Kuat Menahan Arus
Ahsin merinci, tanggul darurat itu dibangun secara gotong royong oleh masyarakat setempat dengan bantuan alat berat, memanfaatkan material sisa galodo. Namun, konstruksi yang hanya berupa tumpukan batu dan kerikil terbukti tidak mampu menahan peningkatan debit air yang drastis.
Hingga Jumat siang, luapan air masih menggenangi jalan dan halaman rumah warga. Meskipun demikian, tinggi genangan baru mencapai sekitar sebetis orang dewasa, sehingga belum ada warga yang memutuskan untuk mengungsi. “Warga masih bertahan di rumah, tapi sudah mulai waspada karena posisi sungai memang lebih tinggi dari permukiman,” tambahnya.
Selain merendam akses jalan, luapan air juga menimbulkan ancaman serius bagi jembatan darurat yang menjadi penghubung antarjorong. Sedimentasi berupa lumpur, pasir, dan bebatuan yang terbawa arus sungai telah menyebabkan pendangkalan dan menggerus pondasi jembatan.
Warga Butuh Alat Berat
Ahsin menegaskan bahwa kebutuhan paling mendesak saat ini adalah dukungan alat berat. Alat berat diperlukan untuk mengendalikan aliran sungai dan memperkuat kembali tanggul sementara. “Kemarin sempat ada alat berat dari BWS V, tapi sekarang sudah ditarik. Saat ini tidak ada alat berat yang siaga di Jorong Kubu,” keluhnya.
Ia menambahkan, situasi ini bahkan memaksa masyarakat di Jorong Labuah untuk menyewa alat berat secara mandiri demi mencegah luapan air meluas ke permukiman mereka. Menurut Ahsin, solusi permanen yang dibutuhkan bukan lagi sekadar penanganan darurat, melainkan normalisasi sungai secara menyeluruh pada dua aliran utama di Nagari Sungai Batang, yaitu Batang Tumayo dan Batang Ranggih. “Yang kemarin dilakukan masih tanggap darurat bencana, belum normalisasi sungai,” pungkasnya.
BPBD Sebut Sungai Kembali Dangkal
Menanggapi situasi ini, Kepala Pelaksana BPBD Agam, Rahmad Lasmono, membenarkan adanya luapan air dari Batang Tumayo. Namun, ia juga memastikan bahwa genangan air belum sampai merendam penuh rumah warga. “Di Batang Tumayo memang sudah terjadi pendangkalan. Tanggul yang dibikin pascagalodo kemarin runtuh kembali,” kata Rahmad.
Rahmad menjelaskan, pengerukan sungai sempat dilakukan setelah insiden galodo pada November 2025. Namun, intensitas hujan lebat yang terus-menerus membawa material baru dari hulu, berupa lumpur, pasir, dan bebatuan, sehingga dasar sungai kembali dangkal dengan cepat. “Ini bukan sisa galodo lama, tapi material baru dari hulu berupa lumpur, pasir, dan bebatuan. Karena itu sungai cepat dangkal lagi,” ujarnya.
BPBD Agam, lanjut Rahmad, kini terus bersiaga mengingat intensitas hujan di Kecamatan Tanjung Raya masih tinggi hampir setiap sore dalam sepekan terakhir. Di saat bersamaan, BPBD juga masih sibuk menangani longsor di Nagari Sungai Landia yang telah terjadi dua kali dalam beberapa hari terakhir, memaksa enam kepala keluarga untuk diungsikan karena rumah mereka berada dekat lokasi longsor.
“Untuk Sungai Batang, sejauh ini belum ada warga yang perlu diungsikan. Tapi masyarakat sudah mulai cemas karena luapan Batang Tumayo terus terjadi,” tutup Rahmad.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
