— Praktik pungutan liar (pungli) di kawasan Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, disebut-sebut kian menjamur dan sulit diberantas. Inkonsistensi penindakan menjadi salah satu penyebab utama maraknya aksi tersebut.

Kriminolog dan Guru Besar FISIP Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, menyoroti bahwa pungli yang kerap terjadi di jalur logistik umumnya terus bermunculan lantaran penanganannya tidak dilakukan secara serius dan berkelanjutan.

“Kalaupun mau memberantas, namun tidak serius. Sekali-kali saja. Untuk pencitraan saja,”

ujar Adrianus saat dihubungi pada Jumat (8/5/2026).

Menurut Adrianus, budaya pungli yang sudah mengakar kuat tidak akan bisa dihilangkan hanya dengan razia sesaat. Praktik ini telah berlangsung lama dan melibatkan banyak pihak, sehingga membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif.

“Padahal, untuk menghilangkan budaya menyimpang, perlu napas panjang dan konsisten,” imbuh Adrianus.

Ia menekankan bahwa praktik pungli yang telah didukung oleh sebagian masyarakat, yang merasakan ‘keuntungan’ dari pungli itu sendiri, memerlukan penanganan yang lebih besar. Adrianus menyarankan kolaborasi lintas sektor untuk memberantasnya.

“Untuk budaya yang sudah didukung oleh masyarakat, yang merasakan enaknya pungli, maka memberantasnya perlu polisi Sabhara dan Brimob, perlu penyuluhan dan tindakan tegas bersama-sama,”

kata Adrianus.

Selain itu, Adrianus juga berpendapat bahwa para birokrat dan aparat penegak hukum terkadang enggan melakukan pemberantasan besar-besaran. Kekhawatiran akan memicu gejolak di lapangan dan dianggap sebagai indikasi kegagalan penegak hukum menjadi faktor yang menghambat.

Keluhan Sopir Truk

Di sisi lain, sejumlah sopir truk yang melintas di kawasan Kamal Muara mengeluhkan praktik pungli yang terus muncul, meskipun sudah beberapa kali dilakukan penindakan oleh aparat.

Salah seorang sopir truk, Ardi (45), mengungkapkan bahwa para pelaku pungli di kawasan tersebut beroperasi secara berkelompok dan tersebar di berbagai titik jalan.

“Di situ mah tidak bisa hilanglah. Ditangkap hari ini, besok juga ada lagi, ada lagi,”

kata Ardi saat ditemui pada Selasa (5/5/2026).

Ardi juga menuturkan bahwa praktik pungli tersebut seringkali memicu cekcok dengan sopir, terutama ketika sopir menolak untuk memberikan uang saat melintas. Kondisi ini menambah beban dan kerawanan bagi para pengemudi logistik yang melewati area tersebut.