— Pemerintah Kota Bekasi melalui Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) memastikan perbaikan jalan utama Perumahan Dukuh Zamrud, Kelurahan Cimuning, Kecamatan Mustika Jaya, telah masuk dalam rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2026.

Sub Koordinator Pemeliharaan Jalan DBMSDA Kota Bekasi, Ridwan Muarief, menjelaskan bahwa saat ini proses perbaikan jalan tersebut sedang dalam tahap persiapan pengadaan barang dan jasa. “Saat ini sedang dalam persiapan tahap pengadaan barang dan jasa,” ujar Ridwan, Jumat (8/5/2026).

Untuk perbaikan infrastruktur jalan tersebut, Pemerintah Kota Bekasi telah mengalokasikan anggaran miliaran rupiah. Ridwan menyebutkan, dana yang disiapkan mencapai Rp 5 miliar. “Sudah dianggarkan Rp 5 miliar untuk perbaikan jalannya,” tegasnya.

Sebelumnya, kondisi jalan berlubang di kawasan tersebut telah menimbulkan keluhan dari warga. Kerusakan jalan dinilai membahayakan pengendara dan berpotensi memicu kecelakaan, terutama saat malam hari atau ketika hujan turun.

Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa permukaan jalan utama di beberapa titik mengalami kerusakan, dengan aspal yang mengelupas dan lubang-lubang yang cukup dalam. Kedalaman lubang diperkirakan mencapai sekitar lima sentimeter dan berada tepat di jalur utama yang setiap hari dilintasi masyarakat.

Akibat kondisi tersebut, para pengendara kerap memperlambat laju kendaraan saat melintas, yang pada akhirnya memicu perlambatan arus lalu lintas di area tersebut.

Kontras Estetika dan Prioritas Infrastruktur

Salah satu warga Mustikajaya, Imam (28), menyoroti adanya kontras mencolok antara kondisi jalan yang rusak dengan kemegahan bangunan gapura utama Dukuh Zamrud. Gapura tersebut sebelumnya sempat menjadi perbincangan di media sosial karena dibangun menggunakan APBD dengan nilai hampir Rp 1 miliar.

“Ini fenomena yang unik banget ya. Padahal gapuranya dibangun hampir Rp 1 miliar, tapi jalan di depannya malah rusak,” kata Imam.

Menurut Imam, pemerintah seharusnya lebih memprioritaskan pembangunan infrastruktur dasar yang secara langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, dibandingkan dengan pembangunan yang bersifat estetika.

“Pemerintah harusnya bisa lihat realita yang ada. Jangan cuma bangun gapura yang indah dipandang mata, tapi fungsi keselamatannya enggak ada,” ujarnya menambahkan.

Selain membahayakan pengendara, Imam juga menyebut bahwa jalan berlubang tersebut kerap memicu kemacetan karena kendaraan harus mengurangi kecepatan saat melintas. “Ini sudah bukan sekadar ganggu lagi, tapi bisa membahayakan. Kadang bikin macet juga,” pungkas Imam.