PPGKEMENAG.ID — Di tengah hiruk pikuk dan tekanan hidup perkotaan yang kian berat, sebagian masyarakat menemukan ketenangan dan solusi untuk bertahan dari stres melalui suara kicauan burung. Setiap pagi, melodi merdu dari balik sangkar yang menggantung di teras rumah-rumah padat penduduk tak hanya memecah keheningan, tetapi juga menenangkan pikiran para pemiliknya.
Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, memandang bahwa memelihara burung kicau bukanlah sekadar hobi biasa.
Hobi ini berfungsi sebagai coping mechanism atau mekanisme bertahan dari tekanan hidup.
Demikian disampaikan Rakhmat saat dihubungi pada Kamis (7/5/2026). Ia menambahkan, aktivitas memelihara burung memberikan ketenangan, rasa kontrol, serta relasi sosial yang dinilai lebih aman dibandingkan interaksi antarmanusia yang cenderung memiliki frekuensi konflik lebih tinggi.
Kicau Mania Kian Mengakar dalam Masyarakat
Menurut Rakhmat, perkembangan hobi kicau mania yang semakin mengakar di masyarakat tidak lepas dari proses sosialisasi dan reproduksi budaya. Hobi ini seringkali diwariskan secara turun-temurun, misalnya dari ayah, kakek, atau kakak kepada generasi selanjutnya.
Selain itu, faktor lingkungan sosial seperti tetangga, komunitas, dan keberadaan pasar burung turut membentuk daya tarik tersendiri. Unsur kolektivitas juga menjadi pendorong utama melekatnya hobi ini di tengah masyarakat.
Para pencinta burung tidak hanya sekadar memelihara, tetapi juga menjadi bagian dari sebuah jaringan sosial. Mereka kerap berkumpul, mengadakan pertemuan, mengikuti lomba antarkota atau wilayah, dan saling terhubung melalui grup-grup komunikasi digital.
Representasi Budaya Lokal dan Maskulinitas
Di banyak daerah, tradisi memelihara burung kicau merupakan praktik budaya lokal yang erat kaitannya dengan maskulinitas, ketekunan, dan estetika suara. Rakhmat menjelaskan, pemilik burung seringkali dianggap maskulin dan sabar karena dituntut untuk merawat burung peliharaannya dengan telaten.
Hal ini menjadi simbol nilai-nilai yang diwariskan dan dipertahankan sebagai sesuatu yang unik dan langka, sehingga sangat dinikmati oleh para pelakunya. Lebih lanjut, Rakhmat menilai burung kicau memiliki makna simbolis sebagai teman, hiburan, bahkan representasi diri pemiliknya.
Dalam perspektif sosiologi, manusia memberikan makna pada objek melalui interaksi sosial. Burung dalam konteks ini menjadi “subjek emosional”, bukan sekadar objek belaka. Kondisi ini membuat burung kicau dianggap setara dengan teman bicara atau partner hidup, mirip dengan bagaimana seseorang memperlakukan kucing atau anjing peliharaannya.
Gengsi dan Status di Balik Harga Tinggi
Membeli burung dengan harga fantastis seringkali bukan hanya tentang kualitas suaranya, melainkan juga nilai sosial yang melekat. Burung mahal dianggap mencerminkan kemampuan ekonomi dan selera tinggi para pemiliknya.
Bagi orang awam mungkin terdengar aneh membeli burung dengan harga sangat mahal, tetapi bagi pelakunya, ini adalah soal gengsi dan status yang tidak bisa dilakukan semua orang.
Rakhmat menegaskan adanya kebanggaan tersendiri ketika seseorang mampu memiliki burung berharga mahal. Dorongan untuk mengeluarkan banyak uang demi seekor burung merupakan kombinasi dari investasi sosial demi pengakuan komunitas, kepuasan personal, dan harapan keuntungan finansial jika burung tersebut memenangkan lomba atau ditawar dengan harga tinggi.
Burung Diperlakukan Layaknya Anak Sendiri
Banyak pecinta kicau mania yang memperlakukan burung mereka lebih dari sekadar hewan peliharaan. Sebagian bahkan merawat burung kicau layaknya anak sendiri, mulai dari memandikan, memberi makan, hingga membelikan vitamin.
Rakhmat menjelaskan bahwa fenomena ini berkaitan dengan personifikasi dan afeksi. Manusia cenderung membangun ikatan emosional yang mendalam dengan objek atau makhluk yang dirawat secara intensif. Perawatan telaten yang diberikan menciptakan kedekatan emosional.
Hobi ini juga menjadi bagian integral dari identitas seseorang.
Melalui teori identitas sosial, individu mendefinisikan dirinya melalui kelompoknya, misalnya dengan menyebut diri mereka sebagai bagian dari “Kicau Mania”.
Lomba sebagai Legitimasi Status
Burung kicau tidak hanya dipelihara, tetapi juga sering diikutsertakan dalam berbagai perlombaan, baik di Jakarta maupun di luar kota. Lomba kicau mania bukan sekadar ajang adu suara burung biasa, melainkan arena kompetisi sosial dan legitimasi status.
Kompetisi ini menciptakan standar nilai, menentukan burung mana yang dianggap bagus dan pemilik mana yang hebat. Kondisi ini turut mendorong perilaku investasi yang tinggi di dalam komunitas. Dalam perspektif sosiologi, investasi tinggi terhadap komunitas dapat masuk kategori konsumsi berlebihan jika pembelian burung lebih didorong oleh simbol status daripada kebutuhan atau sekadar hobi.
Rakhmat juga mengidentifikasi beberapa dinamika sosial yang mungkin muncul dari komunitas Kicau Mania.
Disebabkan karena gengsi dan prestise, solidaritas komunitas, hierarki sosial informal, serta jaringan ekonomi seperti praktik jual beli dan penangkaran atau breeding.
Dilema Pemeliharaan dan Dampak Lingkungan
Sosiolog Rakhmat menilai, pemeliharaan burung kicau seringkali menghadirkan dilema antara cinta dan eksploitasi. Di satu sisi, burung yang dipelihara mendapat perawatan intensif penuh kasih sayang dari pemiliknya. Namun, sisi negatifnya adalah potensi eksploitasi melalui penangkaran berlebihan atau perdagangan ilegal.
Hobi yang terus mengakar di tengah masyarakat ini juga berpotensi menimbulkan masalah sosial dan lingkungan. Untuk dampak lingkungan, semakin banyak penggemar kicau mania, perburuan liar burung kicau di alam bebas diperkirakan akan meningkat. Imbasnya, populasi burung di alam akan menurun signifikan karena berpindah ke sangkar-sangkar kecil di permukiman.
Sementara itu, dampak sosialnya meliputi munculnya kesenjangan status, tekanan ekonomi bagi penghobi yang memaksakan diri membeli burung mahal di tengah keterbatasan finansial, serta komodifikasi tradisi di mana nilai budaya berubah menjadi nilai ekonomi semata.
Kesimpulannya fenomena burung kicau bukan sekadar hobi biasa, melainkan praktik sosial kompleks yang melibatkan budaya, identitas, status, ekonomi, dan emosi.
Rakhmat menyimpulkan bahwa fenomena ini mencerminkan bagaimana manusia memberikan makna pada hewan sekaligus membangun posisi sosial mereka di masyarakat.
Waspada Dampak Kesehatan dari Kicau Mania
Di balik kesenangan yang ditawarkan suara khas burung kicau, Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Rumah Sakit (RS) Pondok Indah – Pondok Indah, Hikmat Pramukti, mengingatkan akan dampak kesehatan yang wajib diperhatikan. Burung menghasilkan debu organik yang berasal dari bulu, serpihan kulit atau dander, serta kotoran yang mengering.
Debu organik ini dapat terhirup dan memengaruhi saluran pernapasan.
Jelas Hikmat dalam keterangan tertulis yang diterima pada Kamis. Paparan jangka panjang terhadap debu burung dapat memicu gangguan pernapasan non-infeksi, seperti alergi, asma, hingga kondisi yang lebih serius seperti hypersensitivity pneumonitis, yang dikenal juga sebagai “bird fancier’s lung”.
Bird fancier’s lung adalah reaksi peradangan paru akibat respons imun terhadap protein burung. Selain itu, kebersihan kandang yang buruk dapat meningkatkan kadar amonia dan pertumbuhan mikroorganisme di udara, yang semakin menurunkan kualitas udara di dalam rumah.
Burung juga dapat membawa kuman penyebab penyakit yang dapat menjangkiti manusia atau zoonosis, seperti Chlamydia psittaci penyebab psittacosis, Salmonella, serta jamur seperti Histoplasma dan Cryptococcus. Untuk meminimalkan penularan penyakit dari burung, pecinta kicau mania wajib membersihkan kandang secara rutin. Saat membersihkan kotoran burung, disarankan untuk membasahinya dengan air terlebih dahulu agar tidak menjadi debu yang membahayakan.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
