— Layanan pengasuh anak dengan sistem per jam kini menjadi pilihan yang kian populer bagi orang tua di perkotaan. Tren ini menawarkan fleksibilitas yang dibutuhkan, memungkinkan orang tua untuk mencari bantuan hanya pada saat-saat tertentu, baik untuk keperluan pekerjaan, menghadiri acara, maupun sekadar meluangkan waktu pribadi.

Berbeda dengan pengasuh tetap yang menginap atau penitipan anak di daycare yang umumnya rutin, sistem harian ini memberikan keleluasaan bagi orang tua untuk menyesuaikan kebutuhan pengasuhan dengan jadwal dan kondisi mereka sehari-hari.

Safina (36), salah satu pengguna jasa baby sitter harian, menuturkan bahwa ia pertama kali mengetahui layanan ini melalui media sosial TikTok. Konten-konten yang menampilkan cerita pengasuh per jam membuatnya tertarik karena dianggap praktis dan tidak mengikat.

“Saya tahu jasa baby sitter harian justru dari TikTok. Waktu itu FYP saya sering muncul konten cerita pengasuh per jam buat nemenin anak saat mereka kerja atau me time sebentar,” ujarnya melalui pesan WhatsApp, Kamis (7/5/2026).

Menurut Safina, ia merasa kurang nyaman jika harus menggunakan jasa pengasuh yang menetap di rumah setiap hari karena dapat mengurangi ruang pribadinya. Sementara itu, daycare juga dinilai kurang cocok karena anaknya mudah sakit jika berada di lingkungan yang terlalu ramai. Oleh karena itu, sistem per jam menjadi solusi yang paling pas baginya.

Ia biasa memanfaatkan jasa pengasuh saat harus mengikuti rapat, berolahraga, atau sekadar keluar rumah untuk berbelanja dan menikmati waktu sendiri.

“Kedengarannya mungkin sepele, tapi buat ibu yang hampir setiap hari sama anak terus, punya waktu dua atau tiga jam buat diri sendiri itu cukup penting,” tuturnya.

Pertimbangan Biaya dan Rasa Aman

Selain fleksibilitas, faktor biaya juga menjadi pertimbangan utama dalam memilih jasa pengasuh harian. Safina merasa sistem per jam membuatnya lebih mudah mengontrol pengeluaran dibandingkan harus membayar pengasuh bulanan.

“Dengan tarif per jam saya bisa lebih mengontrol pengeluaran dibanding harus keluar biaya tetap tiap bulan untuk pengasuh,” katanya.

Dalam memilih pengasuh, Safina sangat mempertimbangkan kecocokan dengan anak serta rasa aman. Sebelum menggunakan jasa, ia biasanya melakukan panggilan video untuk melihat karakter calon pengasuh.

“Buat saya penting lihat cara bicaranya dan apakah orangnya terlihat sabar atau tidak,” ujarnya.

Ia juga memastikan pengasuh nyaman dengan kondisi rumah dan karakter anaknya yang aktif.

“Anak saya cukup aktif dan sensitif, jadi saya cari baby sitter yang bisa ngajak ngobrol dan bermain, bukan cuma duduk menjaga,” kata Safina.

Membantu Orangtua Tetap Fokus Bekerja

Pengalaman serupa dirasakan Erina (34), yang mulai menggunakan jasa baby sitter harian saat harus menjalani sistem kerja dari rumah atau work from home (WFH) sambil mengurus anak kecil. Menurut Erina, kehadiran pengasuh harian sangat membantu dirinya tetap fokus bekerja tanpa merasa anaknya terabaikan.

“Kehadiran baby sitter harian bikin saya bisa kerja lebih tenang tanpa merasa anak terabaikan. Walaupun cuma beberapa jam, itu cukup membantu,” katanya melalui pesan Instagram, Kamis.

Ia mengatakan, layanan pengasuh ini biasanya digunakan saat hendak mengikuti rapat daring, ada pekerjaan mendadak, atau saat menghadiri acara keluarga di akhir pekan.

“Kalau daycare kan anak harus dititip dari pagi sampai sore, sedangkan pengasuh tetap juga biayanya lebih besar dan harus ada ruang di rumah. Jadi sistem harian lebih cocok buat kondisi saya sekarang,” tutur dia.

Kepercayaan Jadi Pertimbangan Utama

Meskipun praktis, baik Safina maupun Erina mengaku tetap selektif dalam memilih pengasuh karena berkaitan langsung dengan keamanan dan kenyamanan anak. Erina mengatakan, dirinya lebih percaya menggunakan jasa yang berasal dari rekomendasi teman atau ulasan pengguna lain.

“Saat pertama datang saya juga lihat cara dia berinteraksi dengan anak. Selain itu saya biasanya tidak langsung meninggalkan anak terlalu lama di awal, supaya bisa lihat apakah anak nyaman atau tidak,” kata dia.

Ia juga menilai pengasuh bukanlah pengganti peran orang tua, melainkan bantuan tambahan di waktu-waktu tertentu.

“Pengasuh bagi saya lebih sebagai bantuan saat dibutuhkan, bukan yang sepenuhnya menggantikan peran orangtua sehari-hari,” ujar Erina.

Jasa Baby Sitter Harian Makin Diminati

Meningkatnya kebutuhan akan pengasuhan anak secara fleksibel turut membuka peluang bagi penyedia jasa baby sitter harian, yang kini semakin banyak bermunculan melalui media sosial.

Salah satunya adalah Siti Maryam (31), yang mulai bekerja sebagai pengasuh harian sejak September 2025. Ia memulai profesi ini setelah konten aktivitasnya menjaga pasien anak di rumah sakit viral di TikTok.

“Awalnya jagain pasien anak-anak saya up video di tiktok, dari video tersebut banyak yang tanya bisa enggak jagain anak-anak tapi bukan sakit, jadi dari situ orderan baby sitter mulai masuk,” ujarnya saat dihubungi, Kamis (7/5/2026).

Maryam menjelaskan, dalam sehari ia bisa berpindah hingga tiga lokasi dengan total jam kerja mencapai 10 jam. Tugas yang dilakukannya bervariasi, mulai dari menemani bermain, memberi makan, mengganti popok, hingga menidurkan anak sesuai kebutuhan keluarga.

Ia memilih layanan pengasuh harian karena dinilai lebih fleksibel dan masih memungkinkan dirinya mengurus anak sendiri di rumah.

“Karena waktunya fleksibel, saya juga ada anak di rumah, jadi pagi masih bisa antar anak sekolah, baru mulai job,” katanya.

Melalui akun media sosialnya, Maryam mematok tarif Rp 30.000 per jam agar tetap terjangkau bagi berbagai kalangan. Menurutnya, permintaan jasa paling ramai terjadi saat akhir pekan.

Weekend paling ramai, bisa full dari habis subuh sampai tengah malam,” ujarnya.

Maryam menilai kepercayaan adalah hal utama dalam pekerjaan ini. Ia berusaha membuat anak-anak merasa nyaman meskipun baru pertama kali bertemu.

“Utamanya jujur, layani anak-anak mereka seperti anak sendiri, dijaga dengan sepenuh hati, buat anak-anak merasa nyaman di dekat saya,” katanya.

Fleksibilitas Jadi Alasan Utama

Kisah serupa juga dialami Rania (27) yang telah menjadi baby sitter harian selama dua tahun terakhir. Awalnya, ia hanya membantu menjaga keponakan dan anak tetangga sebelum akhirnya menerima jasa pengasuhan berbayar.

Menurutnya, kebutuhan pengasuh per jam semakin meningkat, terutama di kalangan orang tua muda yang bekerja secara hybrid atau membutuhkan bantuan sementara.

“Dari situ ternyata banyak yang butuh, apalagi ibu-ibu muda yang kerja hybrid atau mau ada acara sebentar tapi enggak punya orang buat nitip anak,” ujarnya.

Dalam sehari, Rania bisa menerima dua hingga tiga keluarga dengan durasi pengasuhan sekitar tiga sampai enam jam. Ia menilai sistem baby sitter harian lebih diminati karena dianggap lebih fleksibel dan tidak mengikat seperti daycare maupun pengasuh tetap.

“Kalau daycare kan harus harian atau bulanan. Sedangkan baby sitter per jam dipakai saat butuh saja,” kata dia.

Selain menemani bermain dan memberi makan, beberapa orang tua juga meminta Rania membantu mengurangi penggunaan gadget pada anak.

“Ada juga yang minta saya ngajak anak aktivitas biar enggak terlalu main gadget. Jadi kadang saya ajak gambar, baca buku, atau jalan sebentar di sekitar rumah,” tuturnya.

Meskipun demikian, ia mengaku pekerjaan tersebut memiliki tantangan tersendiri, terutama saat menghadapi anak yang tantrum atau sulit beradaptasi dengan orang baru.

“Tantangan paling susah biasanya kalau anak tiba-tiba tantrum sementara orangtuanya lagi enggak bisa diganggu. Kita harus cepat bikin anak tenang padahal baru kenal,” ujar Rania.

Pengasuhan yang Dipandang Sebagai Layanan Profesional

Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, melihat bahwa meningkatnya penggunaan jasa baby sitter harian menunjukkan adanya perubahan cara pandang masyarakat perkotaan terhadap pola pengasuhan anak. Menurutnya, layanan pengasuhan kini tidak lagi hanya bergantung pada bantuan keluarga, tetapi mulai dipandang sebagai jasa profesional yang dapat digunakan sesuai kebutuhan.

Ia menjelaskan, kesibukan kerja orang tua serta minimnya dukungan dari keluarga besar membuat banyak pasangan memilih bantuan pengasuh yang lebih fleksibel.

“Nah tersibukan kerja itu ditambah minimnya bantuan keluarga membuat jasa baby sitter harian menjadi alternatif yang dianggap paling realistis dan cepat,” ujarnya melalui pesan WhatsApp, Jumat (8/8/2026).

Selain dianggap praktis, baby sitter harian juga dinilai memberikan rasa nyaman karena anak tetap berada di rumah dengan lingkungan yang sudah familiar.

“Anak bisa tetap berada di rumah dengan lingkungan yang lebih familiar sehingga orang tua merasa lebih tenang lebih nyaman,” kata dia.

Meski demikian, Rakhmat menilai hubungan antara orang tua dan pengasuh tetap memiliki tantangan, terutama dalam membangun rasa percaya dalam waktu singkat.

“Kepercayaan tidak lagi hanya berasal dari hubungan keluarga atau kedekatan sosial tetapi juga dari sistem kerja dan reputasi,” ujar dia.