— Firasat tak enak menghantui Gusti Pulungan (66) selama sepekan terakhir. Kegundahan itu akhirnya terjawab pilu saat ia menerima kabar duka: putra sulungnya, Zulham Efendi alias Maleh (42), seorang sopir cadangan bus ALS, menjadi korban kecelakaan tragis.

Gusti, warga Bogor, Jawa Barat, mengaku terus teringat Maleh, panggilan akrab putranya, tanpa tahu alasannya. Maleh sendiri telah belasan tahun menetap di Medan setelah menikah, bekerja sebagai kernet hingga menjadi sopir cadangan bus ALS rute Semarang-Medan.

“Nggak tau juga saya kenapa, seminggu ini ingat Maleh terus. Biasanya nggak, ini lagi makan keinget, pas tidur juga kebawa mimpi,” kata Gusti saat ditemui di tenda posko keluarga korban kecelakaan bus ALS di Rumah Sakit Bhayangkara Palembang, Jumat (8/5/2026).

Pada Rabu (6/5/2026), Gusti menerima kabar dari keluarganya di Lampung bahwa bus ALS yang ditumpangi Maleh mengalami kecelakaan di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Kabar itu sontak meruntuhkan hatinya.

Rasa gundah yang menyelimuti Gusti selama ini pun terjawab sudah. Ia dan istrinya tak kuasa menahan tangis, mengingat Maleh sebagai tulang punggung keluarga yang menghidupi dua anaknya di Medan.

“Anaknya dua, kami sudah tiga tahun tidak komunikasi karena Maleh nggak ada HP. Dapat kabar langsung seperti ini,” ujar Gusti dengan suara lirih.

Kisah Tanggung Jawab dan Kenangan Terakhir

Gusti mengenang putra sulungnya sebagai sosok yang bertanggung jawab. Sejak lulus SMA, Maleh telah merantau dan melalang buana mencari kerja. Ia kemudian diterima bekerja sebagai kru bus ALS rute Semarang-Medan, hingga akhirnya menikah dan dikaruniai sepasang anak.

Pertemuan terakhir Gusti dengan Maleh terjadi tiga tahun lalu. “Kalau ketemu tiga tahun lalu, Maleh kebetulan lagi ada di Bogor jadi ketemu di rumah makan dan makan bareng, itulah kenangan terakhir saya,” ujarnya.

Menanti Proses Identifikasi

Saat ini, Gusti telah tiba di Palembang pada pukul 07.00 WIB, menempuh perjalanan darat dari Bogor diantar keluarganya. Sampel DNA berupa urine dan air liurnya telah diambil oleh tim DVI untuk proses identifikasi 16 jenazah korban kecelakaan bus ALS.

Ia berharap proses identifikasi dapat segera rampung agar jenazah Maleh bisa segera dimakamkan di Medan. “Tadi sudah diambil sampel, tinggal menunggu saja. Tapi katanya bisa sampai dua minggu,” jelas Gusti, menanti dengan sabar dan penuh harap.