PPGKEMENAG.ID — Bulan Mei selalu menyuguhkan nuansa berbeda di Kota Surabaya, Jawa Timur. Menjelang peringatan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733 pada 31 Mei mendatang, denyut perayaan mulai terasa di setiap sudut kota. Salah satu tradisi yang paling dinantikan masyarakat adalah Festival Rujak Uleg, sebuah perhelatan yang telah tumbuh menjadi simbol kebersamaan, ruang budaya, sekaligus wajah khas Kota Pahlawan.
Di tengah modernisasi yang terus bergerak cepat, Festival Rujak Uleg tetap bertahan sebagai tradisi yang menghubungkan rasa, sejarah, dan identitas masyarakat Surabaya. Agenda ini telah menjadi rutinitas Pemerintah Kota Surabaya sejak tahun 2004 dan terus berkembang hingga kini. Awalnya dikenal sebagai perayaan kuliner khas daerah, festival ini perlahan bertransformasi menjadi salah satu acara budaya terbesar di Surabaya.
Rujak cingur dipilih bukan tanpa alasan. Kuliner ini memiliki karakter unik dengan perpaduan buah, sayur, petis, dan cingur sapi yang jarang ditemukan di daerah lain. Di balik cita rasanya, tersimpan filosofi tentang keberagaman masyarakat Surabaya yang hidup berdampingan dalam harmoni. Nilai kebersamaan itu terasa nyata saat festival berlangsung, di mana ribuan orang dari berbagai latar belakang berkumpul, menguleg rujak bersama, menikmati makanan yang sama, dan berbagi ruang tanpa sekat.
Cobek Raksasa dan Semangat Kebersamaan
Salah satu momen paling ikonik dalam Festival Rujak Uleg adalah prosesi menguleg rujak massal menggunakan cobek batu raksasa berdiameter sekitar 2,5 meter. Prosesi ini selalu menjadi pusat perhatian pengunjung. Di atas panggung utama, tamu VIP bersama peserta festival menguleg bumbu rujak secara bersama-sama dengan iringan musik tradisional yang menambah kemeriahan suasana.
Tidak hanya itu, ratusan peserta juga tampil dengan kostum unik dan kreatif yang menggambarkan keberagaman budaya Surabaya. Setelah proses penjurian selesai, rujak hasil olahan peserta dibagikan secara gratis kepada masyarakat. Tradisi sederhana ini justru menjadi simbol kuat tentang berbagi dan kebersamaan, menjadikan festival ini bukan hanya tontonan, tetapi pengalaman yang bisa dirasakan langsung oleh warga.
Bertahan dari Masa Sulit hingga Mendunia
Perjalanan Festival Rujak Uleg tidak selalu mulus. Pada tahun 2018, festival ini sempat dibatalkan akibat insiden pengeboman di Surabaya yang terjadi hanya beberapa jam sebelum acara dimulai. Namun, tradisi tersebut tidak berhenti dan justru terus tumbuh, menjadi salah satu identitas budaya paling kuat di Kota Surabaya.
Kini, festival ini masuk dalam daftar 110 Kharisma Event Nusantara (KEN) 2025 dari Kementerian Pariwisata RI. Selain itu, rujak cingur juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kemendikbudristek pada tahun 2021. Festival ini bahkan pernah mencatatkan rekor MURI pada tahun 2019 untuk kategori cobek batu terbesar dan aksi menguleg rujak massal terbanyak di Indonesia.
Rujak Uleg: Penggerak Ekonomi Kreatif
Di balik kemeriahannya, Festival Rujak Uleg juga memberikan dampak nyata terhadap ekonomi masyarakat. Puluhan booth UMKM hadir memeriahkan festival, mulai dari kuliner, kriya, hingga produk kreatif khas Surabaya. Ribuan pengunjung yang datang turut menggerakkan sektor pariwisata, perhotelan, dan usaha kecil menengah.
Pemerintah Kota Surabaya menargetkan festival ini terus berkembang menjadi agenda wisata unggulan yang mampu menarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Pada tahun 2026, Festival Rujak Uleg akan hadir dengan konsep baru bertajuk “Rujak Pestaphoria” yang terinspirasi dari semangat Piala Dunia 2026.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya, Herry Purwadi, menyampaikan bahwa festival tahun ini akan menghadirkan nuansa sport fashion dengan kreativitas busana dari berbagai negara dan daerah.
Dengan penguatan tema melalui konsep sport fashion yang menampilkan kreativitas busana dari berbagai negara dan daerah.
Festival tersebut akan digelar di Surabaya Expo Center (SBEC) pada Sabtu, 9 Mei 2026, sebagai pembuka rangkaian Hari Jadi Kota Surabaya ke-733.
Berharap rangkaian HJKS tahun ini menjadi momentum bersama yang memberikan dampak luas bagi masyarakat Surabaya.
Demikian pungkas Herry Purwadi.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
