PPGKEMENAG.ID — Alergi susu sapi menjadi salah satu masalah kesehatan yang sering dialami anak-anak di Indonesia. Dokter spesialis anak RS UNS, Aisya Fikritama Aditya, mengungkapkan bahwa angka kejadian alergi ini tergolong tinggi, mencapai 7,5 persen pada bayi. Kondisi ini memicu berbagai gejala klinis yang perlu diwaspadai orang tua.
Lantas, apa sebenarnya pemicu alergi susu sapi pada anak dan bagaimana gejalanya bermanifestasi?
[video.1]Penyebab Alergi Susu Sapi pada Anak
Aisya menjelaskan, alergi susu pada anak umumnya berkaitan erat dengan respons sistem imun tubuh. “Alergi susu pada anak umumnya terjadi karena sistem imun tubuh mengenali protein dalam susu sapi sebagai ‘zat asing’ yang dianggap berbahaya,” kata Aisya.
Ia menegaskan, pemicu alergi bukanlah kandungan gula susu atau laktosa, melainkan protein seperti kasein dan whey. Ketika protein ini masuk ke tubuh anak, sistem imun akan bereaksi berlebihan, memunculkan berbagai gejala alergi.
“Gejala alergi ini pada dasarnya merupakan bentuk respons pertahanan tubuh yang berlebihan,” tambah Aisya.
Respons imun yang berlebihan ini menyebabkan anak mengalami keluhan kesehatan dan munculnya beragam gejala. Menurut Aisya, gejala merupakan kombinasi dari reaksi imun dan dampaknya pada organ tubuh tertentu.
“Reaksi dapat muncul pada kulit, saluran cerna, maupun saluran napas,” jelasnya.
Oleh karena itu, orang tua diimbau untuk tidak memberikan produk susu sapi beserta turunannya kepada anak yang alergi. Jika ibu masih menyusui, penting pula bagi ibu untuk menghindari konsumsi produk susu sapi.
Gejala Alergi Susu Sapi yang Umum Ditemukan
Gejala alergi susu sapi pada anak-anak dapat bervariasi, namun beberapa yang sering ditemukan meliputi:
- Ruam merah atau eksim
- Kulit gatal dan bentol
- Muntah
- Diare
- Buang air besar (BAB) berlendir atau berdarah
- Perut kembung dan kolik
- Batuk
- Pilek
- Mengi
- Sesak napas atau anafilaksis pada kasus berat.
[img.2]Waktu Kemunculan dan Sifat Permanen Alergi
Aisya menjelaskan, gejala alergi susu sapi paling sering terdeteksi pada masa bayi, terutama saat anak mulai terpapar susu formula berbahan dasar susu sapi atau produk olahannya.
“Pada beberapa anak, gejala dapat timbul cepat dalam hitungan menit sampai jam, tetapi pada sebagian lain bisa muncul lebih lambat, bahkan beberapa hari setelah konsumsi susu,” ungkap Aisya.
Ia menegaskan bahwa alergi susu sapi pada anak tidak selalu bersifat permanen. Sebagian besar anak akan menunjukkan perbaikan seiring bertambahnya usia, seiring dengan kematangan sistem imun dan saluran pencernaannya.
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa banyak anak mulai toleran terhadap susu sapi saat memasuki usia balita hingga awal usia sekolah.
“Namun pada sebagian kecil anak, alergi bisa menetap lebih lama, terutama bila reaksinya berat atau disertai riwayat alergi lain,” kata Aisya.
Alternatif Susu untuk Anak Alergi Sapi
Untuk mengatasi alergi susu sapi, Aisya menerangkan bahwa dokter anak akan merekomendasikan susu khusus, yaitu Extensively Hydrolyzed Formula (EHF).
“Protein susu sapi dipecah menjadi sangat kecil sehingga lebih mudah diterima oleh pencernaan anak dan risiko alerginya jauh berkurang,” jelasnya.
Susu EHF ini direkomendasikan untuk anak dengan gejala alergi ringan hingga sedang. Apabila gejala memberat atau tidak membaik dengan EHF, dokter akan menyarankan Amino Acid Formula (AAF).
“Ini adalah formula dengan protein dalam bentuk paling sederhana,” tutur Aisya.
Ia menekankan bahwa susu medis ini terbukti efektif mengatasi gejala alergi susu sapi dan mendukung pertumbuhan optimal anak. Namun, Aisya mengingatkan bahwa penggunaan susu medis harus berdasarkan indikasi dan resep dokter.
Selain itu, susu soya juga dapat menjadi alternatif bagi anak dengan alergi protein susu sapi ringan dan sedang.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
