PPGKEMENAG.ID — Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mengejutkan mengumumkan penghentian sementara “Project Freedom”, operasi pengawalan kapal-kapal komersial di kawasan Teluk, hanya sehari setelah program tersebut diberlakukan. Trump mengklaim keputusan itu diambil karena Washington “hampir mencapai kesepakatan dengan Iran”. Namun, laporan dari NBC News mengungkap alasan sebenarnya di balik penundaan operasi militer tersebut, yang berkaitan erat dengan penolakan Arab Saudi.
Menurut NBC News, Trump mengejutkan sekutu-sekutunya di kawasan Teluk ketika mengumumkan “Project Freedom” melalui media sosial pada Minggu (3/5/2026) sore. Bahkan, ia disebut baru berkomunikasi dengan para pemimpin Qatar setelah operasi tersebut sudah berjalan.
Penolakan Saudi Gagalkan Operasi AS
Sebagai respons atas pengumuman mendadak itu, Arab Saudi dikabarkan memberi tahu Amerika Serikat bahwa mereka tidak mengizinkan pesawat militer Amerika beroperasi dari Pangkalan Udara Prince Sultan di tenggara Riyadh, maupun melintas di wilayah udara Saudi untuk mendukung operasi pengawalan tersebut. Situasi ini memicu percakapan telepon antara Trump dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman untuk mencari solusi, namun pembicaraan itu dilaporkan gagal mencapai kesepakatan.
Kondisi tersebut akhirnya memaksa Trump menghentikan “Project Freedom” demi memulihkan akses militer AS ke wilayah udara yang sangat penting di kawasan Teluk. Seorang pejabat Saudi yang berbicara kepada NPR dengan syarat anonim mengungkapkan bahwa kerajaan tidak dilibatkan sebelum operasi dimulai.
“Kami mengatakan kepada mereka bahwa kami bukan bagian dari ini dan mereka tidak bisa menggunakan wilayah dan pangkalan kami untuk ini,” kata pejabat tersebut.
Pejabat yang sama juga menyatakan bahwa Riyadh mengirim pesan kepada Iran. Pesan itu menegaskan bahwa Arab Saudi tidak akan terlibat dalam serangan AS yang berkaitan dengan upaya Trump membuka kembali Selat Hormuz.
Selain itu, Arab Saudi juga menunjukkan dukungan kuat terhadap upaya diplomatik Pakistan untuk menengahi kesepakatan antara Iran dan AS demi mengakhiri konflik yang memanas di kawasan tersebut.
Singkatnya “Project Freedom” dan Ketegangan yang Berlanjut
Operasi “Project Freedom” dihentikan Trump pada Selasa (5/5/2026) waktu setempat, dua hari setelah diumumkan. Selama periode singkat tersebut, hanya dua kapal dagang berbendera Amerika yang diketahui melintasi jalur yang dikawal AS. Militer AS juga melaporkan telah menenggelamkan enam kapal kecil Iran yang dianggap mengancam kapal sipil di kawasan tersebut.
Sementara itu, negosiasi damai yang diklaim Trump “hampir mencapai kesepakatan” justru tampak masih alot. Iran dilaporkan masih berusaha keras mempertahankan kemampuan nuklirnya, sementara Amerika Serikat menginginkan sebaliknya. Ketegangan semakin meningkat setelah Trump kembali melontarkan ancaman. Ia menyatakan akan menyerang Iran dengan “serangan sangat keras” jika Teheran tak kunjung mencapai kesepakatan.
Ikuti PPGKEMENAG.ID
