— Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) antara pemimpin China, Xi Jinping, dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang dijadwalkan pada 14-15 Mei 2026, akan menjadi panggung diplomasi krusial bagi Beijing. Pertemuan yang sempat tertunda akibat perang Iran ini diprediksi akan menjadi ajang China mengincar tiga hal utama di tengah isu-isu sensitif yang memanaskan meja perundingan, mulai dari perang dagang, Iran, hingga logam tanah jarang.

Dilansir dari AFP pada Jumat (8/5/2026), berikut adalah potensi tiga incaran utama China dalam pertemuan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia ini.

Pemulihan Hubungan yang Realistis

Di balik pernyataan resmi dan basa-basi diplomatik, Beijing disebut akan mengincar hasil yang kecil namun nyata dari lawatan Trump. Para analis menilai, China akan tetap bersikap realistis dan pragmatis, terutama mengingat gaya politik Trump yang sulit diprediksi.

China sebenarnya menginginkan pemulihan hubungan dalam skala luas dengan AS, tetapi Beijing menyadari hal itu sulit tercapai dalam waktu dekat.

“China sebenarnya menginginkan pemulihan hubungan dalam skala luas dengan AS, tetapi Beijing menyadari sulit tercapai dalam waktu dekat,” kata Benjamin Ho dari Sekolah Studi Internasional S Rajaratnam, Singapura.

Hubungan Beijing-Washington masih dibayangi perang dagang sengit, dengan bea masuk AS atas banyak barang China sempat mencapai angka sangat tinggi, yakni 145 persen. Eskalasi balasan tarif itu mereda setelah Trump dan Xi menyepakati penghentian sementara perang dagang selama satu tahun pada Oktober 2025. Menurut para ahli, tujuan dasar Beijing dalam pertemuan mendatang adalah memperpanjang kesepakatan tersebut.

“Yang China butuhkan adalah Trump menepati janjinya untuk berdialog, setidaknya dengan beberapa hasil konkret yang dibahas di tingkat tertinggi,” kata Yue Su dari Economist Intelligence Unit (EIU).

Su menjelaskan, Beijing akan cukup puas jika pertemuan itu menghasilkan capaian yang pasti, seperti pengurangan tarif secara terbatas. Hasil semacam itu dapat menjadi dasar bagi China untuk mengurangi tarif atau pembatasan ekspornya sendiri secara bertahap.

Menghindari Komplikasi Isu Iran

Isu perang Iran diperkirakan akan sulit dihindari dalam KTT Trump-Xi. Meski begitu, para ahli menilai isu tersebut bukan bidang yang ingin dibahas China secara mendalam.

“AS sudah meningkatkan tekanan sebelum KTT terhadap China, dengan menargetkan hubungan ekonominya dengan Teheran,” kata Lizzi Lee dari Asia Society Policy Institute.

Trump sebelumnya memperingatkan, ia akan mengenakan tarif 50 persen pada barang-barang China jika Beijing memberikan bantuan militer kepada Teheran. China merupakan mitra dekat Iran, dan menyebut serangan AS-Israel terhadap negara itu sebagai tindakan ilegal. Namun, Beijing juga mengkritik serangan Iran terhadap negara-negara Teluk dan menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Su memaparkan, China tidak akan menerima tekanan AS untuk mengambil tindakan terhadap Iran atau Rusia. Menurut dia, China mungkin memiliki pengaruh, tetapi bukan kendali yang menentukan terhadap kedua negara tersebut. Beijing juga disebut akan berupaya menghindari komplikasi tambahan, termasuk kemungkinan tarif baru AS yang dikaitkan dengan perdagangan China bersama Iran.

Su menilai, hal itu dapat memperumit hubungan Beijing dan Washington yang sudah kompleks. Sementara menurut Lee, perang Iran akan menambah tekanan lainnya, sebab medan negosiasi utama antara “Negeri Paman Sam” dan “Negeri Panda” tetap berada pada isu perdagangan dan investasi.

Logam Tanah Jarang: Kartu As China

Salah satu kartu as China dalam negosiasi dengan Amerika adalah tanah jarang, logam yang sangat penting dalam produksi berbagai barang, mulai dari ponsel pintar (smartphone) hingga mobil listrik. Dominasi China dalam industri logam tanah jarang mencakup cadangan alam, penambangan, pengolahan, hingga inovasi. Posisi tersebut merupakan hasil jerih payah selama puluhan tahun.

Su menilai, logam tanah jarang tetap menjadi alat terkuat China jika Beijing membutuhkan konsesi signifikan dari AS. Trump sendiri sudah menunjukkan minat sangat besar terhadap logam tanah jarang.

“Saya pikir itu sesuatu yang AS sebenarnya tidak punya jawaban,” kata Joe Mazur, analis geopolitik di perusahaan konsultan Trivium China yang berbasis di Beijing.

Mazur memperkirakan, China akan mengincar “kemenangan cepat” sebelum kunjungan Trump berlangsung, seperti pembelian lebih banyak produk pertanian Amerika atau jet Boeing. Menurut Mazur, China mungkin berharap langkah tersebut akan menempatkan Trump dan timnya dalam kerangka berpikir positif sebelum membahas isu-isu yang lebih kompleks dan rumit.

Penguatan Posisi China

China dalam beberapa waktu terakhir melakukan diversifikasi perdagangan ke Asia Tenggara dan negara-negara berkembang. Lee menuturkan, Beijing juga memperkuat hubungan regional dan mempertajam perangkat hukum serta regulasinya. Menurut dia, China kini memiliki strategi yang berpotensi meluas cakupannya, seperti pemblokiran akuisisi perusahaan AI (kecerdasan buatan) Manus oleh raksasa teknologi Meta baru-baru ini.

Namun, Mazur mengatakan, banyak langkah tersebut sudah dimulai sebelum masa jabatan kedua Trump, antara lain diversifikasi impor energi, dorongan menuju elektrifikasi, dan swasembada teknologi.

“Jika pertemuan berjalan sangat baik, itu tidak akan mengubah arah yang sedang ditempuh China,” katanya.

“Dorongan untuk melindungi ekonomi China dari pengaruh Amerika akan terus berlanjut, apa pun yang terjadi.”

Beijing Percaya Diri, Namun Tetap Hati-Hati

Lee menilai, Beijing akan memasuki pembicaraan dengan sikap percaya diri, tetapi hati-hati. China percaya dapat meredam tekanan dengan lebih baik dibanding sebelumnya. Beijing juga dinilai lebih nyaman memainkan “permainan jangka panjang” dibanding Trump, yang menghadapi tekanan pemilihan paruh waktu pada November 2026.

Di sisi lain, kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Beijing juga sedang digodok. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, yang bertemu Xi pada April, mengatakan bahwa kunjungan itu akan terjadi pada paruh pertama tahun ini.

Mazur menilai, kunjungan beruntun Trump dan Putin ke Beijing akan membawa pesan politik tersendiri.

“Hanya karena dia (Xi) mengadakan pertemuan yang baik dengan Trump, bukan berarti dukungan China untuk Rusia akan hilang. Hubungan itu sangat kokoh,” kata Mazur kepada AFP.